Wednesday, January 28, 2026

Tumbuh di Kantong Susun

Rekomendasi
- Advertisement -

Teknologi vertikultur kantong untuk mewujudkan hobi bercocok tanam di perkotaan.

Rangkaian vertikultur kantong gantung menyulap dinding menjadi lahan budidaya sayuran.
Rangkaian vertikultur kantong gantung menyulap dinding menjadi lahan budidaya sayuran.

Halaman rumah Dadang Gusyana memang tak seberapa luas, hanya 24 m². Namun, warga, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu tak kehilangan akal untuk menyalurkan hobi bercocok tanam. Di dinding halaman depannya tampak bayam dan selada tumbuh di kantong kain. Ukuran kain itu 100 cm x 75 cm yang memuat 15 kantong. Di kantong itulah Dadang mengisi media tanam dan menanam bayam.

Karena posisi kantong bersusun-susun, Dadang menyebut teknik budidaya sayuran itu vertikultur kantong. Vertikultur adalah sistem budidaya bertingkat. Menurut Dadang sejatinya semua jenis tanaman sayur dapat tumbuh baik dalam kantong vertikultur itu. Master Agronomi alumnus Universitas Winaya Mukti, Bandung, itu mengatakan hampir semua tanaman sayur daun bisa tumbuh di kantong bertingkat.

Media terbatas
Dadang Gusyana mengatakan, “Saya menyarankan untuk pehobi pemula atau yang baru mencoba menggunakan rangkaian vertikultur kantong untuk menanam tanaman sayuran daun seperti sawi, kangung, dan kol merah sambil membiasakan dengan perawatannya.” Tanaman sayuran daun itu cepat panen, rata-rata 23 hari.

Dadang Gusyana di antara planting wall sayuran beraneka berwarna.
Dadang Gusyana di antara planting wall sayuran beraneka berwarna.

Menurut Dadang faktor penting dalam pemilihan tanaman adalah mengetahui karakter tanaman dan kesesuaian tempat tumbuh di kantong yang sangat terbatas. Terbatasnya media dalam kantong menjadi perhatian pehobi. Dadang mengatakan, pada dasarnya perlakuan rawatnya relatif sama dengan vertikultur dengan wadah media tanam lain. Namun, budidaya tanaman dalam sistem kantong itu pemenuhan kebutuhan air adalah skala prioritas utama.

“Bahan pembuat wadah yang terbuat dari kain berbentuk jaring membuat proses penguapan terjadi lebih cepat. Apalagi pehobi sengaja meletakkan lembaran kain itu di tempat yang terpapar sinar matahari untuk membantu pertumbuhan tanaman. Dampaknya laju evaporasi makin cepat. Sementara untuk pemberian pupuk dan bahan tambahan lain disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Salah satu komunitas yang memanfaatkan vertikultur kantong itu adalah Komunitas Jakarta Berkebun. Komunitas itu mengelola lahan di perumahan Casa Goya, Kecamatan Kemanggisan, Jakarta Barat. Menurut Muslim, pegiat senior di komunitas itu, mereka mengadopsi sistem itu untuk mengenalkan sebagai salah satu alternatif bentuk rangkaian untuk bercocok tanam sayuran masyarakat perkotaan, seperti di Jakarta. Komunitas itu kini memanfaatkan 3 papan vertikultur kantong yang masing-masing terdiri atas 15 lubang tanam.

Mereka membudidayakan beragam sayuran daun, seperti selada, bayam merah, dan kangkung. Saat ini sudah 2 tahun rangkaian kain berkantong itu dipasang di gerbang masuk area kebun. “Saat tanaman sayur di dalam kantong masuk masa panen, biasanya banyak orang yang untuk memotret karena daunnya terlihat lebat dan segar, selain itu juga memicu ketertarikan orang terhadap kegiatan urban farming,” ujar Muslim.

Solusi masyarakat urban

Muslim, anggota senior Komunitas Jakarta Berkebun.
Muslim, anggota senior Komunitas Jakarta Berkebun.

Menurut peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta, Dr Yudi Sastro, saat ini memang sedang mulai tumbuh kesadaran dan semangat bercocok tanam di masyarakat perkotaan. Vertikultur salah satu inovasi yang mampu memecahkan permasalahan klise yang dialami penduduk kota besar yaitu keterbatasan lahan.

“Walaupun bentuknya terlihat sederhana dan dapat ditempatkan di lahan sempit, rangkaian vertikultur kain berkantong sebagai wadah media tanam memang belum terlalu populer. Sebagian besar masyarakat masih membuat dari pipa polivinil klorida, pot yang disusun di atas papan kayu, dan pemanfaatan bahan daur ulang seperti plastik bekas air mineral,” ujar Yudi.

Sistem vertikultur planting wall sejatinya cukup lama dikenal dan dipraktikkan di luar negeri seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Salah satu pakar pertanian perkotaan dari Inggris yang mengaplikasikan adalah Mark Ridsdill Smith. Dalam tulisan “Gardening in Tiny Spaces” pada 2013, Smith menyarankan penggunaan kain katun berserat rapat sebagai bahan vertikultur.

Menurut Smith bahan itu dapat menyerap banyak air, namun masih dapat membuat media itu “bernapas” alias sirkulasi udaranya bagus. Menurut Smith pemilihan bahan yang mudah menyerap air terkait dengan kebiasaan masyarakat di negara-negara Eropa pada umumnya bekerja seharian dari pagi sampai sore dan kurang mempunyai waktu untuk memenuhi kebutuhan air harian.

VEL 1.pdfWalaupun termasuk masyarakat urban yang sibuk, keinginan bercocok tanam masyarakat perkotaan di Inggris cukup tinggi dengan memanfaatkan sisa lahan. Menurut Nurjaya, konsultan dan pakar urban farming dari Cipanas, Jawa Barat, penggunaan bebagai media dalam berkebun di lahan sempit dapat disesuaikan tergantung motivasi dan kondisi lingkungan pelakunya.

“Instalasi yang dibuat dengan bahan kayu, pipa polivinil klorida (PVC), atau pot yang disusun vertikal biasanya cocok dibuat untuk lahan pekarangan atau balkon gedung yang cukup luas. Adanya inovasi vertikultur sistem kantong itu mempermudah penempatan dan memerlukan luas lahan yang minim. Hanya perlu dinding atau alat penyangga supaya lembaran kain net itu dapat didirikan, kegiatan berkebun dapat segera dilaksanakan,” ujar Nurjaya. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img