Monday, August 8, 2022

Tren itu Nyata

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Monstera mint, harga jual mencapai Rp50 juta per daun masih laku dan ada pangsa pasarnya. (Dok. Trubus)

Trubus — Tren tanaman hias tengah naik daun. Pandemi korona atau Covid-19 salah satu pemicu meningkatnya tren tanaman hias. Tanaman anggota keluarga Araceae atau aroid menjadi lokomotif bagi tanaman hias lainnya. Permintaan bukan hanya dari pasar doemstik. Pehobi dari mancanegara antara lain dari Jepang, Thailand, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa pun menggandrungi aroid.

Beragam jenis aroid, seperti monstera, philodendron, anthurium, dan aglaonema menjadi incaran mereka. Namun, ada juga pihak yang menyangsikan tren tanaman hias. Banyak yang mengira tren tanaman hias sekadar permainan harga. Ada pula yang menganggap tren tanaman hias fiktif, dan menganalogikannya seperti “monkey business” atau bisnis kera. Benarkah?

Ade Wardhana Adinata
Eksportir Aroid

Ade Wardhana Adinata  (Dok. Trubus)

Pasar ekspor aroid sangat tinggi. Pasar terbesar aroid terutama Eropa dan Amerika Serikat. Pasar dalam negeri sebetulnya lebih kecil. Musababnya, daya serap konsumen akhir rendah. Menjaga pasokan barang stabil untuk memenuhi permintaan dunia sangat penting. Sebab, itu menjamin keberlangsungan pasar ekspor. Caranya petani dalam negeri perlu dibekali ilmu memperbanyak tanaman secara massal contohnya kultur jaringan.

Indonesia memiliki ratusan spesies tanaman hias potensial. Asal dikenalkan, pasar ekspor pasti akan menghendakinya. Pasar ekspor juga menjanjikan harga berlipat. Misal harga Philodendron gloriosum di petani Rp100.000 per tanaman, harga jual ekspor US$20-US$25 atau Rp290.000—Rp362.500 (kurs US$1=Rp14.500). Adapun pihak yang skeptis mengira kondisi bisnis aroid kini imbas tren anthurium pada 2007.

Namun, kini tren berbeda, produksi untuk memenuhi permintaan seluruh dunia. Era industri 4.0 semua informasi mudah didapat, tidak mungkin ada permainan harga. Jadi, harga jual aroid yang tinggi itu memang benar. Penentuan harga mengikuti tren global.

Handry Chuhairy
Pebisnis Aroid

Handry Chuhairy        (Dok. Trubus)

Permintaan aroid pada 2020 meningkat 500%. Namun, tren tanaman hias tidak tiba-tiba ramai. Tren itu terlihat mulai 2017. Kita mafhum, lahan makin kecil dan gedung makin tinggi sehingga banyak bangunan apartemen untuk hunian. Anak-anak muda yang tinggal di apartemen pun menggemari tanaman hias. Kemudian pada 2018 aroid mengarah ke patio garden atau taman teras. Itu dimotori juga oleh kaum urban milenial yang mulai peduli mengenai pemanasan global, sehingga memelihara tanaman di teras atau balkon apartemen.

Aroid cocok untuk tanaman pot, sehingga pada 2019 dikenal lebih luas di seluruh dunia. Philodendron dan monstera menjadi lokomotif mengangkat keluarga aroid lainnya dan tanaman hias non aroid secara umum. Masalah penetapan harga, murni berdasarkan penawaran dan permintaan dunia. Harga tinggi terutama untuk barang eksklusif, antara lain langka atau varian mutasi teranyar yang jumlahnya masih terbatas. Pasar dunia sebetulnya mengehendaki produk stabil seharga US$10—US$15 atau Rp145.000—Rp217.500 (kurs US$1=Rp14.500) per tanaman.

