Thursday, December 8, 2022

Gelegar Suara Molotov

Rekomendasi

Pertama kali tampil di tingkat nasional, Molotov langsung juara.

Penjurian berlangsung ketatSenyum kemenangan menghias wajah Billah Armadiyanto. Sebab perkutut koleksinya bernama Molotov menjuarai kelas utama di kontes tingkat nasional untuk kali pertama. Sebelumnya Molotov lebih banyak menjadi pemenang di lomba tingkat regional. “Saya senang dan bangga dengan keberhasilan Molotov,” kata Billah. Perjuangan perkutut itu ke takhta jawara tidak mudah. Ia mesti bersaing ketat dengan perkutut langganan juara lain seperti Sie Oentoeng dan Amal Sholeh.

Menurut juri dari Yogyakarta, Triyono Budiriyanto, Molotov layak menang. Sebab, “Suara depan, tengah, dan ujung bagus sehingga iramanya pun enak terdengar,” kata Triyono. Menurut Billah keunggulan lain Molotov bervolume suara besar bak suara bom molotov. Itulah sebabnya Billah menyematkan nama Molotov kepada perkutut berumur 14 bulan itu.

Billah mengatakan tidak ada perawatan khusus menghadapi kontes. Setiap hari Billah memberikan pakan 1 sendok teh milet dan gabah. Ia juga memandikan klangenannya 2 kali seminggu. Billah mencampur air mandi dengan rempah-rempah seperti daun sirih, serai, dan bawang merah. “Untuk menghilangkan kutu,” ujar pria kelahiran Yogyakarta itu. Supaya stamina burung meningkat, Billah menjemur Molotov setiap hari pada pukul 08.00—12.00. Perawatan rutin itu membuat Molotov tampil prima.

 

Molotov sukses meraih trofi mahkota raja karena volume suara yang kerasPangeran Banjar

Kebahagiaan tidak hanya milik Billah. H Rusli dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga senang bukan kepalang karena Pangeran Banjar menjadi kampiun di kategori perkutut dewasa kelas junior. Perkutut bernomor gantangan 200 itu mengungguli lawannya karena suara tengah dan ujung nyaris sempurna. “Suara tengah bervolume sedang,” ucap H Rusli.

Sejatinya itu gelar kedua Pangeran Banjar. Pada awal September 2013 perkutut berumur 6 bulan itu menjadi jawara kontes Piala Gubernur Kalimantan Selatan. H Rusli membeli Pangeran Banjar dari penangkar di Thailand seharga Rp100-juta. Ia berharap Pangeran Banjar terus berprestasi mengingat usia burung relatif muda.

Selain perkutut dewasa, kontes di alun-alun selatan keraton Yogyakarta itu juga mempertandingkan kelas anakan alias piyik. Menurut ketua pelaksana kontes, Khairudin Deky, perkutut kategori piyik senior berumur kurang dari 6 bulan, sedangkan piyik junior berumur maksimal 4 bulan. Setelah menilai penampilan para peserta selama 160 menit, para juri menetapkan Dot milik H Toha dari Surabaya, Jawa Timur, sebagai yang terbaik. Kampiun piyik junior direbut Bintang Dua kepunyaan H Arifin dan Gunawan dari Bangkalan, Kabupaten Madura, Jawa Timur.

Pangeran Banjar milik H Rusli menjuarai kategori dewasa juniorLomba pada 28—29 September 2013 itu berlangsung meriah. Jumlah peserta relatif stabil dibanding tahun lalu. “Kelas dewasa diikuti 236 perkutut,” kata Khairudin Deky. Peserta berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Pekanbaru, Bekasi, Jakarta, Surabaya, dan  Denpasar. Acara yang terselenggara berkat kerja sama Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) itu bertujuan melestarikan satwa yang menjadi lambang Provinsi DIY itu.

 

Kontes derkuku

Selang satu jam usai kontes perkutut berakhir, di tempat sama berlangsung kontes derkuku nasional.  Lomba tahunan itu dihadiri 330 peserta dari Jakarta,  Semarang (Jawa Tengah), dan Sidoarjo (Jawa Timur). Jumlah peserta itu melewati target panitia sebesar 250 peserta.  “Saat ini tren derkuku menanjak. “Karena banyak pehobi baru,” ucap  Judi Prasetiya,  ketua panitia.

Kontes derkuku setahun sekali itu terbagi menjadi 3 kelas yaitu senior, junior, dan pemula. Pada kelas senior, Noroyono milik dr Hartono asal Semarang, Jawa Tengah, sebagai juara. Menurut Hartono derkuku seharga Rp30-juta itu memang memenuhi syarat burung juara. “Suara depannya jelas dan tengah panjang,” katanya. Sementara itu Suara Hati dan Upil Dewo milik masing-masing Toro dari Sleman, DIY, dan Prima asal Pacitan, Jawa Timur, menjadi juara di kelas junior dan pemula. (Riefza Vebriansyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img