Thursday, January 29, 2026

Tujuh Hari Sembuh Lever

Rekomendasi
- Advertisement -

Vonis dokter kloter itu tidak terlalu mengejutkan kelahiran Yogyakarta 72 tahun silam itu. Hendro memang memiliki riwayat penyakit akibat infeksi virus itu. Semua bermula pada penghujung 1982. Waktu itu ayah 5 anak itu sedang sibuk-sibuknya mengemban tugas sebagai kepala Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Pangan di Bogor.

Ia juga aktif sebagai salah satu tim eksplorasi plasma nutfah bersama kolega dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan kalangan universitas. Nyaris setiap bulan Hendro keluar-masuk hutan di berbagai wilayah di Jawa. Kesibukan itu kerap membuatnya lupa untuk menjaga kesehatan tubuh. “Makan tidak teratur, kurang minum. Sementara pekerjaan menuntut stamina prima,” kenang kakek 5 cucu itu.

Panas tinggi

Benar saja. Sepulang eksplorasi mengumpulkan kekayaan ragam durian di Jawa Tengah, tubuh Hendro ambruk. Mulamula suhu badan meninggi mencapai 40oC selama seminggu berturut-turut. Tubuh pun terasa lesu dan perut mual sehingga malas makan. Saat berkemih, urine berwarna cokelat. Dokter umum yang memeriksa menyebut Hendro terkena fl u. Namun, tuntas meminum obat penyakit tak kunjung sembuh.

A l u m n u s U n i v e r s i t a s N a s i o n a l i t u lantas berikhtiar m e n d a t a n g I d o k t e r l a i n . Kali ini seorang dokter umum yang juga ahli gizi. Mendengar keluhan Hendro dan melihat gejala yang ada, paramedis itu menduga pria berkacamata itu terserang penyakit lever. “Dokter melihat kuku saya kuning, lidah putih. Itu ciri-ciri penderita lever,” kata Hendro.

Dosen pada Fakultas Pertanian IPB itu disarankan memeriksakan darah ke laboratorium. Hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi hati mengalami gangguan. Itu antara lain terlihat dari nilai SGOT, SGPT, dan bilirubin yang jauh di atas ambang normal. Hendro positif lever.

Vonis itu mengguncang psikis pria yang gemar main tenis itu. Akibatnya kondisi fisik kian memburuk. Hendro lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Untuk berjalan pun ia mesti merayap karena tubuh lemah. Bila bangkit dari tempat tidur, tubuh mesti disangga. Otomatis kegiatan kantor total ia tinggalkan.

Jatuh-bangun

Sayang, obat yang diberikan dokter lagi-lagi gagal mengatasi penyakit. Suhu tubuh memang menurun, tapi mual-mual masih mengganggu. Pengobatan alternatif lantas dilirik. Dari omong-omongan orang, didapat informasi meminum rebusan air kerang sawah alias kijing (bahasa Jawa, red) obat manjur untuk lever. Hendro cuma sanggup meminum sekali lantaran air rebusan tutut—begitu masyarakat Sunda menyebutnya—anyir.

Toh, ia pantang menyerah. Berikutnya giliran daun keluwih kuning yang diuyup. Namun, Hendro segera menghentikan karena ia jadi sulit berkemih. Pria yang pensiun pada 1995 itu lantas meminum seduhan akar bambu kuning. “Resep tradisional ini cocok, tapi susah sekali mencari bahannya,” keluh Hendro.

Jalan terang didapat dari seorang sinshe di Bogor kenalan sang istri. Herbalis itu memberikan sekantong ramuan berisi 15 macam simplisia. Di antaranya, umbi teki, kayu manis, kurma, kismis, dan beragam daun-daunan. Herba kering itu lantas direbus dalam 4 gelas air menggunakan kuali tanah hingga tersisa segelas. Air rebusan diminum untuk 2 kali. Hari berikutnya, ramuan sama direbus lagi dalam 3 gelas air menjadi 1 gelas. Hari ke-3, 2 gelas air; hari ke-4, 1 gelas air.

