Friday, December 9, 2022

Seri Walet (200): Waspada Air Keras

Rekomendasi

Siraman air keras dapat “melunakkan” dinding bangunan walet. Modus baru pencurian sarang walet.

Dinding dipertebal dengan semen dan batu gunung. Salah satu cara amankan rumah walet dari perampokPerampokan sarang walet pada medio Juni 2013 itu terjadi di sebuah bangunan di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Delapan pria menyiramkan air keras—asam pekat—ke dinding gedung. Dalam hitungan menit material dinding seperti cat, semen, dan bata melunak sehingga dengan 3—4 kali gedor tembok bangunan bobol. Kerugian ditaksir mencapai Rp500-juta.

Tembok itu dibobol dalam suasana senyap. Setelah terbentuk lubang kecil, lubang itu dilebarkan memakai dongkrak hidrolik mobil. Kepala dongkrak akan menekan tepi bagian atas tembok. Sedikit demi sedikit lubang akan membesar—tanpa suara—sampai  seukuran manusia sehingga kawanan perampok itu berhasil masuk dan menggondol 200 kg liur emas.

Kejadian serupa terjadi pula di Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Sebuah rumah walet di tepi jalan dirampok dengan modus mirip: memakai air keras dan dongkrak. Kerugian ditaksir Rp200-juta. “Harga walet yang rendah membuat pemilik rumah menunda panen sarang. Di sisi lain keamanan terabaikan sehingga menjadi makanan empuk bagi perampok,” kata Albert Edison, praktikus walet di Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut Albert, karut marut kondisi ekonomi saat ini memegang andil dalam meningkatnya perampokan. “Sarang walet masih dianggap berharga walaupun di mata pengusaha harganya turun,” kata Albert. Saat ini harga sarang kualitas terbaik maksimal Rp5,5-juta per kg. Sekitar 3—4 tahun silam Rp10-juta—Rp15-juta per kg. Andai perampok menjual separuh bahkan seperempat harga, mereka tetap untung.

 

Desain pintu untuk pengaman terdiri dari 3 gembok di bagian luar yang terlihat dan 3 gembok di bagian dalam yang tersembunyi. Pintu berongga diisi cor-coran semen dan split sehingga tidak mungkin dipotong dengan alatLuput perampokan

Tak selamanya perampokan dengan cara menyiram air keras manjur. Dua rumah walet di tepian Sungai Barito, di Kabupaten Baritokuala, Kalimantan Selatan, selamat dari perampokan itu pada Agustus 2013.  Saat tembok dibobol, di balik tembok bagian dalam terpasang plat besi tebal. Air keras tak mempan. Mereka lantas mencoba masuk melalui pintu dengan membongkar gembok. Namun, aksi itu terhenti karena sang empunya rumah sudah memasang  6 kunci pengaman di pintu.

Harsanto, salah satu pemilik rumah walet yang selamat menuturkan perampok hanya bisa membongkar 3 gembok. “Gembok itu di luar, 3 lainnya yang di dalam belum tersentuh,” kata Harsanto sambil menunjukkan 3 gembok yang dirusak perampok. Pintu itu juga memiliki ruang bersekat yang  berisi cor-coran semen sehingga sulit dibobol.

Menurut HM Arsyad, pengelola rumah walet di Baritokuala, Kalimantan Selatan, maraknya aksi perampokan sudah terjadi sejak pertengahan 2011. “Rumah walet saya 5 kali dibobol sejak harga sarang turun,” katanya. Beruntung perampokan terakhir gagal lantaran Arsyad Arsyad memasang pagar ram baja setinggi 2 m mengelilingi rumah walet. “Fungsinya seperti kunci ganda pada kendaraan bermotor,” ujarnya.

 

Lindungi gedung

Menurut Arief Budiman, praktikus walet di Kendal, Jawa Tengah, pencurian sarang walet sudah terjadi sejak banyak bangunan walet berdiri. “Banyak rumah walet menjadi mesin uang bagi maling, bahkan panen perdana kerap kedahuluan oleh maling,” kata Arief. Bedanya sekitar 10—15 tahun lalu, misalnya, jumlah perampok hanya 1—2 orang. “Mudah dilumpuhkan oleh penjaga karena gedung dilengkapi alarm,” tambahnya.

Plat besi atau baja yang dipasang di bagian belakang rumah walet lalu dicor. Biasanya dipasang setelah rumah walet berdiri dan dihuni waletKondisi itu sudah berubah. Jumlah perampok dalam kelompok lebih banyak. “Mereka juga nekat dan tak segan melukai bila keinginannya tidak tercapai,” kata Harsanto. Sebab itu Asan—panggilan Harsanto—mengatakan cara paling efektif melindungi rumah walet adalah dengan memperkuat sistem pengamanan pasif gedung. “Buatlah agar perampok kesulitan memasuki bangunan,” ujar Asan.

Menurut Arief, cara paling umum mencegah pembobol dinding ialah dengan mempertebal dinding bata atau batako lebih dari 40 cm. Dinding yang dipertebal itu di ketinggian bangunan 0—3 m. Hal itu karena perampok biasanya membobol tembok bagian bawah yang terjangkau. Asan mengatakan pemilik bangunan walet bisa menerapkan 4 cara, yakni mempertebal dinding dengan batu gunung, melapisi dinding dengan ram besi, plat besi, atau plat baja lalu dicor. Seluruh cara itu harus dikombinasi dengan pintu yang memiliki sistem kunci berlapis.

Asan menjelaskan lebih jauh bahwa mempertebal dinding dengan batu gunung memiliki kelemahan karena terlihat mencolok bagi masyarakat umum. Batu gunung yang disemen dengan ketinggian 2—3 m membuat rumah walet bagian bawah terlihat seperti bangunan zaman Belanda. Kelebihannya cara ini adalah murah karena cukup mengeluarkan biaya Rp3-juta—Rp4-juta untuk satu sisi rumah walet sepanjang 12 m.

Pemilik dapat melapisi dinding dengan ram besi ukuran 12 mm di ketinggian 2—3 m. Teknik itu dapat dimodifikasi dengan 2 cara, yakni mengecor—dengan semen dan batu split—seluruh permukaan ram sehingga tebal dinding bertambah atau hanya dengan mengecor keempat sudutnya. Bila mengecor seluruh permukaan dinding biayanya mencapai Rp7-juta—Rp8-juta untuk satu sisi rumah walet sepanjang  12 m. “Bila mengecor keempat sudut biayanya Rp10-juta—Rp15-juta untuk bangunan walet 12 m x 8 m,” kata Asan.

Berikutnya cara ketiga (plat besi) dan keempat (plat baja) dilakukan seperti mirip cara kedua (ram). Menurut Asan pada rumah walet yang teranjur dibangun dan dihuni walet, plat besi atau baja cukup dipasang di bagian luar tembok. Namun, bila rumah tengah dibangun, plat dipasang di dalam tembok.

Biasanya bila perampok gagal membobol tembok, mereka beralih merusak gembok pintu. “Sebab itu mutlak memasang pintu antirampok,” kata Asan yang mendesain khusus. Pintu berukuran 80 cm x 120 cm dari 2 plat baja yang dipasang berongga itu dibenamkan cor-coran semen dan batu split. Sebagai pengaman berlapis  Asan memberikan pintu itu masing-masing 3 gembok di bagian dalam dan luar. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Previous articleGelegar Suara Molotov
Next articleTanpa Kematian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img