Dr. Liferdi Lukman, S.P., M.Si.
Direktur Buah Florikultura Kementerian Pertanian

Dr. Liferdi Lukman, S.P., M.Si. (Dok. Liferdi)

Tren tanaman hias nyata. Data dari Badan Pengelola Statistik (BPS) pada Agustus 2020, satu-satunya sektor yang masih positif adalah pertanian, pertumbuhan hingga 16,25%. Jika tidak digabung dengan kehutanan dan perikanan, pertumbuhan sektor pertanian saja bisa 22%. Itu yang membantu perekenomian Indonesia, salah satu penyumbangnya sektor tanaman hias.

Kami sangat mengapresiasi, karena sektor tanaman hias bisa menggerakkan perkonomian masyarakat. Harga mahal tanaman hias karena ketersedian terbatas. Faktor lainnya karena perbanyakannya sulit. Prinsip bisnis tanaman hias adalah tren. Ibarat pakain jika musim berganti akan berganti pula trennya. Mengoleksi dan memandangi tanaman hias berfungsi sebagai makanan jiwa. Jiwa sehat menjadikan daya tahan tubuh pun meningkat. Daya tahan tubuh baik sangat penting saat kondisi pandemi.

Sugita Wijaya
Pehobi Kaktus dan Sukulen

Sugita Wijaya                    (Dok. Sugita Wijaya)

Sejak wabah korona pada 2020 permintaan kaktus dan sukulen meningkat hingga 3 kali lipat. Banyak pehobi baru bermunculan karena kegiatan bekerja di rumah. Tren kini memadukan pot dan tanaman. Itu menambah antusias pehobi baru. Konsumen kaktus dan sukulen terutama pemuda kalangan menengah ke atas, sebab harga tanaman dan pot pun tidak murah. Harga pot saja Rp200.000—Rp1 juta. Adapun harga tanaman kaktus paling mahal Rp5 juta. Harga sukulen jenis caudeks Rp15 juta—Rp20 juta.

Tren kaktus dan sukulen tidak melulu di Jawa Timur, sudah seluruh Indonesia. Namun, tidak seramai aroid. Kaktus mulai ramai sejak 2015, kala itu harga gymnocalycium Rp50.000 kini Rp300.000—Rp500.000, kenaikan 12 kali lipat. Dulu impor mudah masuk, kini impor sulit dan barang makin terbatas. Produksi biji dalam negeri pun ramai. Tren kaktus dan sukulen pasti makin cerah seiring bertambahnya permintaan.

Prof. Dr. Ir. Masyhuri
Ahli Bisnis dari Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Prof. Dr. Ir. Masyhuri            (Dok. Masyhuri)

Bisnis tanaman hias meningkat karena permintaan tinggi. Konsumennya antara lain pehobi baru imbas kegiatan bekerja dari rumah, kolektor, dan orang kaya yang mengikuti tren. Adapun yang memenuhi permintaan adalah pengusaha yang memiliki sumber daya informasi, keterampilan, dan teknologi mumpuni. Barang yang dipasok heterogen atau beragam. Ada produk yang berharga mahal dan laku terjual. Tidak mudah menjual barang mahal, maka perlu keterampilan khusus bagi penjualnya.

Bisnis tanaman hias bisa jadi nyata dan semu. Artinya, keduanya mungkin terjadi. Itu dampak dari barang heterogen, perbedaan pengetahuan, dan pemahaman masyarakat. Unsur semu terletak pada monopoli dan oligopoli. Artinya terbatas pada pengusaha yang memiliki sumberdaya mumpuni yang merasakan keuntungan tinggi. Penentuan harga pun terbatas pada pengusaha yang memiliki kemampuan itu. Istilah monkey business atau bisnis kera sebetulnya tidak ada. Itu imbas masyarakat yang belum bisa memahami mengapa harga tanaman hias melambung. Terpenting jangan ikut berbisnis saat tren di akhir, sebab harga jualnya pasti turun. (Muhammad Fajar Ramdahan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img