Trubus.id — Produksi jambu mete Indonesia masih rendah. Salah satu faktornya adalah sumber genetik masih terbilang rendah. Sebagian besar tanaman mete yang tumbuh di Indonesia berasal dari biji asalan. Tidak diketahui asal biji itu dari mana.
Kendati demikian, sebetulnya dengan sedikit sentuhan teknologi pada bahan tanam atau sumber genetik, produksi mete Indonesia bisa meningkat tiga kali lipat. Salah satu cara yang cepat dan tepat untuk mengganti bahan tanam jambu mete adalah menggunakan teknologi top working.
Top working banyak diterapkan pada tanaman buah-buahan. Top working merupakan penyambungan yang dilakukan di lapang. Teknik itu bisa menggunakan batang bawah yang berproduksi rendah, tetapi sehat. Sementara itu, untuk batang atas atau bibit, pilih yang terbukti produktif dan menjadi varietas unggulan, baik lokal maupun nasional.
“Kalau unggulan lokal, varietas itu bagus hanya di daerah setempat saja. Kalau unggulan nasional, bisa untuk di semua daerah di Indonesia,” kata Rudi Suryadi S.P, M.Si., peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Varietas jambu mete unggulan nasional antara lain Balakrisnan 02 atau B02 dengan produktivitas 12,15 kg per pohon per tahun pada umur tanaman 11 tahun, Muna (produksi 15,67 kg per pohon per tahun pada umur tanaman 15 tahun), dan Meteor YK (produktivitas 15,6 kg per pohon per tahun pada umur 40 tahun).
“Penggunaan varietas unggul menyelesaikan satu masalah dalam peningkatan produksi jambu mete dalam negeri,” kata Rudi.
Untuk melakukan top working, mula-mula pangkas pohon yang dijadikan batang bawah. Pangkas dan sisakan batang utama tanaman setinggi kira-kira 1,5 meter. Upayakan pangkas di atas cabang karena mempercepat keluarnya tunas baru pada bagian yang dipangkas. Cabang menyediakan energi berupa fotosintat.
Jika dipangkas semua, tidak ada fotosintat karena tidak ada daun. Selang 2–2,5 bulan muncul tunas-tunas baru di sekitar bagian yang dipangkas. Pilih 6–8 tunas baru yang sehat dan tersebar mengelilingi batang tanaman.
“Sambung 6–8 tunas baru itu dengan bahan tanam varietas unggulan,” kata Rudi.
Sebulan setelah penyambungan, pilih 4 tunas terbaik yang sehat dan tersebar di berbagai arah. Adapun sisanya dipangkas. Pada umur setahun sejak penyambungan, cabang bawaan batang bawah dipangkas. Tujuannya agar konsentrasi tanaman hanya untuk menumbuhkan hasil sambungan.
Umur 3 tahun, tanaman mulai berproduksi, tetapi belum maksimal. Hasil panen lebih banyak ketika tanaman memasuki usia 10 tahun.
“Hitung-hitungan saya, produksinya bisa naik tiga kali lipat dibandingkan sebelum mendapatkan perlakuan top working,” kata Rudi.
