TRUBUS.ID — Teknologi Internet of Things (IoT) membantu peternak ayam broiler memantau kondisi kandang secara lebih praktis. Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan eBro (makes broiler production easier), sistem pemantauan dan pengendalian kandang closed house berbasis IoT.
Inovasi tersebut dikembangkan Prof. Dr. Eng. Munadi bersama tim dari Teknik Mesin UNDIP. Teknologi eBro telah diterapkan pada sejumlah peternakan ayam broiler di Nanggulan dan Kalibawang, Kulon Progo, Bandungan dan Gunungpati, serta Bandar, Kabupaten Batang.
Kandang closed house memungkinkan peternak mengendalikan lingkungan pemeliharaan, seperti temperatur, kelembapan, dan sirkulasi udara. Namun, sistem tersebut membutuhkan investasi dan biaya operasional relatif besar sehingga efisiensi menjadi salah satu tantangan dalam usaha broiler.
eBro hadir dengan perangkat sensor yang mengukur temperatur, kelembapan, tekanan, kecepatan udara, kadar amonia, dan intensitas cahaya. Sistem juga dilengkapi komunikasi sensor LoRa, Human Machine Interface (HMI) berbasis Message Queuing Telemetry Transport (MQTT), serta alarm untuk mendeteksi exhaust fan yang tidak berputar.
Sensor membaca kondisi kandang secara real-time. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk membantu mengendalikan kondisi lingkungan agar tetap sesuai dengan kebutuhan pemeliharaan ayam broiler.
Melalui HMI, anak buah kandang (ABK) dapat memantau sekaligus mengatur parameter lingkungan. Sementara itu, pemilik kandang dan perusahaan kemitraan dapat memantau kondisi peternakan dari lokasi berbeda melalui situs IoT.
Selain lingkungan kandang, eBro membantu mencatat sejumlah indikator produksi. Data seperti mortalitas, konsumsi pakan, bobot ayam, Feed Conversion Ratio (FCR), temperatur, kelembapan, tekanan, kecepatan udara, dan kadar amonia dapat dibandingkan dengan standar pemeliharaan.
Pencatatan tersebut membantu peternak mengevaluasi performa ayam sejak awal periode pemeliharaan. Dengan begitu, masalah produksi dapat diketahui tanpa harus menunggu hingga ayam dipanen pada umur sekitar 30–40 hari.
Teknologi eBro juga mengurangi pekerjaan pencatatan manual yang dilakukan ABK. Data jumlah kematian, pakan, dan bobot ayam dapat dimasukkan melalui perangkat digital dalam waktu sekitar satu menit setiap hari.
Data lingkungan yang terekam juga dapat disimpan dan diunduh untuk kebutuhan evaluasi. Pemantauan jarak jauh membuat pemilik kandang maupun perusahaan kemitraan lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Penerapan eBro pada peternakan yang telah menggunakannya menunjukkan peluang efisiensi biaya operasional langsung hingga di bawah Rp2.000 per ekor ayam. Dengan Indeks Performa (IP) rata-rata lebih dari 450, potensi keuntungan peternak disebut dapat mencapai lebih dari Rp4.000 per ekor.
Pengembangan eBro menjadi salah satu bentuk hilirisasi riset UNDIP di bidang peternakan. Teknologi tersebut menunjukkan pemanfaatan IoT dan sensor digital dapat membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan kandang sekaligus mendukung produktivitas ayam broiler.
Teknologi berbasis data seperti eBro berpotensi diterapkan lebih luas pada peternakan closed house di Indonesia. Selain menekan biaya operasional, sistem tersebut dapat membantu menjaga performa produksi dan mendukung ketersediaan daging ayam sebagai sumber protein hewani.
