Monday, November 28, 2022

Susuri Taman Kuno Negeri Sakura

Rekomendasi

Itulah pemandangan di Imperial Palace East Garden di Tokyo. Taman di kawasan istana kaisar itu ditempuh melewati Jalan Ginza ke arah timur. Lokasi taman dicapai sekitar 20 menit dari stasiun kereta Higashi Ginza, Tokyo, bila ditempuh dengan berjalan kaki. Trubus mengunjungi taman itu pada November 2007. ‘Taman ini salah satu taman favorit yang sering dikunjungi warga Tokyo,’ ujar Yoshihiko Kimura, pemandu Trubus di Tokyo.

Imperial Palace East Garden dahulunya kawasan pertahanan istana Edo. Sejak 1968, kawasan itu dibuka untuk umum. Memasuki area taman bisa melalui 3 pintu utama: Otemon, Hirakawamon, dan Kitahanebashimon. Biasanya pengunjung melewati pintu Otemon karena dekat dari stasiun kereta.

Segerombolan anak-anak sekolah dasar tampak beriringan mengikuti langkah seorang pemandu. Imperial Palace East Garden memang kerap menjadi tujuan wisata pendidikan bagi siswa Jepang. Maklum, taman itu tak hanya menyuguhkan suasana asri, tetapi juga memiliki nilai sejarah.

Di sanalah keluarga kaisar Jepang menetap. Mereka tinggal di dalam istana yang dibangun di bagian tengah kawasan seluas 21 hektar itu. Di sekeliling istana terdapat parit yang lebarnya 20 m. Angsa-angsa putih berkeliaran di permukaan parit.

Dari area taman menuju istana terdapat jembatan Nijubashi. Jembatan itu hanya dibuka untuk pengunjung pada 2 Januari, ketika tahun baru, dan 23 Desember, hari ulang tahun kaisar. Pada kedua perayaan itulah warga Jepang diizinkan memasuki kompleks istana utama untuk bertemu dengan kaisar.

Perjalanan Trubus berlanjut ke kota Kyoto. ‘Kyoto itu Yogya-nya Jepang,’ kata Ronny Wijaya, salah seorang staf pengajar di Departemen Kehutanan Universitas Tokyo. Di sana terdapat ratusan kuil peninggalan masa kekaisaran Jepang sewaktu Kyoto menjadi ibukota. Pada awal abad ke-17, ibukota dipindahkan ke Edo yang kini dikenal Tokyo. Kekayaan sejarah itu hingga kini tetap lestari. Oleh sebab itu, bila ingin menikmati keindahan taman-taman Jepang kuno, Kyoto adalah surganya. Salah satu taman yang terkenal berada di kuil Rokuon-ji di daerah Kitaku. Kuil itu ditempuh sekitar 1 jam dari Osaka dengan kereta listrik.

Suasana di area kuil itu begitu ramai. Memasuki pintu gerbang kuil pengunjung disambut warna-warni daun maple jepang: hijau, kuning, dan merah. Saat Trubus berkunjung, Jepang tengah dilanda musim gugur, waktu yang tepat untuk menyaksikan keindahan pohon maple.

Di samping kanan jalan sebelum pintu masuk terdapat kompleks tempat tinggal para pendeta. Di depan salah satu bangunan tampak pinus jepang berukuran 4 kali tinggi orang dewasa. Pohon itu berbentuk perahu. Menurut Kobayashi, pinus itu berumur 600 tahun lebih. Dulunya pohon itu bonsai kesayangan Yoshemitsu, shogun ke-3 Ashikaga, yang menetap di kuil itu. Setelah ia meninggal, bonsai itu ditanam di tanah sehingga tumbuh meraksasa.

Kobayashi menuturkan, kuil Rokuon-ji disebut-sebut memiliki taman terindah. Di dalam kawasan kuil terdapat Kinkaku, kuil utama yang berdinding dan beratap emas. Itulah sebabnya Golden Pavilion-sebutan lain kuil itu-ditetapkan sebagai World Cultural Heritage pada 1994.

Shariden-sebutan lain kuil emas-dibangun Yoshemitsu pada 1394. Istana itu dijadikan pusat pemerintahan hingga Yoshemitsu meninggal pada 1409. Setelah itu Kinkaku dijadikan kuil dengan nama Rokuon-ji. Kuil emas berada di tengah Kyoko-Chi alias kolam cermin. Disebut demikian karena air kolam itu begitu tenang sehingga memantulkan bayangan kuil emas dengan sempurna. Kuil emas itu terdiri atas 3 lantai.

Di tengah kolam Kyoko-Chi terdapat pulau Ashihara. Pulau itu terbuat dari gundukan tanah yang pinggirnya dipasang batu. Pulau kecil itu ditanami cemara udang setinggi 2-3 m. Menurut Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, kepala Departemen Arsitektur Lansekap Institut Pertanian Bogor, kombinasi kolam dan miniatur pulau merupakan ciri khas taman-taman jepang. ‘Kolam mewakili elemen air di alam,’ ujarnya. Di dalam kolam dibudidayakan ikan koi.

