Wednesday, January 28, 2026

Jamaika Turun Gunung

Rekomendasi
- Advertisement -

Jambu bol jamaika grade A, bobot per buah mencapai 250—300 gJambu bol jumbo berwarna merah menyala di toko-toko buah modern di Jakarta itu datang dari kaki Gunung Salak.

Suasana asri langsung terlihat saat Trubus memasuki gerbang kawasan kebun Alam Desa Tapos (Aldepos) di Desa Tapos 2, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Di kanan dan kiri jalan kebun berpaving block yang hanya cukup dilalui satu mobil itu berderet pohon rambutan, mangga, dan durian yang tumbuh subur. Sejauh mata memandang tersaji hamparan hijau.

Mizan, kepala kebun PT AldeposPemandangan spektakuler terpampang di areal kebun berjarak sekitar 20 m dari pintu gerbang. Di sana berderet rapi 2.500 pohon jambu bol jamaika Syzygium malaccense di areal seluas 20 ha. Itulah kebun jamaika terluas yang pernah Trubus sambangi.

Pasar modern

“Kebun jambu jamaika dengan populasi sebanyak itu tergolong besar. Selama ini belum ada yang mengebunkannya dalam skala luas,” ujar ahli buah di Kota Bogor,          Ir Wijaya MS. Sebagian besar pekebun jambu jamaika mengelola kebun seluas kurang dari 1 ha. Kebun besar lain misalnya milik Thoriq Basalamah di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Thoriq menanam seluas 1 ha dengan populasi 250 tanaman. Thoriq mulai memanen pada 2005 saat tanaman berumur 5 tahun. Saat ini produktivitas tanaman mencapai 2 ton per ha per musim. Thoriq memasarkan jambu jamaika van Leuwiliang itu ke pedagang yang datang langsung untuk membeli.

Di Aldepos bentuk tajuk tampak seragam menyerupai pagoda, pertanda kerabat jambu air itu rutin dipangkas. Pada beberapa tanaman yang pada saat ini memasuki umur 10 tahun terlihat dompolan buah berukuran sekepalan tangan orang dewasa menyembul di antara rimbunnya dedaunan.

Sayang saat Trubus berkunjung pada pertengahan Maret 2013, jambu jamaika yang tumbuh di kaki Gunung Salak itu belum memasuki masa berbuah puncak. “Biasanya panen raya pada setiap Mei,” ujar Mizan, pengelola kebun. Masa panen raya berlangsung hingga Agustus. Selama kurun waktu itu, PT Aldepos Salaca memanen rata-rata 70 kg per pohon. Pada September produksi turun menjadi hanya 25% dari jumlah produksi saat panen raya.

Aldepos menjual sebagian besar hasil panen ke pasar swalayan seperti Ranch Market, Carefour, Matahari, Hypermart, Food Hall, Kemchik, Superindo, Giant, dan Farmer Market.  Perusahaan yang mengelola tempat rekreasi agrowisata itu juga memasok gerai buah seperti All Fresh, Total Buah, Jakarta Fruit Market, Kamome, dan Fruit Fresh Center. “Untuk memasok pasar itu biasanya buah yang termasuk grade A,” ujar Mizan.

Grade A merupakan kualitas buah terbaik:  bobot 250—300 g per buah, kulit buah mulus dan berwarna cerah. Harga jual grade premium itu mencapai Rp40.000 per kg. Dari seluruh hasil panen, 70% di antaranya masuk dalam grade A.

Sebanyak 20% lainnya masuk dalam grade B yang berukuran buah lebih kecil, rata-rata berbobot 170—200 g per buah. Buah grade B biasanya dijual langsung kepada pengunjung agrowisata Alam Desa Tapos. Harga jual Rp27.500 per kg. Sementara sisanya masuk dalam grade C. Buah grade terendah itu biasanya untuk pasokan ke pasar-pasar tradisional dengan harga Rp10.000 per kg.

Di luar rencana

Menurut Mizan, penanaman jambu jamaika sebetulnya di luar perencanaan usaha PT Aldepos Salaca. “Saat membeli lahan untuk kawasan wisata ini sudah ada 70 pohon jambu jamaika,” ujarnya. Perusahaan yang membuka kawasan wisata pada 20 Desember 2007 itu mempertahankan jambu bol jumbo itu sebagai salah satu elemen kawasan agrowisata. Tak disangka kehadiran tanaman anggota famili Myrtaceae itu mencuri perhatian para pengunjung lantaran sosok buah yang jumbo. “Respon pasar juga ternyata menggiurkan,” kata Mizan.

Oleh karena itu bermodal 70 pohon induk para pekerja memperbanyak tanaman secara vegetatif dengan teknik okulasi. Mereka menggunakan batang bawah jambu jamaika asal biji. Populasi jambu jamaika menjadi 2.500 tanaman. Pekerja merawat tanaman kerabat jambu biji itu secara intensif. Salah satunya dengan melakukan pemangkasan rutin.

Pemangkasan membetuk tajuk menjadi lebih seragam, sekaligus memperlancar sirkulasi udara agar iklim mikro di sekitar tanaman tidak lembap. Maklum, lokasi kebun di kawasan bercurah hujan tinggi, mencapai 1.500 mm per tahun. Kondisi iklim mikro yang terlalu lembap dapat mengundang cendawan dan bakteri penyebab penyakit.  Pemangkasan juga bertujuan agar tanaman memperoleh sinar matahari secara merata.

“Jika tidak dipangkas maka daun akan saling menutupi sehingga fotosintesis kurang optimal,” kata Mizan. Sebagai sumber nutrisi Mizan meramu pupuk sendiri. Sayang pria kelahiran 1963 itu enggan menyebutkan secara rinci ramuan pupuk itu. Ia memberikan pupuk setiap 6 bulan sekali  dengan dosis 1.000 g per pohon.

Aldepos Salaca juga membuat sungai-sungai buatan yang melintasi areal kebun. Sumber air berasal dari mata air yang tersebar di sekitar area kebun. Di bagian hulu pekerja membuat kolam penampungan yang juga dimanfaatkan untuk ternak ikan mas. Parit-parit itu menjadi sumber air sekaligus sumber nutrisi alami tambahan karena mengandung kotoran ikan dan sisa pakan yang kaya protein.

Di kaki Gunung Salak jambu jamaika asal okulasi mulai berbuah pada umur 2,5 tahun. Mizan melakukan penjarangan agar buah mencapai ukuran optimal. Dengan perlakuan intensif itu pantas bila hasil panen berkualitas prima sehingga banyak   diminati pasar. “Permintaan masih tinggi dan hingga saat ini belum terpenuhi. Karena itu kami berencana bermitra dengan pekebun di sekitar Bogor,” ujar Mizan yang menargetkan penambahan  populasi  menjadi  5.000 pohon.  (Rizky Fadhilah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img