Anthurium koleksi Jack Kertosuro menjadi juara di 7 kategori dari total 16 kategori kontes.
Penilaian Kontes Anthurium Piala Bupati Karanganyar I kategori mangkok itu menyita waktu para juri sehingga selesai paling akhir. Harap mafhum, jumlah peserta kategori itu paling banyak, yakni hampir separuh dari total 422 peserta yang berkompetisi. Pertarungan sengit itu akhirnya dimenangkan Anthurium jenmanii mangkok koleksi Jack Kertosuro sebagai juara kategori mangkok madya. “Anthurium milik Jack berkarakter daun sempurna. Pertumbuhan daun juga seragam, daun besar tidak hanya di susunan daun paling atas. Jarak antar daun pun rapat dan karakter daun berserat tegas,” ujar Amirudin, salah satu juri.

Kontes anthurium yang diselenggarakan oleh Komunitas Anthurium Solo Raya itu seakan menjadi ajang unjuk gigi Jack Kertosuro. Anthurium koleksi nurseri Kobra Edan—nurseri milik Jack—Itu menjadi juara di 7 kategori dari total 16 kategori kontes. Oleh sebab itu panitia kontes menobatkan Kobra Edan sebagai juara umum.

Kembali ramai
Ketua panitia kontes, Ispitri, S.P.,M.M, menuturkan sangat puas dengan pelaksanaan kontes yang memperebutkan piala Bupati Karanganyar itu. Sebanyak 422 peserta dari berbagai daerah berkompetisi menjadi yang terbaik. Panitia membagi peserta ke dalam 16 kategori. Menurut salah satu juri kontes asal Malang, Jawa Timur, Ujud Rofianto, ramainya peserta kontes menjadi bukti sektor tanaman hias tak lekang oleh waktu walaupun harga jualnya naik-turun.
Menurut Bupati Karanganyar, Drs. Juliatmono, M.M., kontes anthurium yang diselenggarakan di gelanggang olahraga (GOR) Mini Nyi Ageng Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Karanganyar yang ke-100. “Pemerintah Kabupaten Karanganyar sangat mendukung acara kontes anthurium nasional ini,” ujar Juliatmono. Namun, ia berpesan agar para petani anthurium tidak menggunakan media cacahan pakis dari alam yang dapat merusak lingkungan, tapi menggunakan media alternatif seperti sekam padi, biji kapuk atau klentheng, serta pupuk organik.

Menurut Ispitri, dalam kontes kali ini jenmanii paling ramai mengikuti lomba. “Itu menunjukkan jenmanii kembali diburu pasar,” ujar kolektor 500 jenmanii itu. Saat ini yang paling banyak dicari ialah jenmanii variegata, terutama dari jenis jenmanii kobra dan mangkok. Kedua jenis itu menjadi buruan pehobi lantaran berbentuk unik, masih sedikit yang membudidayakan, dan masih jarang yang memilikinya. “Jenmanii kobra dan mangkok normal saja harganya tinggi, apalagi yang variegata. Harganya bisa mencapai puluhan juta,” tuturnya.

Ispitri menuturkan kontes yang dimeriahkan komunitas anthurium seperti Kompaja, Kompak Semar, Jatmico, dan Soloraya, itu juga menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi dan meningkatkan eksistensi tanaman hias anthurium. “Dengan begitu diharapkan para petani lebih giat lagi dalam mengembangkan bisnis anthurium,” ujarnya. Ia juga berharap pemerintah mendukung para petani dan pedagang anthurium agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Aglaonema
Nun di Kota Malang, Jawa Timur, juga berlangsung kontes tanaman hias yaitu aglaonema. Dalam kontes itu aglaonema moonlight koleksi Agus Wahyudi asal Berau, Kalimantan Timur, yang menjadi juara di kelas juvenil menarik perhatian para pehobi.. Pertumbuhan daun yang stabil, tatanan daun yang apik dan mengilap membuatnya jadi incaran para pehobi. Sayangnya sang pemilik enggan melepas koleksinya itu.
Menurut panitia kontes, Teddy Gunawan, kontes kali ini adalah kedua kalinya diselenggarakan di Kota Malang. “Kontes ini menjadi ajang bertemunya pehobi aglaonema dari berbagai daerah, seperti Lampung, Jakarta, Gorontalo, Kediri, Banyuwangi, Surabaya, dan Yogyakarta,” ujarnya. Mereka berkumpul dan saling bertukar pengalaman mengenai perawatan dan bisnis aglaonema.
Kontes nasional itu juga diramaikan dengan bursa tanaman hias. Itu menjadi bukti slogan “Malang Kota Bunga”. Panitia kontes bidang hubungan masyarakat dan publikasi, Bambang Wahyudi, menyatakan kontes itu diharapkan meningkatkan semangat para petani dan menjadikan kota Malang lebih berwarna, memperluas jaringan antarpetani bunga, menciptakan kerjasama antara petani bunga dan pemerintah Kota Malang, serta menambah pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor tanaman hias. (Marietta Ramadhani)
