Penggunaan teknologi Controlled Release Fertilizer (CRF) terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas bawang merah. Teknologi pupuk ini bekerja dengan mekanisme pelepasan unsur hara secara perlahan dan berkala, menyesuaikan dengan pola serapan tanaman. Dengan demikian, unsur hara dalam pupuk tidak mudah tercuci oleh air dan dapat terserap lebih tepat sasaran.
CRF memungkinkan pengaturan pelepasan unsur hara pupuk di dalam tanah secara terkontrol sesuai kebutuhan tanaman selama periode tertentu. Pupuk ini dibuat melalui dua mekanisme utama, yakni pelapisan pupuk menggunakan membran semipermeabel serta peleburan zat hara ke dalam suatu matriks. Teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi pemupukan, tetapi juga berpotensi menghemat biaya, terutama dari sisi pengurangan frekuensi aplikasi dan upah tenaga kerja.
Keunggulan lain CRF adalah kemampuannya menyediakan unsur hara dalam jangka waktu lebih lama tanpa menyebabkan defisiensi nutrisi pada tanaman. Selain itu, pupuk ini lebih ramah lingkungan karena mengurangi kehilangan unsur hara ke lingkungan sekitar.
CRF juga dapat diperkaya dengan unsur hara makro sekunder seperti sulfur (S), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg), serta unsur mikro antara lain seng (Zn), tembaga (Cu), dan asam humat. Seluruh nutrisi tersebut dibutuhkan tanaman bawang merah untuk menunjang pertumbuhan dan pembentukan umbi.
Efektivitas teknologi CRF telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi Industri Proses dan Manufaktur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti Era Restu Finalis, S.T., M.T., bersama timnya menguji penggunaan pupuk CRF pada tanaman bawang merah varietas SS Sakato di lahan seluas 4.200 meter persegi.
Penelitian berlangsung di Desa Bandorasa Kulon, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Dalam penelitian tersebut digunakan pupuk CRF dengan formula 14-7-9-6-4-2 (N-P-K-S-Ca-Mg). Menurut Era, formula pupuk disesuaikan dengan kondisi tanah serta kebutuhan nutrisi tanaman bawang merah. Pemupukan dilakukan dua kali, yaitu pada umur 10—15 hari setelah tanam (HST) dan 30—35 HST. Dosis pupuk CRF yang diuji masing-masing 600 kg, 800 kg, dan 1.000 kg per hektare.
Pengujian menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat kali ulangan. Pada setiap ulangan terdapat satu blok kontrol. Efektivitas pupuk diamati melalui tiga perlakuan, yaitu penggunaan pupuk CRF, pupuk NPK sebagai kontrol positif, serta tanpa pemupukan sebagai kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan, teknologi CRF mampu meningkatkan tinggi tanaman bawang merah secara signifikan. Pada usia 30 HST, tinggi tanaman meningkat rata-rata hingga 50 persen pada seluruh perlakuan CRF. Memasuki bulan kedua, peningkatan tinggi tanaman menurun menjadi sekitar 20 persen. Selain itu, jumlah anakan meningkat sekitar 38 persen dibandingkan dengan tanaman tanpa pemupukan.
Dari sisi hasil panen, teknologi CRF mampu meningkatkan bobot kering umbi bawang merah sebesar 1,65—2,19 kali dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan. Sementara itu, aplikasi pupuk NPK hanya meningkatkan hasil panen sekitar 1,46—1,63 kali. Jika dibandingkan secara langsung, penggunaan pupuk CRF menghasilkan panen 22 persen lebih tinggi dibandingkan pupuk NPK dengan dosis yang sama.
Tak hanya kuantitas, kualitas bawang merah yang dihasilkan juga lebih baik.
Umbi bawang merah berukuran lebih besar dan memiliki warna yang lebih cerah. “Penggunaan teknologi CRF memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil panen bawang merah varietas SS Sakato,” ujar Era.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi CRF berpotensi menjadi solusi pemupukan yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan bagi budidaya bawang merah, khususnya di tengah tantangan efisiensi biaya dan kelestarian lingkungan.