Hasilnya, kondisi Hendro membaik. Ia mulai mau makan dan bisa bangkit dari tempat tidur. M e l i h a t i t u , pengobatan pun dilanjutkan. Setiap 4 hari selama 3 bulan Hendro b o l a k – b a l i k k e tempat praktek sinshe. Selama itu pula obat medis dihentikan, terutama yang mengandung antibiotik. Sementara yang berupa vitamin boleh. Menurut sinshe yang merawat, bila obat medis diminum akan menetralisir kerja ramuan herba. Lagipula resep obat Cina sudah mengandung antibiotik juga. Prasyarat lain, Hendro mesti banyak makan gula aren dan minum air putih.

Kambuh

Tes darah dilakukan rutin untuk mengecek perkembangan penyakit. Tiga bulan berlalu, tes terakhir menunjukkan nilai SGOT, SGPT, dan bilirubin normal. Penyakit lever pun “terkalahkan”. Merasa kondisi tubuh membaik Hendro mulai aktif di kantor. Mahasiswa-mahasiswa bimbingan di kampus mulai kembali berkonsultasi pada dosen ilmu hortikultura itu. Belakangan ia pun diserahi amanat sebagai penanggung jawab izin impor komoditas hortikultura. Maka para importir bolak-balik bertandang untuk mendapat persetujuan Hendro.

Baru beberapa saat bekerja, gejala mual, suhu badan tinggi, dan tubuh lesu kembali menyerang. Urine pun mengeruh. Rupanya Hendro terlalu memforsir tubuh sehingga penyakit lever datang kembali. Mau tidak mau ia kembali istirahat total. Kali ini selain mengobati dengan ramuan milik sinshe di Bogor, Hendro meminum tablet asal Cina yang diberi seorang kolega.

Konon pien tjie huang—nama obat itu—cocok untuk penyembuhan penyakit akibat luka dalam seperti tipes dan lever. Total 6 bulan Hendro mengkonsumsi kombinasi ramuan herba dengan pien tjie huang secara bergantian. Akhir 1983 ia dinyatakan sembuh total.

Namun, awan mendung kembali menggantung dalam hidup pria yang gemar menulis itu pada 1987. Seminggu sebelum kepulangan ke Indonesia setelah menunaikan ibadah Haji, penyakit Hendro kumat. Badan terasa lemas, suhu tubuh tinggi, mual-mual, dan urine berwarna merah dan kental. “Saya sudah merasa ini pasti lever lagi,” kenangnya.

Bawang bombay

Benar saja, pemeriksaan dokter kloter menguatkan kekhawatiran itu. Rupanya karena terlalu letih, virus pengganggu lever kembali menyerang. Hendro sudah pasrah dijemput maut karena saat itu obat lever tidak tersedia. Pertolongan Yang Maha Kuasa datang begitu saja ketika Hendro tiba-tiba ingin menyantap bawang bombay segar. Kebetulan sang istri baru saja mendapat sebuah Allium  cepa merah dari seorang pedagang secara cuma-cuma.

Bawang bombay itu lantas diiris-iris dan dimakan dengan cocolan kecap. Tak diduga keesokan harinya, kondisi Hendro membaik. Urine pun kembali jernih. Penasaran dengan hasil itu, sebuah bawang bombay terus dikonsumsi setiap hari sampai tiba hari kepulangan. Sesampai di tanah air pria yang tetap sibuk meski sudah pensiun itu melakukan tes darah di laboratorium.

Hendro dinyatakan bebas gangguan lever. Dr Ali Khomsan, pakar nutrisi yang Trubus hubungi menyebutkan bawang bombay bersifat antiradang dan infeksi oleh virus maupun bakteri. Itu yang diduga bekerja mengatasi penyakit hati. R Broto Sudibyo, herbalis di Yogyakartamenguatkan hal itu. Menurutnya keluarga famili Liliaceae secara umum berkhasiat memperbaiki fungsi hati, antiinfl amasi, dan antiradang. (baca: Gudang Obat dalam Seiris Bawang halaman 32)

Makanya setiap kali Hendro merasakan gejala gangguan lever akibat kecapekan, bawang bombay yang dicari. Kini sekitar 15 tahun berselang derita itu tak dirasakan lagi. (Evy Syariefa)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img