Ironmax merebut 2 gelar: young champion dan best in show pada Indonesia Louhan Competition 2013.
Ironmax memang luar biasa. “Agresif dan bermental juara,” ujar Hady Senjaya, juri asal Bandung, Jawa Barat. Padahal, itu pertama kali Ironmax ikut kontes. Cencu sepanjang 20 cm itu cepat beradaptasi di akuarium dan lincah bergerak. Menurut Guruh Suradji, sang pemilik, Ironmax lincah karena selalu disandingkan dengan seekor parrot betina. Akibatnya sang lou han aktif bergerak. “Dengan rajin bergerak itu sirip dan ekor terbiasa terbuka lebar,” ujar Guruh, pehobi di Semarang, Jawa Tengah. Proses penyatuan itu berlangsung 10—15 menit setiap hari.
Warna Ironmax yang dibeli pada Juni 2013 dari penangkar di Bandung juga cerah. Guruh (35) rutin memberi pakan udang berupa cacahan halus 2 kali sehari. “Frekuensinya bisa 3—4 kali 2—3 hari menjelang kontes,” ujarnya. Sosok Ironmax yang proporsional juga didukung pemberian pakan cacing beku. “Cacing beku tidak membuat ikan menjadi gemuk,” kata pemilik 12 lou han itu.
Grand champion
Kontes adu cantik-cantikan lou han di Hyperpoint Pasteur Bandung, Jawa Barat, itu diikuti 145 ikan yang terbagi kedalam 11 kelas. Ikan-ikan itu milik pehobi dari Bandung, Jakarta, dan Semarang. “Ada juga dari Singapura,” ujar Jimmy, panitia kontes. Lou han milik Joe, pehobi dari Negeri Singa merebut gelar grand champion. Menurut Elmer Escho, rekan Joe, tidak ada resep khusus yang diberikan kepada lou han juara itu. Joe biasanya menambah porsi pakan yang mengandung astasantin sebanyak 25%. Astasantin atau keto karotenoid merupakan sumber pigmentasi. Lou han yang dibeli dari Malaysia itu dititipkan Joe pada Elmer Escho 4 bulan sebelum kontes.
Elmer yang menyukai lou han sejak 2001 itu menuturkan Quicksilver—lou han milik Joe—hanya butuh satu hari untuk beradaptasi. Cencu penghuni akuarium CCA132 itu tak berubah warna. Perubahan warna tubuh indikasi stres antara lain karena menempuh perjalanan panjang. “Lou han ini sudah meraih 2 gelar juara,” kata Elmer. Ini gelar grand champion kedua kalinya untuk Quicksilver. Sebelumnya ia meraih gelar itu pada Mei lalu di Jakarta. Saat kecil Quicksilver pun sudah meraih young champion.
Menurut Hady Senjaya, juri kontes, sang grand champion cukup istimewa. “Nongnongnya bulat sempurna dan batas nongnong sejajar mulut,” ujar pria 36 tahun itu. Selain itu, sirip Quicksilver mulus tidak robek dan taburan mutiara tepat berada di garis tengah. Juri lain asal Solo, Agus Trino, menuturkan Quicksilver atraktif dan lincah.
Cencu
Di kategori champion lain, baby champion, muncul sebagai jawara jenis cinhua. Padahal, menurut Nandy SR, ketua dewan juri, peserta cencu yang turun banyak. Cencu memang dikenal lebih mudah dirawat daripada cinhua. “Dari 1.000 anakan setelah disortir menghasilkan 100 cencu kualitas kontes, sementara dengan jumlah yang sama cinhua hanya 10 ekor,” ujarnya. Oleh karena itu peternak kini lebih banyak mendapatkan membudidayakan cencu lantaran peluang ikan top lebih besar.
Pada waktu bersamaan juga berlangsung ZNA Young Championship 2013 One Day Show di Lembang, Kabupaten Bandunag, Jawa Barat. “Pesertanya sangat banyak, bahkan melebihi target,” ujar Agustinus Foe, ketua panitia. Acara yang diikuti 1090 koi itu menobatkan koi milik JKS asal Blitar menjadi grand champion. Sementara di kelas bergengsi lainnya, koi milik Fadhlin Akbar berhasil meraih gelar junior young champion dan milik Danny Wiguna yang menjadi baby champion. Datta Iradian selaku ketua panitia menyebutkan bahwa koi yang mengikuti kontes sebagian besar merupakan koi lokal. “Karena kelasnya terbatas hingga 50 cm,” ujar Datta. (Rizky Fadhilah)
