Trubus.id — Sumber inspirasi dapat datang dari mana saja. Bisa saat ngobrol bersama teman, merenung, ataupun dari sumber bacaan tertentu. Roesmana Andi Winata, salah seorang yang terinspirasi beternak puyuh dari buku yang dibacanya.
Keputusan beternak puyuh itu bermula saat Roesmana baru lulus sekolah menengah atas (SMA) pada 2012. Roesmana terinspirasi beternak puyuh setelah membaca 3 buku panduan budidaya puyuh yang ia beli di toko buku di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Inspirasi atau ide akan tetap jadi ide selama seseorang tidak segera mewujudkannya. Roesmana memilih mewujudkan ide yang bersemayam di pikirannya itu. Setelah membaca, Roesmana membeli 500 induk puyuh.
“Kala itu beli bibit puyuh asalan berumur 20 hari dari Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bibit campur jantan dan betina,” kata warga Desa Karanghegar, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat, itu.
Dalam prosesnya tentu beragam kendala pernah ia hadapi, seperti puyuh terserang wabah. Pengalaman lainnya adalah anus puyuh rusak sehingga tidak bisa berproduksi. Menurut Roesmana, anus rusak karena kadar protein dalam pakan terlalu tinggi atau puyuh bertelur terlalu dini. Usut punya usut itu terjadi karena pakan berprotein terlalu tinggi, lebih dari 33%.
“Kala itu puyuh berumur 37 hari bertelur, lazimnya 45 hari sehingga organnya belum siap,” kata pria kelahiran 1995 itu.
Pakan ideal mengandung protein 21–30%. Lantas, bagaimana jika terlalu rendah? Pengalaman Roesmana, pertumbuhan dominan mengarah pada bulu puyuh sehingga produksi telur terhambat.
Lebih lanjut ia menuturkan, bisnis puyuh memiliki banyak segmen antara lain pembibitan, produksi telur, pedaging, serta sarana pendukung (kandang hingga wadah makan dan minum). Roesmana memilih fokus pada pembibitan dan memproduksi kandang.
“Seiring jam terbang diketahui bidang mana yang lebih cocok dengan kita,” kata pemilik kandang Motekar Puyuh Subang itu.
Berkat ketekunan dalam beternak puyuh itu, Roesmana sukses meraup omzet ratusan juta dari perniagaan bibit puyuh. Roesmana setiap bulan mampu menjual sebanyak 20.000 bibit puyuh petelur siap produksi berumur 30 hari dan 10.000 daily old quail (DOQ) berumur 0–5 hari.
Harga puyuh siap produksi Rp8.000 per ekor dan DOQ Rp3.000/ekor sehingga omzet Roesmana mencapai Rp190 juta per bulan. Pembeli bibit puyuh itu para pengepul dan toko ternak di Kabupaten Subang dan Kabupaten Bekasi, keduanya di Jawa Barat.
