Trubus.id – Menurut Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, M.S., sekitar 70% tanah di Indonesia tergolong letih atau sakit. Dua indikator utamanya adalah rendahnya kadar bahan organik dan warna tanah yang semakin terang.
Tanah dikatakan letih jika kandungan bahan organiknya kurang dari 2%. Rata-rata sawah di Indonesia hanya memiliki 1,5%, sedangkan lahan kering bahkan kurang dari 1%.
Tualar menyatakan bahwa kadar ideal bahan organik untuk tanah pertanian seharusnya mencapai 3—5%. Semakin terang warna tanah, semakin rendah pula kandungan organiknya.
Solusi utama untuk memperbaiki kondisi tanah adalah mengembalikan bahan organik ke dalam tanah. Target minimalnya adalah meningkatkan kadar bahan organik hingga mencapai 2%.
Pupuk organik dan hayati menjadi kunci utama dalam budidaya pertanian yang sehat. Tanpa bahan organik yang cukup, pertumbuhan tanaman tidak akan optimal.
Selain dengan pemupukan organik, petani bisa menambahkan bahan organik dari potensi sekitar lahan. Salah satu sumber yang sering diabaikan adalah jerami.
Jerami kaya akan kalium dan silika yang penting bagi tanaman. Jika dicacah dan dikembalikan ke lahan, jerami dapat memenuhi hingga 50% kebutuhan pupuk.
Meski demikian, penggunaan jerami memiliki risiko munculnya siklus hama dan penyakit. Risiko ini terutama terjadi di lahan sawah intensif yang tidak memiliki jeda atau pergantian tanaman.
Tualar menyarankan adanya jeda atau rotasi tanaman setiap musim tanam untuk mencegah siklus penyakit. Dengan cara ini, pemanfaatan jerami dapat menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Jika tanah sehat, berbagai inovasi pemupukan seperti penggunaan pupuk organik cair dari lemak hewani akan lebih efektif. Kandungan asam amino di dalamnya mampu meningkatkan hasil panen secara optimal.
