Friday, January 16, 2026

Elusan Memicu Gairah Latihan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Meskipun anjing dewasa senang elusan, pujian berupa kata-kata tetap perlu dilakukan. Maksudnya, selain anjing bisa mendengar sanjungan, pelatih pun tak mungkin mengelus tanpa kata-kata.

Paling tidak pelatih akan mengatakan “bagus”, “good”, atau “pintar… kamu”. Demikian terhadap anakan, pelatih meluncurkan kata-kata pujian sambil mengelus bila anjing dapat mengerjakan sesuatu sesuai perintah.

Perkataan dan elusan seyogyanya sama-sama diberikan, kendati yang masuk dalam ingatan anjing berbeda. Anjing anakan akan terkesan pada tinggi—rendah intonasi ucapan. Intonasi rendah berarti oke, tinggi menandakan sang pelatih tak setuju atas perbuatan anjing.

Anjing dewasa terkesan pada elusan atau buaian. Ia akan tahu perbuatannya dipuji jika pelatih mengelus, menepuknepuk, memijit halus, hingga memberikan garukan-garukan kecil. Sedangkan jika berbuat salah diganjar dengan tamparan handuk kecil atau tangan.

Elusan sebaiknya dilakukan ke bagian-bagian sensitif seperti dada, kepala, tengkuk, dan punggung. Di bawah mulut dekat kerongkongan dan moncong atas bagian paling sentitif. Jika bagian itu dibelai jarijemari tangan pelatih, mata anjing merem-melek dan menunjukkan sikap akrab.

Apalagi sang pelatih melakukannya sambil jongkok dan mukanya dekat kepala anjing. Anjing betul-betul menganggapnya sebagai sahabat. Ia akan bergairah mengerjakan program latihan.

Elusan tidak efektif bila salah sasaran, misal ke bagian pantat atau kaki. Bagian tubuh itu kurang sensitif, sehingga elusan hanya sekadar memberikan kode oke, tapi tidak memotivasi semangat anjing. Akibatnya kadang anjing mogok berlatih dan selalu mengambil jarak dengan pelatih.

Ia hanya patuh kala mengerjakan perintah yang disukai dan bermalas-malasan bila tidak disenangi. Padahal, dalam kondisi bergairah apapun yang diperintahkan pelatih, anjing akan melakukannya penuh semangat.

Kecenderungan memilih perintah semakin menjadi-jadi bila kesalahan sasaran tepuk diikuti posisi saat mengelus kurang baik. Misalnya dilakukan berdiri, tidak jongkok yang berkesan congkak atau sombong di mata anjing. Dampaknya anjing sulit diajak bersahabat. Karena itu selain tepat sasaran dan “sopan”, elusan diikuti ketulusan yang keluar dari lubuk hati paling dalam.

Perasaan anjing sangat tajam. Ia akan tahu elusan yang dibuat-buat. Misal, sekadar untuk menghibur, bukan atas dasar kepuasan pelatih. Elusan tak perlu lama, yang penting berkualitas. Lama elusan cukup 10—20 detik, tapi sering.

Selanjutnya anjing diajak bermain untuk menghilangkan ketegangan. Berlari-lari kecil atau bermain bola setelah latihan. Diharapkan selingan kegiatan itu—memakan waktu sekitar 5 menit, turut memulihkan gairah berlatih anjing sekaligus menjalin keakraban.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img