Trubus.id—Domba komposit garut agrinak salah satu domba unggul di Indonesia. Domba itu merupakan hasil pemuliaan peneliti di Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ismeth Inounu, M.Si.
Nama komposit digunakan karena domba itu merupakan campuran dari beberapa bangsa domba. Ismeth mengawinkan pejantan saint croix (HH) dengan betina garut (GG) pada 1995.
Domba asal Amerika Serikat itu memiliki kerangka tubuh besar dan berbulu lurus sehingga cocok hidup di Indonesia yang beriklim tropis. Hasil persilangan itu melahirkan domba HG atau 50% garut : 50% saint croix.
Setahun berselang Ismeth menyilangkan domba jantan moulton charollais (MM) dengan betina domba garut (GG) melalui teknologi inseminasi buatan (IB) sehingga menghasilkan domba MG.
Moulton charollais berdaya tumbuh tinggi, sifat keindukan bagus, dan produksi susu tinggi. Kemudian Ismeth mengawinkan domba HG dan MG dan menghasilkan domba MHG atau HMG.
Selanjutnya ia mengawinkan kedua domba itu sehingga membentuk domba komposit garut agrinak. Komposisi gen 50% domba garut, 25% moulton charollais, dan 25% st. croix. Ismeth dan tim membidani kelahiran domba komposit garut agrinak melalui proses panjang.
Mereka menyeleksi hingga 6 generasi selama 23 tahun. Hasilnya terbukti ajek dan memunculkan sifat unggul. Postur domba komposit garut agrinak lebih besar dibandingkan dengan tetuanya. Warna tubuh dominan putih dan cokelat pucat.
“Kadang-kadang ada bintik-bintik cokelat di daerah hidung, mata, dan kaki,” kata Ismeth.
Kepala dominan putih dengan bentuk muka cembung dan hidung melebar. Bentuk tubuh oval, silinder, dan tegap dengan punggung lurus. Telinga medium mengarah ke depan. Untuk jantan sebagian besar bertanduk dan betina tidak bertanduk.
Domba anyar itu memiliki konversi rasio pakan (FCR) 10,7. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging, seekor domba menghabiskan 10,7 kg pakan. Menurut Ismeth pemberian pakan sebaiknya mengandung 14% protein kasar, total digestible nutrient (TDN) sebanyak 68 % atau sekitar 2% dari bobot badan, dan pakan hijauan 10% dari bobot badan.
Menurut peneliti di Balai Pengujian Standar Instrumen Unggas dan Aneka Ternak, Ir. Bambang Setiadi, M.S., peruntukan domba komposit garut agrinak sebagai penghasil daging. Hasil seleksi domba komposit garut agrinak menunjukkan rataan ukuran tubuh dan bobot badan relatif seragam dengan koefisien variasi kurang dari 10%.
Menurut Bambang untuk meraih bobot optimal pemberian pakan tepat nutrisi. “Pola pemeliharaan domba komposit agrinak mestinya secara intensif. Pada pemeliharaan yang semi intensif kurang menunjukkan keunggulan,” kata Bambang.
Ismeth optimis masyarakat menyukai domba anyar itu lantaran menghasilkan daging yang banyak pada umur muda. “Dari segi keempukan dan rasa sangat disukai konsumen,” tutur Magister Sains Pemulian Ternak alumnus Institut Pertanian Bogor.
Menurut Bambang domba komposit garut agrinak merupakan rumpun domba unggul yang stabil. Lebih lanjut ia menuturkan, melalui program inseminasi buatan, Balai Inseminasi Buatan dapat mengambil semen pejantan domba komposit garut agrinak.
Namun, pengembangan domba komposit garut agrinak agar memiliki performa stabil perlu dikelola secara intensif.
