Friday, August 12, 2022

Tatag Hadi Widodo : Raja Bibit Buah Beralih ke Tanaman Hias

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dalam setahun ia bolak-balik ke luar negeri hingga 8 kali. Beruntung alumnus Universitas Brawijaya, Malang, itu langsung banting setir pada 2002. Hingga kini ekspor tanaman hias menjadi pilihan yang tak terpisahkan.

Hingga paruh pertama 2000-an, nama Tatag Hadi Widodo tak asing di telinga komunitas buah-buahan Indonesia. Maklum, ayah 3 anak itu malang-melintang memasarkan bibit buah-buahan sejak 1986. Di bawah bendera Hortimart, ia sanggup memproduksi dan melempar bibit buah sebanyak 1,3-juta pohon ke pasaran setiap tahun. Sembilan puluh persen ialah jeruk. Yang lainnya, rambutan, mangga, dan durian. Pelanggannya tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Sayang, kejayaannya sebagai produsen bibit jeruk selama 16 tahun dihadang gempuran jeruk impor. Saya memang tak sempat merugi. Namun, semua masyarakat buah-buahan ketika itu bimbang, katanya. Ia pun mencari peluang bisnis lain dari dunia maya dan kenalan di mancanegara. Pilihannya tidak jauh-jauh dari dunia agribisnis yang digeluti. Pucuk dicinta ulam pun tiba, rekan bisnis di Cina memintanya memasok hanjuang Dracena fragrans, palem raja, dan palem ekor tupai. Permintaannya tak terbatas, tutur Tatag.

Langkah pertama, pada 2002 Tatag mengirim 1 kontainer berukuran 20 feet berisi hanjuang. Itu setara dengan 2.300-2.800 tanaman berdiameter 4-8 cm dan tinggi 30-185 cm. Hanjuang dipotong-potong sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Itu ekspor paling lucu. Kita seperti eksportir kayu, bukan tanaman, katanya. Pengiriman itu disusul 1 kontainer palem raja berukuran raksasa. Saking besarnya, 1 kontainer berukuran 40 feet hanya berisi 12-13 pohon. Pengiriman berikutnya 1 kontainer wuditia alias ekor tupai.

Bernilai rendah

Berkat hobi melancong ke berbagai negara, pada tahun sama permintaan serupa datang dari Korea. Tanaman hias tropis untuk taman sedang ngetren di kedua negara itu, kata mantan aktivis senat mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, itu. Frekuensi pengiriman pun langsung meningkat. Selama 2002, dalam sebulan Tatag mengirim 5-7 kontainer. Malah bila pasokan tersedia, pengiriman bisa 2-3 kontainer per minggu. Kegiatan ekspor hanya berhenti pada November-Februari. Pada periode itu Cina dan Korea musim dingin.

Namun, tak serta-merta keuntungan diraih. Harga jual tidak sebanding dengan risiko dan kerja keras yang ditanggung. Satu kontainer hanjuang misalnya, hanya dinilai US$3.000 setara Rp27-juta-Rp28-juta dengan kurs saat itu. Palem raja, hanya Rp37,8-juta-Rp40,95-juta per kontainer; ekor tupai, Rp81-juta per kontainer. Padahal, keuntungan bersih yang diraih Tatag hanya 30%.

Gempuran pesaing lokal dan mancanegara membuat gentar. Ekspor hanjuang mudah dimasuki kompetitor. Lho, yang diminta gelondongan seperti kayu. Tukang kayu lebih pintar, katanya. Pesaing mancanegara datang dari Costarica, Guatemala, dan Bolivia. Mereka telah malang-melintang mengirim hanjuang sejak 30 tahun silam. Walau harga yang mereka tawarkan lebih tinggi, US$4.000-US$4.500 per kontainer, kualitas hanjuang asal negara-negara Amerika Tengah itu jauh lebih baik. Mereka mampu mengirim sesuai spesifikasi. Kalau yang diminta tanaman berdiameter 5 cm, maka itulah yang dikirim. Sementara dari Indonesia hanya berdasarkan kisaran, misal diameter 4-8 cm.

