Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat melepas ekspor 10 ton biji kopi mentah atau green bean produksi Java Halu Coffee senilai USD155 ribu atau sekitar Rp2,64 miliar ke Inggris.
Pelepasan ekspor berlangsung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 18 Agustus 2026. Ekspor tersebut menjadi salah satu bukti potensi kopi Jawa Barat menembus pasar internasional sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan, keberhasilan Java Halu Coffee menunjukkan UMKM dengan pendampingan yang tepat mampu memperluas pasar hingga mancanegara.
Java Halu Coffee telah mengembangkan pasar ekspor sejak 2019. Produk kopi perusahaan tersebut kini telah diterima di sejumlah negara, seperti kawasan Timur Tengah, Jepang, Australia, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.
Menurut Puntodewi, perluasan pasar tersebut merupakan hasil konsistensi menjaga mutu serta kolaborasi berbagai pihak. Kemendag turut mendukung Java Halu Coffee melalui promosi dan fasilitasi akses pasar internasional.
Pada 2023, Kemendag memfasilitasi Java Halu Coffee untuk mengikuti World of Coffee di Athena, Yunani, serta International Coffee & Chocolate Exhibition di Riyadh, Arab Saudi. Perusahaan tersebut juga tercatat rutin mengikuti Trade Expo Indonesia.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan, ekspor tersebut menunjukkan kualitas kopi Jawa Barat yang mampu bersaing di pasar global. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus mendorong produk unggulan daerah agar semakin dikenal di pasar internasional.
Direktur Java Halu Coffee Rani Mayasari mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Bank Indonesia, dan Kemendag dalam pengembangan usaha serta pasar ekspor sejak 2019.
Selain memperluas pasar, Kemendag mendorong pengembangan kopi dengan nilai tambah lebih tinggi. Ekspor tidak hanya perlu mengandalkan biji kopi mentah, tetapi juga diarahkan pada pengembangan produk olahan, penguatan merek, dan penjenamaan kopi Indonesia.
Indonesia memiliki kopi dari berbagai daerah dengan karakteristik dan cita rasa yang beragam. Potensi tersebut dinilai perlu diterjemahkan menjadi diferensiasi produk dan kekuatan merek agar mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar.
Puntodewi juga menekankan pentingnya peningkatan produktivitas yang diikuti perbaikan rantai pasok. Kopi dari petani perlu terkoneksi secara efisien dengan pengolah, agregator, roastery, eksportir, hingga pembeli internasional.
Ketertelusuran dan prinsip keberlanjutan juga semakin dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pasar global. Dengan peningkatan nilai tambah di dalam negeri, manfaat ekonomi ekspor kopi diharapkan semakin besar bagi petani dan masyarakat.
