Wednesday, January 28, 2026

Tren Tanaman Seharga Rumah

Rekomendasi
- Advertisement -
Pohon botol asal Amerika latin kini menghias taman di Indonesia.
Pohon botol asal Amerika latin kini menghias taman di Indonesia.

Mendapat tanaman unik dan langka memberi kepuasan dan kebanggaan bagi kolektor.

Sosok pohon botol memang unik, bentuknya seperti namanya: mirip botol. Pehobi di Malang, Provinsi Jawa Timur, Zainuddin Prakarsa—ia enggan disebut nama sebenarnya—jatuh cinta ketika melihat sosok pohon botol. Saking cintanya ia rela membayar Rp150-juta untuk memperoleh sebuah pohon botol Pachipodium lealii—namanya untuk menghormati geolog Portugis Fernando da Cosa Leal yang pertama kali mendiskripsikan pohon itu.

Harga itu setara harga rumah di daerah penyangga Jakarta. Pada Oktober 2015 ia menanam pohon berbatang menggembung, berdiameter 70—100 cm di halaman depan rumahnya. Tanaman pendatang asal Amerika selatan itu tingginya 8 meter. Tiga buah bambu menopang batang untuk menjaga keseimbangannya agar tegak. Ranting baru dan daun-daun segar mulai muncul. Batang yang menggembung dengan kulit retak-retak menunjukkan umur pohon itu sudah puluhan tahun.

Macrozamia moorei, encephalartos paling banyak dipakai untuk menghias.
Macrozamia moorei, encephalartos paling banyak dipakai untuk menghias.

Pohon langka
Zainuddin juga menanam sebuah Encephalartos trispinosus, Macrozamia moorei, dan Zamea furfuracea berukuran raksasa sebagai pengisi taman. Harga tanaman pendamping itu tak semahal pohon botol, hanya belasan juta rupiah per pokok. Menurut Hamdi, perawat taman, Zainuddin memang sangat gandrung dengan tanaman eksklusif yang langka. “Selama harganya masih sesuai, pohon istimewa dan langka yang ditawarkan pasti dibeli,” tuturnya.

Selain tanaman itu, masih ada pulai Alstonia scholaris, kigelia Kigelia africana besar, dan kurma Phoenix dactylifera menghiasi pojok-pojok halaman rumah itu. Di halaman belakang sebuah Macrozamia moorei setinggi 3 m menjadi penghias taman yang sangat menarik. Daun-daunnya rimbun dan menjuntai bak air mancur. Pohon botol, kigelia, pulai, dan macrozamia adalah beberapa tanaman yang kini lagi tren dihadirkan di halaman berukuran luas.

Batang unik dan berkarakter menjadi daya tarik tersendiri bagi pohon botol. Menurut perancang taman di Kota Depok, Jawa Barat, Hari Harjanto, kigelia dan pulai mempunyai bentuk dan “arsitektur” pohon yang bagus sehingga membuat bangunan menjadi lebih asri. Wajar bila kian banyak pemilik bangunan memburu tanaman itu dan menanamnya di halaman. Karena pohon-pohon itu langka, harganya pun ratusan juta rupiah.

Encephalartos hadirkan taman berpenampilan eksklusif.
Encephalartos hadirkan taman berpenampilan eksklusif.

Pencinta pohon botol malah harus mengimpor karena bukan tanaman asli Indonesia. Adapun kigelia dan pulai langka di alam. Harga mahal bukan hanya tanaman elemen taman. Tanaman hias dalam pot pun harganya tidak kalah tinggi. Encephalartos dan beberapa anggota palem-paleman menduduki peringkat atas dalam hal harga. Menurut kolektor tanaman di Malang, Saktia Pratista, encephalartos mahal lantaran keberadaannya di Afrika memang langka, terutama untuk jenis tertentu seperti, E. hirsutus dan E. woodii.

Harganya dihitung berdasarkan kualitas tanaman, hingga Rp3-juta per cm bonggol atau kaudeks untuk bentuk original atau Rp4,5-juta per cm bila sosoknya istimewa. Artinya, bonggol batang sebesar 10 cm, hanya bisa dimiliki dengan menebus seharga Rp25-juta hingga Rp45-juta. Namun, bila ukuran kaudeks di atas 20 cm, harganya tergantung kolektor karena ukuran sebesar itu sangat langka. Itu pun orang-orang tertentu yang berani membelinya.

