Sunday, August 14, 2022

Juara Rasa Juara Warna

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sari manis mengungguli pesaingnya karena warna kuning yang menarikCitarasa dan warna daging buah kuning menyala menjadi andalan sari manis meraih juara.

Kesibukan Sugito kian meningkat   setiap September—Desember. Saat itulah pohon durian berjarak 1 km dari kediamannya di Desa Sonorejo, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, mulai memasuki musim berbunga. Pengepul durian  itu membenamkan 1 kg Urea dan 2 kg pupuk kalsium pada pohon berumur 20 tahun itu. Ia juga memberikan zat perangsang tumbuh dengan dosis sesuai anjuran dalam kemasan. “Tujuannya agar buah yang dihasilkan berkualitas prima,” katanya.

Mitro Munda (berpeci) pemilik durian sari manis dan Sugito (berkumis) di lokasi pohon indukSelang 6—7 bulan kemudian buah siap panen. Dalam sepekan biasanya Sugito 3 hari sekali menyambangi pohon untuk mengambil 10—20 buah dari pohon setinggi 20 meter. Ia lalu membawa hasil panen  ke kediaman, tempat ia menjajakan sari manis, nama durian itu.

Harga premium

Nama elok itu layak dilekatkan pada buah raja itu. Citarasa daging buah dominan manis dengan tekstur lembut dan halus. Warna daging buah kuning menggugah selera para maniak untuk mencicip. Tidak heran bila sari manis memiliki banyak penggemar. Pelanggan Durio zibethinus itu tidak hanya dari Magelang, beberapa di antaranya datang dari Bandung dan Cirebon, keduanya di Provinsi Jawa Barat.

Dalam satu musim Sugito rata-rata menuai 80 buah sari manis. Ia menjualnya dengan harga Rp60.000 per buah berbobot 3 kg. Harga itu tergolong premium. Durian biasa berukuran sama biasanya hanya dibandrol Rp30.000 per butir.

Keunggulan sari manis tak hanya teruji di lidah para pelanggan, tapi juga oleh para juri pada kontes durian bertajuk Festival Durian Lokal dan Buah Eksotis Magelang 2013. Para juri yang terdiri atas Agus Muryono dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Tanaman Pangan Kabupaten Magelang, Budi Hartanto (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Magelang), Agus Liem (Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Magelang), Panca Jarot Santoso (Komunitas Maniak Durian), Sidhi Widiarsih (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang), serta Agung Wibowo dan Bambang Sutrisno (maniak durian di Magelang), menabalkan sari manis sebagai juara dengan jumlah nilai 493.

Sari manis sukses mengalahkan 37 durian terbaik lainnya. Raja buah itu unggul karena, “Daging buah kuning, pulen, dan manis,” kata Panca Jarot Santoso, periset di Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian. Sayang, sang pemenang berdaging tipis hanya sekitar 0,5 cm.

Hujan rontok

Sari manis bersaing ketat dengan durian edi peni. Keungulan durian asal Desa Tegalsari, Kecamatan Candimulyo itu, “Daging buahnya tebal hingga 3 cm,” ujar Bambang Sutrisno, juri kontes. Jarot menuturkan edi peni berbiji kempis hingga seruas jari. Sayangnya menurut Bambang Sutrisno warna daging buah edi peni kurang menarik karena hanya putih kekuningan.

Kompetisi yang diselenggarakan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Magelang itu diikuti 38 Durio zibethinus. Jumlah peserta itu menurun dibanding tahun lalu (43 peserta). “Musim hujan menyebabkan bunga rontok sehingga produktivitas durian di Magelang turun hingga 70%,” ujar Surajiman, penanggung jawab kontes.

Selang 8 hari, nun di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, juga berlangsung kompetisi durian. Bedanya kontes itu khusus untuk melombakan durian berdaging buah merah. Sejak tiga tahun silam kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu memang sohor sebagai gudangnya durian merah. “Hingga saat ini terdapat 31 varietas durian merah di Banyuwangi. Tujuan kontes ini mencari  durian merah unggul yang layak dikembangkan,” kata Eko Mulyanto, staf Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang juga getol mengeksplorasi durian merah. Kontes pada 9 Maret 2013 itu diikuti 11 peserta.

Dalam kontes itu setiap peserta mesti memenuhi beberapa persyaratan. Dua bulan menjelang lomba pohon durian kontestan mendapat pupuk berisi unsur mikro berkonsentrasi 100—1.000 ppm tiap pohon. Pemberian pupuk 2 kali seminggu. Durian yang menjadi peserta sudah 3 hari  jatuh, bukan yang baru dipanen. “Tujuannya mengetahui daya tahan buah. Durian yang pecah tidak boleh melaju ke babak final,” tutur Eko yang menjadi salah seorang juri.

Merah terbaik

Akhirnya 5 dari 11 peserta lolos seleksi daya tahan buah: durian pelangi banyuwangi, dubang baru, talun jeruk, petang, dan plantaran. Para finalis itu hadir dengan penampilan maksimal sehingga kontes berlangsung sengit. Pantas saja juri memerlukan waktu hingga 3,5 jam untuk menentukan raja buah berdaging merah terbaik.

Hasil penilaian para juri—Eko Mulyanto, Lutfi Bansir, dan Rusmiati—menabalkan pelangi banyuwangi sebagai yang terbaik. Durian itu sukses menundukkan pesaing terberatnya: dubang baru. Pelangi banyuwangi unggul karena, “Rasanya manis dengan sedikit sensasi pahit, tekstur lembut dan terasa lengket di lidah,” ujar  Lutfi, peneliti durian dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. “Aroma khas durian juga masih menguar meski sudah 3 hari jatuh,” kata Eko, sarjana pertanian  Universitas Nusantara Manado, itu.

Yang istimewa, gradasi warna seperti pelangi pun tetap terlihat cerah. Rencananya pengembangan durian merah akan fokus pada jenis dengan warna yang menarik, berukuran sedang, dan rasa top. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img