Trubus.id — Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor rata-rata gandum Indonesia 5 tahun terakhir mencapai 10–11 juta ton per tahun. Impor bahan pangan itu relatif meningkat saban tahun. Harus ada upaya untuk mengurangi ketergantungan impor itu.
Pasalnya, gandum susah untuk dibudidayakan di Indonesia. Kendati demikian, sebetulnya Indonesia sangat kaya sumber karbohidrat yang berpeluang menggantikan tepung terigu (tepung dari biji gandum).
Salah satunya, sorgum yang tumbuh baik di lahan kering seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian Pulau Jawa dan Sulawesi. Nilai nutrisinya pun sangat baik.
Menurut Dr. Supriyanto, M.Sc., DEA., periset sorgum di Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop), persoalan makanan adalah persoalan lidah atau rasa. Sorgum harus diolah menjadi berbagai produk turunan seperti kue kering atau campuran terigu.
“Kehebatan tepung sorgum adalah kaya protein, bebas gluten, kaya mineral, tidak mudah basi, dan awet kenyang,” kata Supriyanto.
Selain itu, jika sorgum dibuat nasi siap saji dan dipadukan dengan gulai atau ikan kalengan sangat enak. Di Aljazair, Maroko, dan Ethiopia olahan itu dikenal dengang nama Couscous (baca: Kuskus).
Agar harganya terjangkau, harus diproduksi skala massal dan memodernisasi peralatan agar lebih efisien dan mencari nilai tambah dari setiap bagian tanaman sorgum. Peluang pemasaran produk berbasis sorgum harus menonjolkan nilai keunggulan dari produk turunannya. Misalnya, tepung gluteen free, gula rendah glucemic index, dan kecap steak.
Agar sorgum langgeng, idealnya mesti ada off taker atau badan yang mampu menjamin pembelian hasil yang berfungsi seperti Badan Urusan Logistik (Bulog). Badan itu berperan mengembangkan industri berbasis sorgum, pemetaan wilayah penghasil sorgum, serta melihat peluang pasar dan berusaha menjualnya ke pasar mancanegara.
