Tuesday, January 27, 2026

Terurai Dalam 30 Hari

Rekomendasi
- Advertisement -

Mulsa baru terurai hanya dalam sebulan. Sekaligus menyuburkan lahan.

Setelah memanen sayuran daun dan cabai, Ahmad Jaelani memerlukan 2 hari dan 4 pekerja untuk membersihkan mulsa di lahan 1 hektar. “Tujuannya memudahkan pengolahan lahan untuk musim tanam berikutnya,” kata petani di Nagari Alahanpanjang, Kecamatan Lembahgumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, itu. Jika ia tidak mengangkat mulsa maka plastik itu terpendam dalam tanah dalam waktu lama.

Mulsa berbahan ecovio dapat terurai dan terkompos dengan baik setelah empat pekan.
Mulsa berbahan ecovio dapat terurai dan terkompos dengan baik setelah empat pekan.

Jaelani pernah melihat mulsa yang tersembunyi puluhan tahun dalam tanah. Harap mafhum penguraian plastik—bahan baku mulsa—memerlukan waktu ratusan tahun. Ahli tanah sekaligus Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara, Dr Andriko Noto Susanto SP MP, mengatakan sisa plastik mulsa yang tertimbun mengganggu perakaran sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.

Dampak buruk

Peneliti dari Universidad de Castilla-La Mancha, Spanyol, Marta Maria Moreno dan A Moreno dalam Scientia Horticulturae, menyatakan dampak negatif penggunaan plastik di lahan pertanian berkaitan dengan penanganan sampah plastik sisa mulsa. Hanya sedikit sampah plastik yang didaur ulang karena biayanya mahal dan memakan waktu. Musababnya pemilik lahan mesti membayar pekerja untuk membersihkan sisa mulsa ketika selesai panen.

Mayoritas petani membiarkan sisa mulsa di lahan atau membakarnya. Padahal, pembakaran mulsa menghasilkan zat berbahaya yang berdampak buruk bagi lingkungan. Hiroshi Tada dan Hisao Habu contoh petani yang bermasalah dengan mulsa. Mereka menggunakan mulsa berbahan polietilen (PE). Kedua petani kubis dari Jepang itu mesti dua kali kerja ketika panen. Pertama memanen kubis. Kedua mengangkat mulsa yang rusak.

Bahkan mereka kerap menunggu 2—3 pekan hingga daun mengering sehingga mudah melepaskan mulsa. Mulsa berbahan PE pun momok petani di Shihezi, Xinjiang, Tiongkok, Li Liangxin. Li menuturkan mulsa dari PE menjadi bencana karena sisa plastik bertebaran di lahan pertanian.

Salah satu bahan penyusun ecovio adalah polylactic acid (PLA) yang berasal dari jagung.
Salah satu bahan penyusun ecovio adalah polylactic acid (PLA) yang berasal dari jagung.

Kini Hiroshi dan Hisao tidak takut bahaya penumpukan mulsa. Mereka tidak perlu melepas mulsa saat panen selesai. Bahkan bisa langsung mengolah tanah meski mulsa tersisa. Rahasianya? Mereka tetap menggunakan mulsa seperti biasa.

Terkompos
Hiroshi dan Hisao kini memanfaatkan mulsa berbahan polimer ecoflex yang dapat dikomposkan dan polylactic acid (PLA) dari jagung. Artinya mulsa itu mengandung biomaterial. Mulsa kreasi perusahaan pemasok bahan kimia asal Jerman, BASF yang disebut ecovio. Presiden Direktur BASF Indonesia, Chan Choong Phooi, mengatakan, BASF kali pertama meriset plastik biodegradable pada 1993.

Ketika itu BASF merilis ecoflex. Pada 2007 lahirlah ecovio, polimer compostable dengan kandungan materi organik. BASF menguji aspek compostable ecovio ke lembaga uji di beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Uni Eropa. Hasil tes menunjukkan, ecovio memenuhi uji biodegradability, compostability, compost quality, dan plant compatibility.

Penggunaan mulsa berbahan ecovio memudahkan pekerjaan Hiroshi dan Hisao. Kini mereka langsung bisa mengolah tanam setelah panen sehingga menghemat waktu dan biaya. Musababnya kedua petani itu tidak lagi menyewa pekerja mengumpulkan mulsa bekas. Mikroorganisme tanah mengurai mulsa ecovio sehingga tidak mencemari tanah. Penelitian menunjukkan dalam sebulan mulsa ecovio terurai dan terkompos dengan baik dalam tanah.

Presiden Direktur BASF Indonesia, Chan Choong Phooi.
Presiden Direktur BASF Indonesia, Chan Choong Phooi.

Head of Performance Materials PT BASF Indonesia, Ly Iskandar, menuturkan mulsa ecovio bisa dipesan sesuai keperluan petani. “Mulsa ecovio bisa disesuaikan dengan umur tanaman,” kata Ly. Saat ini baru petani di Amerika Serikat, Jerman, Italia, Perancis, India, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand yang menggunakan mulsa ramah lingkungan itu. Menurut Ly BASF hanya menyediakan bahan mentah berupa bijih plastik ecovio.

Selanjutnya pabrik plastik yang memproduksi dan menjual produk akhir seperti mulsa dan tas belanja. BASF sudah menerima permintaan beberapa produsen di Indonesia yang tertarik dengan bijih plastik ecovio untuk membikin mulsa dan tas belanja. “Kapan pun kami siap menyediakan bijih plastik ecovio untuk Indonesia,” kata Chan.
Jaelani belum mengetahui ada mulsa ecovio. Ia sangat senang jika mulsa itu tersedia di Indonesia sehingga meringankan kerja di lahan. Untungnya lagi mulsa ecovio membantu menyuburkan tanah. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img