Friday, December 2, 2022

Zalacca Salin Rupa

Rekomendasi
Bakwan salak bercita rasa enak dan gurihdengan tambahan aroma salak
Bakwan salak bercita rasa enak dan gurih dengan tambahan aroma salak

Bakso salak yang tersaji di sebuah pesta pernikahan di Tapanuli Selatan itu ludes diserbu hadirin.

Di pesta itu kedua mempelai tampak semringah dengan dandanan bak raja dan ratu. Begitu pun para tamu undangan. Wajah mereka memancarkan kegembiraan. Serangkaian seremoni pernikahan telah selesai. Kini giliran para tamu mencicipi hidangan.

Dari sebuah gubuk bakso menguar aroma nan menggoda selera tapi tak biasa. Bukan aroma daging yang tercium, tapi bau salak yang menyegarkan. Harap maklum si empunya hajat memang menyediakan bakso tak biasa. Aroma menyegarkan itu karena bakso terbuat dari bahan baku daging buah salak Salacca zalacca; bukan daging sapi atau ikan seperti lazimnya.

Penampilan bakso salak itu sama seperti bakso pada umumnya. Bentuknya bulat dan menggoda selera. “Rasa bakso salak manis dan sepat,” kata Gulma Mendrofa, sang kreator bakso salak. Berakhirnya acara resepsi, tandas pula hidangan bakso salak.

Terbuang

Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Suyanti Satuhu BSc, mengatakan bakso salak termasuk olahan baru. Menurut Suyanti lazimnya salak diolah menjadi minuman, manisan, selai, dan dodol. “Dalam mengolah salak mesti diperhatikan jenis salak dan olahan yang mau dibuat,” kata periset yang banyak meneliti tentang olahan buah itu.

Salak bercita rasa manis misalnya cocok untuk dibuat menjadi minuman atau manisan. Salak berdaging buah tebal dan bertekstur keras lebih pas menjadi bahan baku asinan. Koki profesional di Hotel Dharmawangsa, Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, Vindex Valentino Tengger, pernah memadukan irisan salak segar dalam masakan berbahan baku udang.

Gulma Mendrofa tergerak mengolah bakso salak setelah pada 2008 melihat banyak buah di sentra produksi di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terbuang percuma. Gulma memperkirakan saat panen raya pada periode Juni-Oktober setiap hari sebanyak 30 ton buah tanaman anggota famili Arecaceae itu menjadi limbah. “Saat itu muncul ide membuat aneka olahan salak untuk menyerap hasil panen petani sekaligus memberi nilai tambah,” kata Gulma. Lagipula belum ada kuliner salak di sana.

Gagasan baik itu justru mendapat cibiran dari banyak orang. Apalagi ketika mereka mengetahui ayah 2 anak itu berniat membuat bakso salak. “Saya dianggap gila oleh mereka,” ucap pria tamatan SMA itu. Toh itu tak menyurutkan langkah Gulma. Pemilik 5 ha lahan salak itu memilih bakso karena makanan itu banyak digemari masyarakat.

Gulma mengupas salak silangan sidempuan dengan sibangkua itu, menghaluskannya, kemudian mencampur dengan tepung kanji, tepung terigu, dan tepung sagu. Komposisi bakso salak terdiri atas 60% daging buah salak, sisanya tepung dan bumbu lain seperti bawang merah dan bawang  putih. Berbeda dengan bakso apel, pir, dan stroberi yang dijual di Jakarta. Kehadiran buah-buahan hanya sebagai bahan pengisi.

Gulma juga membidani kelahiran olahan lain. Misal bakwan, sirop, madu, dodol, agar-agar, dan keripik. Untuk membuat sirop Gulma memilih bahan baku salak sidempuan. Ia memeras salak dan mengambil sarinya. Kemudian menambahkan 15% gula. Selain itu ia merendam akar haramambo, tanaman asli setempat, selama 45 menit di dalam sari salak. “Akar tanaman itu berfungsi agar sirop tidak cepat rusak sekaligus berkhasiat sebagai penambah energi,” ujar Gulma yang dalam sebulan mampu memproduksi 10.000 botol sirop salak.