Ganti komoditas

Tatag pun memutar otak untuk menghindari persaingan keras itu. Pada akhir 2002, dari hasil berselancar di dunia maya peluang itu muncul. Seorang pembeli dari Belanda meminta Raphis exelca alias palem waregu. Walau saat itu Tatag buta sama sekali bentuk dan rupa waregu, ia langsung menyanggupi. Di Hotel Sari Pan Pasifik Jakarta, pertemuan Tatag dengan importir itu dimulai pukul 11.00.

Sebelumnya, pagi-pagi sekali ia mencabut 10 batang waregu di halaman rumah seorang tetangga di Cibinong, Bogor. Sebisanya Tatag merangkai dalam sebuah pot. Beruntung tanaman yang dimaksud tepat. Sang pembeli pun langsung meminta Tatag memasok 2-3 kontainer. Tanpa berpikir 2 kali suami Hera Ria itu menyanggupi. Pasokan didapat dengan berburu ke segala penjuru Jawa Timur, mulai Jember, Banyuwangi, Pacitan, hingga Ponorogo.

Perjalanannya tak langsung mulus. Pengiriman pertama dan kedua ditolak lantaran rangkaian raphis tak sesuai permintaan. Padahal menurut saya penampilan sudah prima, tetap saja mereka tak mau terima, katanya. Importir Belanda meminta rangkaian raphis di pot bertajuk membulat dan simetris. Batang di bawah harus tertutup daun sehingga tidak kelihatan. Satu pot isinya 5-7 tanaman tergantung ukuran. Hampir putus asa, Tatag pun nekat merangkai sendiri raphisnya di hadapan sang pembeli. Tak sia-sia, setelah beberapa kali mencoba Tatag mendapat kata sepakat.

Sejak awal 2003 itulah pengiriman raphis ke negeri Kincir Angin berjalan rutin. Setiap 2-3 bulan Tatag mengirim 2 kontainer. Satu kontainer berisi 300-1.200 pot tergantung ukuran. Jumlah yang paling sering dikirim, 550 pot per kontainer. Nilai per kontainer di pelabuhan E9.000-E10.000 setara Rp99-juta-Rp110-juta tergantung kurs.

Menang bersaing

Ibarat semut yang merubungi gula, beberapa kompetitor pun mengikuti jejak Tatag. Toh, hingga kini hanya 75% yang sanggup bertahan. Musabab utama, mereka tidak mampu memenuhi spesifikasi rangkaian raphis yang diminta pembeli. Ekspor raphis tak seperti hanjuang. Dibutuhkan ilmu bertani. Kalau sekadar tukang kayu tak mungkin bertahan, kata Tatag.

Dari raphis, komoditas yang diekspor kian bertambah. Phoenix canariensis, sansevieria, dan plumeria menjadi tanaman pelengkap. Negara tujuan pun melebar dari Cina, Korea, Belanda hingga negara-negara Yunani dan Timur Tengah. Volume ekspor pun melonjak. Pada 2003, sebanyak 17 kontainer keluar dari kebunnya di Malang, Jawa Timur. Jumlah itu naik menjadi 30 kontainer pada 2004 dan pada 2005 menjadi 50 kontainer. Itu belum termasuk ekspor tanaman lain seperti sansevieria dan plumeria yang kerap dikirim dalam satu kontainer.

Kini Tatag yang mengusung bendera PT Agro Duasatu Gemilang telah mantap menggeluti ekspor tanaman hias. Pendapatannya dari bisnis bibit buah-buahan hanya 10% dibanding ekspor tanaman hias. Peluang pun masih terbentang luas. Bila ditotal-total, negeri ini baru memenuhi 2% dari kebutuhan dunia. Cina memasok 61%. Kita sanggup naik 10% saja, maka ekspor tanaman hias Indonesia akan menggeliat, katanya. Namun, Tatag tetap mengingatkan, hanya pemain yang konsisten menjaga kualitaslah yang bakal bertahan. (Destika Cahyana)

 

Previous articleUlar Palsu
Next articleVol. 03 Adenium
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img