Sunday, August 14, 2022

Padi 8 ton/ha

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pemupukan dan pemberian pestisida tepat meningkatkan produksi 36%.

Aplikasi pupuk dan pestisida yang tepat meningkatkan produksi hingga 20%Panen padi pada September 2013 berkah bagi Maman Sarmi Janusi. Pendapatan petani itu meningkat Rp14,5-juta. Produktivitas padi mencapai 8,2 ton per ha. Padahal, 50 tahun menanam padi, petani di Desa Tegalwaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, itu paling pol memanen 6 ton per ha.

Lonjakan produktivitas itu lantaran Maman mengikuti saran Endang Burhanudin, penyuluh pertanian PT Syngenta Indonesia. Endang menyarankan Maman memupuk dan mengaplikasikan pestisida sesuai tahapan pertumbuhan padi. Ia membagi pertumbuhan padi menjadi 4 tahap: pembibitan, pembentukan anakan, pengisian malai, dan pemasakan (lihat ilustrasi). Aplikasi pestisida dan pupuk di tahap pembibitan bertujuan membentuk perakaran, melindungi bibit dari hama dan penyakit sejak dini, dan mengurangi stres pascapindah tanam.

Adapun aplikasi pada tahap anakan bertujuan memperbanyak jumlah anakan produktif  dan memperkuat batang. Sementara aplikasi di tahap pengisian malai gunanya memperbanyak dan menyeragamkan pembungaan. Pemberian pupuk dan pestisida di tahap pemasakan bertujuan meningkatkan jumlah malai bernas. Menurut Wahyu Budi Sampurno, Campaign Manager Rice PT Syngenta Indonesia, pemberian nutrisi dan pestisida yang tepat sesuai tahap pertumbuhan tanaman meningkatkan hasil panen hingga 20%.

 

Padi menguningBiaya meningkat

Dengan perlakuan itu pupuk dan pestisida yang dikeluarkan Maman mencapai meningkat Rp 2,3-juta per ha.  Sebelumnya, hanya Rp 600.000. “Namun, hal itu tak masalah lantaran hasil panen yang diperoleh lebih tinggi dan keuntungan pun lebih banyak dari luasan lahan yang sama,” kata Maman.

Sebelum menanam, Maman merendam benih dalam air selama 24 jam. Ia memilih benih yang tenggelam, sedangkan benih mengambang ia buang. Maman melarutkan 37,5 ml insektisida sistemik berbahan aktif tiametoksam dalam 60 ml air, lalu menyiramkannya pada 15 kg benih. Ia memasukkan benih yang sudah tercampur rata dengan insektisida ke dalam wadah tertutup selama 48 jam. Tiametoksam melindungi tanaman belia itu dari serangan hama seperti penggerek batang dan wereng hijau.

Sebelum menanam, kakek 15 cucu itu menabur 2—3 ton pupuk kotoran hewan per ha lalu membajak sedalam 25—30 cm sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput. Kemudian ia menggemburkan tanah dengan garu, lalu meratakan. Selanjutnya, pria berusia 72 tahun itu menanam benih di bedengan setinggi 10 cm berukuran 5 m x 5 m.

Pria yang menanam padi sejak 1963 itu menebar benih dengan jarak longgar, kira-kira 1 cm x 1 cm, agar pertumbuhan optimal. Pada hari ke-12 dan ke-17 pascasemai, ia menyiramkan 17 liter air berisi 20 ml insektisida sistemik untuk mencegah serangan hama penggerek batang, wereng cokelat, dan pelipat daun. Ia menggenangi lahan pada ketinggian 2 cm di atas tanah selama 25 hari, pada hari ke-5 sampai 30 pascatanam. Saat bibit setinggi 15 cm atau berumur 18 hari pascasemai, pria berkulit gelap itu menanam di lahan. Sehektar lahan memerlukan 15 kg benih.

H. Maman, petani padi di KarawangAyah tujuh anak itu menanam bibit saat lahan macak-macak. Ia menanam 2—3 bibit per  lubang tanam sedalam 1 cm dengan jarak  27 cm x 27 cm. Ketika tanaman berumur  10 hari, Maman memberikan pupuk  susulan berupa 150 kg Urea dan  150 kg TSP per ha untuk memacu pertumbuhan tanaman. Pria bertubuh gempal itu memupuk 200 kg Phonska pada 30 hari pascatanam dengan cara menabur di sela-sela tanaman. “Dengan begitu semua tanaman mendapatkan nutrisi yang tepat dengan jumlah sama,” kata Maman.

Perlakuan itu efektif. Jumlah anakan per malai meningkat hingga 33 dari semula hanya 26 anakan. Sudah begitu, semua anakan mengeluarkan malai yang bernas. Setelah itu lahan dipertahankan macak-macak hingga padi berumur 75 hari. Tiga pekan sebelum panen, ia mengeringkan lahan dengan membuka saluran air. Pada 90 hari pascatanam, ia panen. Lahan seluas 7 ha miliknya menghasilkan 57,4 ton gabah kering panen (GKP) alias rata-rata 8,2 ton  per ha.

 

Bernas

Selain meningkatkan produksi, aplikasi pupuk dan pestisida sesuai tahap pertumbuhan juga meningkatkan rendemen sosoh hingga 63%. Artinya, 100 kg GKP menghasilkan 63 kg beras. Bandingkan dengan budidaya konvensional, yang hanya menghasilkan 58 kg beras per kuintal GKP. Selain itu, bulir padi lebih bernas dan padat sehingga sedikit bulir pecah. Warna bulir beras putih mengilap.

Tak heran pengepul berani membeli gabah Maman Rp400 lebih mahal daripada gabah petani lain. “Harga gabah di pengepul Rp5.100 per kg, tetapi gabah saya laku Rp5.500 per kg,” ujar Maman. Total jenderal, Maman memperoleh Rp45,1-juta dari sehektar lahan padi. Angka itu lebih tinggi Rp14,5-juta dari petani tetangga dengan luasan yang sama. Padahal, pria kelahiran 8 Juli 1941 itu memiliki 7 ha lahan padi. “Selisihnya bisa untuk pergi haji,” ujar Maman.

Menurut Dr Sarlan Abdulrachman, peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat, hasil panen di lahan Maman terbilang tinggi. Produktivitas gabah nasional rata-rata hanya 6 ton per ha. Rendahnya hasil itu lantaran pemupukan yang tidak tepat dan serangan hama penyakit. Salah satu momok utama pertanaman padi adalah wereng. Sebelum terjadi ledakan, populasi wereng harus dikendalikan dengan cara monitoring di lapangan,” ujar Sarlan. (Kartika Restu Susilo)

Previous articleDaging Gurih Asal Gandum
Next articleDua Gelar Ironmax
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img