Trubus.id— Jamu telah diakui Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya tak benda ke-13 dari Indonesia. Pengakuan itu bisa menjadi sarana mengharumkan Indonesia di mata dunia internasional.
Di sisi lain tren jamu pun kian meningkat saban tahun di tanah air. Tak terkecuali di mata generasi muda. Mereka kian menggandrungi jamu dan berkreasi mengemas jamu dalam kemasan kekinian.
Jamu yang semula identik dengan minuman tradisional bercita rasa pahit bersalin rupa menjadi minuman sehat dengan kemasan cantik dan bercita rasa nyaman di lidah.
Menu-menu itu bisa ditemui di kafe yang mengusung menu penganan sehat yang sohor dengan istilah kafe jamu. Kafe-kafe jamu itu kini kian menjamur di kota-kota besar di Indonesia.
Menurut dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Dwi Purnomo, S.T.P., M.T.,IPU, fenomena kafe yang menyediakan jamu merupakan tren yang bagus.
Sebaiknya pemilik usaha bukan cuma fokus pada produk yang menyesuaikan selera pasar, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang manfaat konsumsi jamu.
Mayoritas kafe jamu menyasar segmentasi pasar anak muda. Apalagi di kalangan masyarakat muncul istilah remaja jompo membuat jamu lebih mudah diterima di kalangan generasi Z. Mereka bahkan sudah tidak malu-malu lagi konsumsi jamu.
Modifikasi jamu menjadi beragam menu atraktif sah saja asalkan dibarengi dengan manfaat bagi kesehatan mengenai bahan baku yang digunakan. Dwi menuturkan, pengelola kafe jamu harus menguasai pasar untuk mempertahankan usaha, termasuk dengan cara akselerasi bisnis.
Selain itu peran pemerintah sangat penting dalam pengembangan bisnis jamu di tanah air. Pemerintah harus punya program terkait perkembangan pasar jamu. Jangan lupakan juga sisi hulu.
“Perhatikan pasokan bahan baku dan permintaan pasar,” ujar Dwi.
Dengan memperhatikan seluruh rantai bisnis mulai dari pasokan bahan baku, selera pasar, pemilihan lokasi usaha, dan menu variatif membuat masyarakat jadi tak jemu minum jamu.