Proses pembuatan madu salak sebetulnya mirip dengan sirop. Hanya saja bahan bakunya 5 jenis salak lokal. Jadi bukan madu hasil kerja lebah madu mengambil nektar bunga salak. Untuk membuat aneka olahan itu Gulma melibatkan petani dalam sebuah wadah Koperasi Agro Rimba Nusantara (Agrina). Sebelum koperasi itu berdiri, tidak ada industri pengolahan salak di Tapanuli Selatan. Dalam koperasi itu petani berperan sebagai pemasok buah segar untuk bahan baku, pekerja bagian produksi, dan pengurus. Saat ini sebanyak 154 orang petani bergabung di koperasi.

Hasil penelitian Cici Mutiara Syarif, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, menunjukkan kehadiran industri pengolahan salak meningkatkan pendapatan petani dan membuka lapangan pekerjaan. Riset ilmiah pada 2009 itu menunjukkan pendapatan petani meningkat menjadi Rp2-juta per bulan, semula Rp800.000 karena memasok buah segar sebagai bahan baku olahan. Sebelum ada industri pengolahan salak, jumlah tenaga kerja yang terserap di kebun petani rata-rata sebanyak 11 orang. Ketika industri pengolahan salak berdiri, tenaga kerja pada petani salak rata-rata mencapai 14 orang. (Riefza Vebriansyah)

Keterangan Foto :

  1. Bakso salak menambah varian bakso di Medan dan sekitarnya
  2. Bakwan salak bercita rasa enak dan gurih dengan tambahan aroma salak
  3. Gulma Mendrofa pelopor berbagai olahan salak di Tapanuli Selatan
  4. Sirop sawo kecik bercita rasa manis dan beraroma khas
  5. Perpaduan 5 jenis salak di Tapanuli Selatan tergabung dalam madu salak

 

Sirop sawo kecik bercita rasa manis dan beraroma khas
Sirop sawo kecik bercita rasa manis dan beraroma khas
[box type=”shadow” ]Sirop Sawo Kecik
Anda penggemar sirop? Cobalah mencicip sirop sawo kecik. Kreasi unik itu hasil karya mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Yogyakarta, Satria Agung Nugroho, Abi Susetyo P, dan Iwuk Wijayanti. Semua itu bermula saat ketiganya mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Satria dan rekan memilih mengolah buah sawo kecik Manilkara kauki karena kerap melihat buahnya terbuang. Mereka dibantu oleh Edi Yulianto dan Ami Nurhayati lalu memilih sawo kecik dan sawo manila matang. Bahan baku sawo kecik berasal dari tanaman di sekitar Tamansari di kawasan Keraton Yogyakarta dan sekitar rektorat universitas.
Mereka lalu memisahkan daging buah dan biji, kemudian memblender, dan menyaring sari buahnya. Sari buah itu yang dipanaskan dan ditambahkan gula. Setelah dingin sari buah sawo kecik dan manila siap dimasukkan ke dalam botol. Semula Satria dan rekan mencoba memproduksi sirop jamblang. Sayangnya ketersediaan duwet Eugenia cumini di masyarakat sedikit. “Jamblang hanya ada pada musim tertentu. Itu menyulitkan pembuatan sirop ke depannya,” kata dosen sekaligus pembimbing Satria dan rekan, Dra Tri Kartika Handayani MPd. Pohon sawo kecik justru mudah ditemui di Kota Gudeg, terutama daerah tempat abdi dalam keraton bermukim. “Dahulu hanya abdi dalam keraton yang diperbolehkan menanam sawo kecik,” kata Tri. Kini Satria dan rekan memproduksi massal temuan mereka tergantung pesanan yang masuk. “Respon konsumen cukup bagus dengan kehadiran sirop sawo kecik,” ucap Satria. (Riefza Vebriansyah)[/box]

 

Previous articleMusuh Ulat Grayak
Next articleTrotol pun Pergi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img