Thursday, January 29, 2026

Yang Bertahan di Tengah Ancaman

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Produksi mangga di Indramayu, Jawa Barat, anjlok akibat guyuran hujan terus-menerus saat kemarauBalai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) Kementerian Pertanian Republik Indonesia, melakukan penelitian simulasi zonasi curah  hujan  dan  anomalinya  untuk  periode 2010 – 2039 berdasarkan model Action de Recherche Petite Echelle Grande Echelle (ARPEGE) Climat versi 3.0. Disebutkan pada periode  April–September 2010, misalnya, wilayah dengan curah hujan 5–7 mm/hari makin meluas. Bahkan, zona hujan di atas 10 mm/hari terbentuk di atas Laut Jawa.

Padahal, semestinya periode itu sebagian besar daerah di tanahair nyaris tanpa hujan akibat kemarau. Oleh karenanya, petani padi yang butuh banyak pasokan air biasanya beralih mengebunkan komoditas yang tidak memerlukan genangan seperti melon dan semangka.

“Namun, meski kemarau menjadi kendala karena pasokan air berkurang, tapi kehadirannya sebenarnya diperlukan untuk memicu pembuahan pada tanaman buah tahunan seperti mangga, durian, dan manggis,” papar ahli buah, Dr Reza Tirtawinata. Cekaman kemarau menyebabkan tanaman merasa terancam dan akhirnya berbunga dan berbuah untuk menghasilkan biji yang nantinya menjadi penerus  bagi kelangsungan hidupnya. Saat tanaman menghasilkan buah, itulah masa pekebun menuai untung.

Terbukti

Hujan yang justru mengguyur lahan pada April – September 2010 membuat pekebun kalang-kabut.  Di Kulonprogo, Yogyakarta, para pekebun melon gagal panen akibat lahannya terendam air. Menoreh, durian unggul di bukit Menoreh, Kulonprogo, pun mogok berbuah. Kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) Institut Pertanian Bogor, Sobir PhD, menyebutkan, produksi mangga, manggis, dan rambutan pada 2010 anjlok.

Toh, gempuran hujan di luar musim tak membuat pekebun patah arang. Suprayitna, misalnya, bertahan menanam melon di lahan 3 ha. Harap mafhum, ia terikat kontrak dengan pedagang dan perusahaan pemasok pasar swalayan. Untuk mengatasi berbagai kendala akibat curah hujan tinggi, ia menyusun strategi budidaya bermodal murah, tapi produktivitas tanaman tetap tinggi. (baca: Melon Tiang Jemuran, Antihujan Produksi Menjulang, halaman 60 – 62).

Pekebun lain bukan sekadar bertahan dari gempuran hujan, tapi juga melakukan gebrakan. Syahril Sidik di Cirebon, Jawa Barat, mampu mendongkrak produktivitas mangga berumur            70 tahun dari 15 kg mangga/pohon/tahun, menjadi 250 – 450 kg. Kuncinya, penggunaan perangsang bunga berbahan organik. (baca: Dongkrak Produksi 20 Kali Lipat halaman 64 – 66). Perangsangan tepat juga membuat Isto Suwarno sukses membuahkan lengkeng lokal umur 40 tahun untuk pertama kali, bahkan di dataran rendah dan ketika pohon lengkeng lain enggan berbuah. (baca: Lengkeng Lokal: Sekali Suntik Banjir Buah, halaman 68 – 70)

Sobir menuturkan kegigihan para pekebun untuk mengatasi berbagai kendala akibat perubahan iklim itu semestinya dicontoh pekebun lain. Toh pengorbanan, misalnya berupa tambahan biaya produksi,  berujung  manis. Pekebun tetap mendulang laba meski berbagai kendala menerpa. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img