Trubus.id-Buah naga pernah menjadi komoditas unggulan di sektor agribisnis. Sebelum 2012, pertaniannya berkembang pesat dan menghasilkan sentra produksi baru di berbagai daerah.
Melansir pada laman BRIN, Koordinator Kelompok Riset Penyakit Tanaman BRIN, Dr. Riska Rachmawati, menuturkan petani buah naga sempat meraup keuntungan besar hingga Rp10 juta per bulan pada awal 2012. Jenis yang banyak dibudidayakan adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizus).
Namun, setelah tahun 2012, produksi buah naga mengalami penurunan signifikan akibat serangan penyakit. Laporan wabah pertama muncul di Kepulauan Riau dan menyebar ke berbagai daerah.
Di beberapa wilayah, seperti Padang Pariaman dan Pasaman (Sumatra Barat), serta Bintan dan Batam (Kepulauan Riau), produksi buah naga anjlok hingga 95,56%. Puncak wabah terjadi pada 2016, dengan kerusakan yang terus berlanjut hingga 2022.
Kerusakan akibat penyakit itu, ditambah dengan kemungkinan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) atau penggunaan bahan kimia yang tidak tepat, menuntut adanya teknologi presisi. Teknologi itu digunakan untuk mengidentifikasi patogen penyebab penyakit buah naga.
Proses diagnosis diawali dengan karakterisasi gejala secara visual di lapangan. Tujuannya untuk menentukan tahap serangan dan tingkat keparahan.
Setelah itu, dilakukan analisis penyebab kerusakan, baik akibat faktor abiotik maupun patogen seperti jamur, bakteri, atau virus. Identifikasi ini dilakukan secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Dr. Riska Rachmawati menjelaskan bahwa salah satu metode yang digunakan adalah Postulat Koch. Metode itu melibatkan isolasi patogen dari tanaman bergejala, pemurnian isolat, serta uji inokulasi pada tanaman sehat.
Jika gejala penyakit muncul kembali, maka patogen yang diisolasi dapat dikonfirmasi sebagai penyebab penyakit itu. Selain itu, karakterisasi makroskopis dan mikroskopis dilakukan untuk mengamati bentuk morfologi serta ukuran patogen.
Teknik itu memerlukan keahlian khusus agar hasil identifikasi akurat. Dengan pendekatan ini, spesies patogen dapat ditentukan secara lebih presisi.
Salah satu metode diagnosis yang lebih presisi adalah analisis berbasis nucleic acid level. Teknik itu lebih dikenal dengan analisis molekuler.
Metode itu menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk mengidentifikasi DNA patogen secara spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit stem canker pada buah naga di Sumatra Barat tidak hanya disebabkan oleh satu jenis cendawan.
Patogen yang teridentifikasi mencakup Neoscytalidium dimidiatum serta spesies lain dari genus Neoscytalidium sp.. Keberadaan lebih dari satu patogen membuat penyakit ini semakin sulit dikendalikan.
Dr. Riska Rachmawati menegaskan bahwa identifikasi patogen tidak cukup hanya dengan karakterisasi visual dan observasi mikroskopis. Analisis molekuler menjadi solusi yang lebih akurat untuk menentukan spesies patogen serta kekerabatannya.
Dengan pendekatan itu, strategi pengendalian penyakit pada buah naga dapat lebih efektif. Hasil diagnosis yang presisi akan membantu petani dalam mengambil langkah pencegahan yang tepat.
