Tuesday, January 27, 2026

Teknik Perbanyakan Tanaman Kepel

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Perbanyakan tanaman menjadi upaya untuk melestarikan kepel. Pasalnya keberadaan kepel kian langka. Perbanyakan generatif dengan biji biasa dipilih lantaran dinilai memiliki perakaran yang lebih kuat.

Namun perbanyakan seperti itu terbilang sulit, karena daya perkecambahan lama. Kendati demikian ada alternatif lain untuk mengatasi hal itu. Perendaman biji kepel dalam air bersuhu tertentu terbukti ilmiah mempercepat perkecambahan.

Hal itu sesuai dengan hasil penelitian E. Isnaini dan N.A. Nabilah dari Jurusan Biologi, Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah. Mula-mula Isnaeni dan Nabilah mencuci dan merendam buah dalam bakterisida dan fungisida selama 24 jam.

Setelah pembilasan 3 kali, mereka merendam buah dalam larutan chlorox 10% selama sejam. Mereka membilas buah turalak—sebutan kepel oleh masyarakat Sunda— 3 kali. Selanjutnya mereka mengupas buah dan membersihkan biji dari daging buah tersisa.

Hanya biji masak yang berwarna hitam atau kecokelatan sebagai bahan pesemaian. Setelah dicuci bersih, mereka merendam biji simpol—sebutan lain kepel di Jawa—dalam larutan chlorox 50% selama 3 jam.

Sebelum perlakuan, peneliti membilas biji 3 kali dan merendamnya dalam air. Hasil penelitian yang termaktub dalam Jurnal MIPA itu mengungkapkan perendaman dalam air bersuhu 40°C selama 15 menit mempercepat perkecambahan biji kepel secara optimal.

Pada suhu itu juga persentase perkecambahan biji kepel mencapai 100%. Menurut Isnaeni dan Nabilah suhu optimal memengaruhi waktu munculnya kecambah, persentase perkecambahan, panjang radikula dan jumlah akar cabang.

Kemungkinan terjadi perubahan struktur tanin dan lignin pada kulit biji kepel sehingga terurai maksimal pada suhu 40°C. Dengan kata lain perendaman melunakkan kulit biji dan memudahkan penyerapan air oleh biji. Akibatnya proses fisiologi dalam biji berlangsung sehingga terjadi perkecambahan.

Menurut Perencana Ahli Muda Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Yogyakarta, Fasis Mangkuwibowo, S.Hut., M.Sc., Fasis, cara perbanyakan kepel lainnya yakni cangkok.

“Kemungkinan cangkok bisa karena umumnya tanaman berkayu bisa dengan cara vegetatif,” kata magister alumnus Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada itu.

Meski begitu ia belum pernah memperbanyak dengan cara cangkok. Tjahjono enggan mencangkok kepel karena khawatir perakaran tanaman kurang kuat. Padahal kepel tanaman yang bisa mencapai tinggi hingga lebih dari 15 m.

Jika ada angin kencang dan perakaran tidak kuat, pohon kecindul—sebutan lain kepel di Jawa—berpotensi tumbang.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img