Tuesday, December 16, 2025

Udang Indonesia Kembali Diterima di Pasar Amerika Serikat

Rekomendasi
- Advertisement -

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa udang Indonesia kembali diterima masuk ke Amerika Serikat setelah U.S. Food and Drug Administration (FDA) secara resmi menetapkan Badan Mutu KKP sebagai Certifying Entity (CE) untuk sertifikasi bebas Cesium-137 pada produk udang.

Penetapan ini menjadikan Indonesia negara pertama di dunia yang memperoleh mandat sertifikasi radiasi untuk sektor perikanan—sebuah preseden global yang mengubah orientasi dari crisis reaction menjadi standard setting nation.

Per 31 Oktober 2025, skema sertifikasi bebas Cs-137 mulai beroperasi penuh. KKP bersama BAPETEN dan Bea Cukai melepas ekspor udang ke Amerika Serikat sebanyak 7 kontainer dengan volume 106 ton senilai USD 1,22 juta atau sekitar Rp20,14 miliar. Produk ekspor tersebut telah memenuhi prosedur dan persyaratan Yellow List serta dipastikan bebas kontaminasi Cs-137 saat melewati Radiation Portal Monitor (RPM).

“Udang Indonesia masih bisa memenuhi pasar Amerika Serikat. Udang Indonesia punya cita rasa yang berbeda, dan kami akan terus melakukan pengendalian. Target kami pada November ini bisa lebih dari 200 kontainer yang diekspor dengan syarat bebas Cesium,” ungkap Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/11).

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik, Doni Ismanto Darwin, menambahkan bahwa pemerintah serius menangani permasalahan temuan radioaktif Cesium-137 pada komoditas ekspor Indonesia. KKP bersama kementerian dan lembaga terkait segera mengambil langkah strategis, mulai dari audit lapangan hingga penguatan fasilitas laboratorium.

“Dalam kasus ini terbukti negara hadir. Kita tidak diam. Dalam hitungan hari, tim teknis lintas lembaga—dari KKP, BAPETEN, KLHK, sampai otoritas AS—langsung bekerja sama. Kita buka data, audit lapangan, perbaiki SOP, perkuat laboratorium, dan dalam waktu 2–3 bulan, Indonesia berhasil kembali menembus pasar AS dengan mekanisme sertifikasi yang diakui FDA. Ini bukan sekadar pemulihan ekspor, tapi bukti bahwa kita memiliki infrastruktur mutu yang responsif, transparan, dan dipercaya secara global,” ujar Doni.

Kinerja Ekspor ke AS

Udang masih menjadi komoditas utama ekspor produk perikanan Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,397 miliar pada periode Januari–September 2025. Diikuti oleh Tuna–Cakalang–Tongkol (USD 763,51 juta), Cumi–Sotong–Gurita (USD 574,75 juta), Rajungan–Kepiting (USD 377,65 juta), dan Rumput Laut (USD 233,86 juta).

Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor udang, dengan pangsa 63,1% dari total ekspor udang Indonesia. Ekspor ke AS periode Januari–September meningkat 16,3% (YoY), sementara ekspor bulan September 2025 tumbuh 16,6% dibandingkan Agustus 2025.

“Ekspor udang masih mengalami peningkatan hingga September. Ini menunjukkan bahwa kita mampu memulihkan kondisi dengan cepat, terbukti dari pertumbuhan ekspor sampai triwulan III,” kata Direktur Pemberdayaan Usaha PDSPKP, Catur Sarwanto.

Dari sisi hulu, KKP mengawal penuh proses produksi untuk memastikan udang hasil budidaya memiliki mutu dan kualitas yang baik. Direktur Ikan Air Payau Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Fernando Jongguran Simanjuntak, menjelaskan bahwa pengawalan dilakukan melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

“Kami mengintensifkan kegiatan di tengah-tengah petambak melalui CBIB, sehingga ada jaminan mutu terhadap produk udang yang dihasilkan. Bukan hanya mutu, tapi juga keamanan pangan dan kelestarian lingkungan. Dengan begitu, udang Indonesia memiliki kualitas terbaik,” ujar Fernando.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa temuan Cs-137 pada Juli 2025 merupakan kasus lokal spesifik (site-specific contamination) di PT BMS Cikande–Serang. Temuan itu bukan berasal dari tambak, hatchery, atau sistem budidaya. Nilai deteksi ±68 Bq/kg yang dicatat FDA berada jauh di bawah ambang Derived Intervention Level (1.200 Bq/kg).

Pemerintah Indonesia memilih jalur kepemimpinan (leadership approach), bukan berargumentasi, melainkan menunjukkan zero compromise melalui data, sains, dan pengendalian resmi (official control) yang dapat diverifikasi secara internasional.

Artikel Terbaru

Cuaca Ekstrem Warnai Libur Nataru, Pakar Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan

Cuaca yang kian tidak menentu mewarnai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode yang lazim dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata....

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img