Monday, November 28, 2022

Rubra: Spesies yang Hilang

Rekomendasi

Adalah International Union for Nature and Natural Resources (IUCN)-badan konservasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)-yang menyebutkan B. rubra sangat jarang ditemukan di habitat aslinya. Meski tidak termasuk kategori red list-satwa paling dilindungi-penemuan itu menjadi sorotan pencinta cupang dunia. ‘Entah mengapa cupang itu bisa berada di sana,’ ujar Mulyadi.

Sejatinya cupang yang ditemukan bersama rasbora dan channa itu hanya hidup di selokan-selokan kecil atau anak sungai kecil di Danau Toba, Sumatera Utara. Mulyadi menduga bencana tsunami yang dahulu pernah menerjang pesisir Sumatera Utara menjadi jalan migrasi B. rubra itu hingga ke Aceh Barat. ‘Kondisi habitat saat ditemukan airnya berwarna gelap dan tertutup dedaunan,’ tambahnya.

Bagi Andi Suranta Ginting, B. rubra itu sangat menarik. ‘Coraknya sungguh menggoda,’ kata hobiis di Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Timur, itu. Menurut ayah 4 putera itu jantan B. rubra coraknya cokelat kemerahan dengan semburat kehitaman; betina kekuningan. ‘Dari pengalaman memelihara, jenis itu termasuk ikan setia pada pasangannya,’ ujarnya.

Patoti

Soal perawatan? B. rubra mudah dipelihara. Pemilik Betta de Java itu memelihara 30 pasang B. rubra dalam akuarium berukuran 150 cm. Saat panjang tubuh mencapai 2-2,5 cm, B. rubra mulai mencari pasangan. Saat itu corak warna cerah pada jantan dan betina muncul. Cupang yang termasuk mouth brooder-menyimpan telur dalam mulut-itu mampu menghasilkan 25 burayak setelah 22 hari mengerami telur.

Menurut Adi B. rubra tak pilih-pilih pakan. Pemberian bloodworm seminggu sekali cukup memasok protein. Sumber kalsium berasal dari jentik nyamuk. ‘Untuk sumber lemak berasal dari cacing sutera yang diberikan seminggu sekali,’ katanya.

Di luar B. rubra, cupang alam Indonesia lainnya adalah B. patoti, B. channoides, B. unimaculata, dan B. ocellata. B. patoti misalnya. Jenis yang ditemukan 10 tahun lalu di Samarinda dan Balikpapan itu bercorak unik bak ketumpahan cat dengan garis hitam dan putih di sekujur tubuh. Jenis itu menyukai kondisi lingkungan bersuhu 23-26ºC dengan pH 5-6,5.

Karena cantik, Hermanus J. Haryanto kepincut mengoleksi sepasang patoti pada 2004. Ikan itu diperoleh pemilik Betta 4over di Jakarta Barat dari Sungai Sebuku, Kalimantan Timur. Menurutnya B. patoti termasuk mouth brooder yang gemar loncat dari akuarium. Oleh sebab itu di atas akuarium perlu ada penutup. ‘Sepasang B. patoti bisa berharga U$Sin70/pasang setara Rp385.000/pasang,’ kata Hermanus.

54 jenis

Yang tak kalah unik B. channoides. Sekilas penampilannya mirip B. albimarginata. Itu tampak dari warna kecokelatan di tubuh. Ekor, sirip bawah, dan sedikit di sirip atas bak dibordir garis putih. Cupang yang kerap disebut snakehead fighter itu mouth brooder dan dapat mencapai panjang tubuh 12 cm.

Anggota kelas Actinopterygii itu bertemperamen tenang. Itu membuatnya mudah beradaptasi dengan jenis cupang alam lain saat disatukan dalam akuarium. Yang penting suhu dijaga pada kisaran 24-26ºC dan pH 6,5-7,5. Saat kondisi mikro itu terjaga, B. channoides dapat berpijah dan menghasilkan 25-30 burayak.

Jenis lain yang diincar kolektor mancanegara adalah B. ocellata. Jenis ini ditemukan di Kalimantan Timur, terutama Sungai Sebuku. Cupang yang pertama kali ditemukan pada 1933 itu termasuk ikan agresif, terutama sang jantan. Saat dewasa, jantan yang mencapai panjang tubuh 12 cm itu kerap saling menyerang dengan sesamanya. Itu berbeda dengan betina yang lebih tenang. Cupang alam itu menyukai suhu 25°C dan pH 6,5-7,5. Layaknya B. patoti, B. ocellata gemar melompat sehingga bagian atas akuarium harus berpenutup.

Lain lagi dengan B. unimaculata. Jenis ini banyak ditemukan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Lantaran terdapat bulatan di dekat ekor B. unimaculata disebut one spot mouth brooder. Tubuhnya mencapai panjang 15 cm. Saat dipelihara, bagian atas akuarium harus tertutup. Musababnya, B. unimaculata memiliki daya loncat yang tinggi.

Keempat jenis itu baru contoh cupang alam di perairan Indonesia. ‘Dari 54 jenis cupang alam yang terbagi dalam 13 kelompok besar, 36 jenis di antaranya ada di sini,’ ucap Adi. Di Yogyakarta, Bogor, dan Bandung ada B. picta. Namun sumber utama, tetap Sumatera dan Kalimantan. Di sana tersebar antara lain B. lehi, B. rutilans, B. enisae, dan B. breviobesus. Semua itu menggambarkan kekayaan cupang alam Indonesia. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Andretha Helmina)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img