Thursday, January 8, 2026

Tantangan dan Solusi Budi Daya Hidroponik Skala Produksi

Rekomendasi
- Advertisement -

Keberhasilan M. Mutholibul Wafa mengelola kebun hidroponik BSI Farm tidak lepas dari manajemen produksi yang rapi sejak tahap semai hingga panen. Menurut Wafa, kunci utama hidroponik terletak pada ketelitian dalam setiap fase pertumbuhan tanaman.

Proses semai memerlukan waktu sekitar sepekan. Wafa menggunakan benih berkualitas yang disemai pada media rockwool. Pada fase awal, tanaman diberi nutrisi AB mix dengan konsentrasi 300—500 ppm.

Memasuki fase peremajaan, dosis nutrisi ditingkatkan menjadi 500—800 ppm, lalu naik menjadi 800—1.200 ppm pada fase dewasa. Untuk menunjang kebutuhan nutrisi itu, BSI Farm menyiapkan enam drum nutrisi berkapasitas 500—1.000 liter per drum.

Faktor cuaca turut memengaruhi produksi hidroponik. Curah hujan tinggi berpotensi memicu bolting dan penyakit busuk pada tanaman tertentu. Wafa menyiasatinya dengan menempatkan jenis sayuran sensitif seperti pakcoy, lororosa, dan selada di meja-meja bagian tengah greenhouse agar memperoleh sinar matahari optimal. “Kalau di bagian pojok lebih rawan bolting,” ujarnya.

Greenhouse juga menjadi solusi untuk budidaya selada yang sensitif terhadap air hujan berlebih. Sebaliknya, caisim dan kangkung masih dapat dibudidayakan di kebun hidroponik terbuka. Dengan pengaturan lokasi tanam tersebut, kualitas sayur tetap terjaga sepanjang musim.

Dalam pengendalian hama dan penyakit, Wafa membedakan penanganan berdasarkan musim. Saat kemarau, hama utama berupa kutu-kutuan seperti kutu api dan kebul. Sementara pada musim hujan, ancaman datang dari penyakit busuk akar dan batang serta serangan ulat seperti Spodoptera litura. “Kontrol harus rutin setiap pagi, mulai dari pompa, nutrisi, hingga kondisi tanaman,” katanya.

Tantangan lain yang tak kalah besar adalah pemasaran. Berbeda dengan petani konvensional yang bergantung pada tengkulak, petani hidroponik seperti Wafa harus mengelola produksi sekaligus pemasaran. Meski demikian, strategi itu justru memberi nilai tambah karena harga jual lebih stabil dan margin lebih baik.

Ketertarikan Wafa pada hidroponik bermula sejak 2017, saat ia mengelola kebun milik wali santri. Ia membagi waktu antara mengajar di pondok pada malam hari dan berkebun sejak pagi hingga sore. Sempat vakum pada 2021 karena bekerja sebagai supervisor restoran, Wafa kembali menekuni hidroponik pada 2023 setelah bertemu H. Mufti dan meneruskan pengelolaan kebun yang kini dikenal sebagai BSI Farm.

Kini, selain menjadi sumber penghasilan, kebun hidroponik BSI Farm juga berfungsi sebagai lokasi kunjungan dan pembelajaran bagi pelajar dan masyarakat. Dari kebun inilah Wafa membuktikan bahwa sayuran nir tanah mampu menjadi ladang cuan sekaligus sarana edukasi pertanian modern.

Artikel Terbaru

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img