Sukulen, ukuran mini, harga maksi.
Sukulen, ukuran mini, harga maksi.

Seleksi
Saktia Pratista mengisahkan seorang kenalannya membeli E. hirsutus berkaudeks di atas 20 cm dengan harga Rp93-juta. Pemilik beberapa lembaga keuangan itu memiliki 6 pot E. hirsutus, berbagai ukuran. Ada yang 9 cm, 10, cm, dan 20 cm. Pemilik usaha jasa angkutan dan travel itu membeli koleksi-koleksinya saat ukuran bonggol lebih kecil sehingga harganya lebih murah. Kini ia lebih selektif memilih tanaman koleksi. “Dulu saya ngawur beli tanaman dengan hanya melihat ukuran yang besar,” kata Pratista.

Seiring waktu pengetahuan akan tanaman koleksi kian memadai sehingga ia lebih selektif. Kualitas yang diinginkannya bila memilih encephalartos ialah daunnya bagus dan tebal, dan tampilannya istimewa. Selain encephalartos Pratista juga mengoleksi puluhan palem-paleman, sukulen, sansevieria, dan aglaonema. Bahkan 20 pot aglaonema moonlight baru saja tiba dari Jakarta.

Pehobi di Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menyeleksi satu per satu hingga tersisa yang betul-betul berkualitas. Selebihnya ia jual. Tak selamanya jalan untuk merawat tanaman kegemaran itu mulus. Pratista memperoleh Encephalartos arenarius berkaudeks 16 cm di sebuah nurseri di Surabaya. Harganya “cuma” Rp25-juta. Sayang, tanaman eksklusif itu berumur singkat. Hanya belasan hari setelah pembelian, tanaman anggota famili Zamiaceae itu mati.

Setelah itu ia membeli horridus di Pasuruan, Jawa Timur, Rp12,5-juta. Sayangnya, tanaman itu mati. Menurut ayah 2 anak itu kematian tanaman karena busuk pada kaudeksnya. Ia menduga saat pengiriman terjadi benturan atau saling gesek sehingga tanaman terluka. Akibatnya penyakit lebih mudah menyerang. Begitu juga koleksinya yang dibeli di Jakarta dan Sumatera mati bersamaan karena penanganan pengiriman yang kurang tepat.

Encephalartos hibrida berumur 65 tahun tumbuh di pot milik kolektor di Jakarta.
Encephalartos hibrida berumur 65 tahun tumbuh di pot milik kolektor di Jakarta.

Kisah pahit lainnya, jemuran pakaian roboh dan menimpa hirsutus yang baru tiba di rumah. Meski tidak mati, tangkai daun patah. Menurut Pratista kerugian akibat ence mati lebih dari Rp100-juta. Itu terjadi pada periode 2011—2013, saat masih belajar merawat. Kini pengetahuannya tentang encephalartos sudah memadai sehingga kematian tanaman kuno itu tidak terjadi lagi.

Sebenarnya di ekshibisi Flora Fauna 2015, Jakarta, beberapa transaksi fantastis tanaman hias terjadi. Di antaranya Macrozamia moorei berbonggol 50 cm senilai Rp30-juta dan sebuah encephalartos, hirsutus besar senilai Rp200-juta, anggrek besi Dendrobium violaceo-flavens 4 batang setinggi 2,5m dengan belasan tangkai bunga senilai Rp25-juta, anggrek Vandopsis sp dengan belasan batang senilai Rp12-juta.

Yang terakhir ialah Encephalartos kupidus x E. ferox, yang telah berumur 65 tahun di pot. Encephalartos hibrida berukuran kaudeks 60 cm dan memiliki 10 anakan terjual seharga Rp40-juta, yang dibeli oleh seorang kolektor di Jakarta Selatan. Menurut Rizamir, pemiliknya, sebenarnya ia sayang melepas tanaman itu karena pasti tidak akan menemukan tanaman serupa. (Syah Angkasa)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img