Keindahan taman-taman kuno Jepang juga dapat disaksikan di kuil Nanzenji. Lokasi kuil di tenggara kuil Rokuon-ji, ditempuh sekitar 30 menit dengan mobil. Kuil di pegunungan bagian selatan Kyoto itu merupakan kuil Zen paling terkenal dan terpenting di dunia.

Pintu gerbang kuil ini begitu megah. Tingginya setara gedung 3 lantai. Tiang-tiang Sanmon Gate-nama pintu gerbang itu-terbuat dari kayu besi gelondongan berukuran sepelukan orang dewasa. Kayu-kayu itu disusun dan disatukan tanpa menggunakan paku. Pintu gerbang kuil itu salah satu dari 3 pintu gerbang terbesar di Jepang. Kuil Nanzenji berjarak sekitar 500 m dari pintu gerbang. Kuil itu dibangun pada 1264.

Pengunjung yang memasuki kuil Nanzenji mesti melepas alas kaki. Bangunan kuil berbentuk panggung, lantainya terbuat dari kayu besi. Karena berumur ratusan tahun, lantai kayu itu berwarna hitam dan mengkilap. Pengunjung kuil Nanzenji hanya diizinkan melewati koridor bangunan kuil. Di pekarangan kuil ini terdapat taman Hojo. Taman ini merupakan taman kering khas Jepang yang terkenal. Di taman itu terdapat pohon pinus jepang, maple, dan tanaman semak seperti Buxus microphylla yang dipangkas membentuk tajuk bulat. Permukaan tanah diselimuti lumut.

Ketiga jenis tanaman itu dikombinasikan dengan batu-batu yang diletakkan berdampingan. Batu-batu menggambarkan deretan gunung-gunung, salah satunya Gunung Yokakuryo Dainichisanto. Di sekeliling taman terhampar pasir. Di tengahnya terdapat bebatuan. Hamparan pasir digarit membentuk garis-garis lurus dan melingkar mengelilingi batu.

Hadi Susilo Arifin menuturkan meski dalam taman kering, kehadiran elemen air tetap harus tersaji. ‘Hamparan pasir menggambarkan lautan dan garitan itu adalah ombak,’ ujar doktor ekologi pekarangan dari Okoyama University, Jepang, itu. Taman kering yang memadukan tanaman dan bebatuan di lahan terbuka yang cukup luas merupakan karakter taman-taman Jepang di awal periode Edo, era 1600-an. Taman itu dirancang oleh Kobori Enshu, arsitek taman ternama di era itu.

Taman Hojo juga diberi nama Toranoko-watashi yang artinya harimau yang melintas sungai. Di sebut demikian karena salah satu batu terbesar di taman itu menyerupai sosok harimau. Karena batu itulah Tanyu Kano, pelukis ternama di era Edo, terinspirasi melukis harimau yang sedang minum. Padahal, ia sama sekali belum pernah melihat sosok harimau dalam kehidupan nyata.

Taman yang tak kalah indah juga terdapat di bagian belakang kuil. Taman itu ditanami pinus, maple, dan sakura. Berbeda dengan taman Hojo, seluruh permukaan taman diselimuti lumut, tidak ada hamparan pasir. Batu-batu yang digunakan adalah fosil kayu. Menurut Kobayashi, taman ini kerap dijadikan tempat untuk berkontemplasi. Para pendeta biasanya duduk di serambi depan sambil menghadap taman. Suasana taman diyakini menambah kekhusyuan. ‘Pada saat itulah para pendeta merasa semakin dekat kepada Tuhan,’ kata mantan guru yang kini menjabat direktur di salah satu perusahaan kimia terbesar di Jepang itu.

Penelusuran taman-taman kuno Jepang terus berlanjut ke timur Kyoto. Kali ini yang dikunjungi adalah kuil Kiyomizu. Kuil ini ditempuh sekitar 20 menit dari kuil Nanzenji. Kiyomizudera-sebutan lainnya-berada di ketinggian sekitar 1.000 m dpl. Oleh sebab itu, selain keindahan taman, kuil ini menyuguhkan pemandangan indah kota Kyoto. Sebelum memasuki kuil, pengunjung mesti mencuci tangan dengan air yang berasal dari dua pegunungan: Gunung Kiyomizu dan Kazan.

Di kuil ini terdapat taman-taman yang diyakini ‘bertuah.’ Salah satunya taman Jishu-jinja. Taman ini persembahan bagi Okuninushino-Mikoto, sang dewa cinta. Pasangan-pasangan muda yang mendamba kelanggengan dalam hubungan cinta beramai-ramai mengunjungi taman ini.

Taman lain yang diyakini bertuah adalah Otowa-no-taki. Di taman ini terdapat 3 pancuran. Meminum air yang memancar dari ketiga pancuran itu dipercaya dapat memanjangkan umur dan sukses dalam karir maupun pendidikan. Itulah sebabnya banyak pelajar dan mahasiswa yang rela antre demi menenggak air bertuah itu. Kyoto memang surganya taman-taman kuno. Tak hanya keindahannya yang dinikmati, tetapi juga tuah yang terlahir dari sejarah. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img