Trubus.id—Teknologi pertanian modern indoor vertical farming merupakan budi daya pertanian bertingkat dalam ruangan. Pengaturan suhu dan kelembapan otomatis dan terkomputerisasi sehingga menjadikan lingkungan optimal bagi pertumbuhan tanaman.
Menurut commercial grower asal Indonesia yang kerap menjadi konsultan perusahaan hidroponik di Timur Tengah, Edi Sugiyanto., produktivitas sayuran daun indoor vertical farming mencapai 86—96 kg per m2 per tahun.
Menurut Edi hasil itu fantastis jika dibandingkan dengan budidaya konvensional di tanah yang hanya 10—12 kg per m2 per tahun untuk komoditas sama. Kelebihan lain amat memungkinkan untuk memodifikasi luasan.
Ia menyarankan minimal luasan 5 m x 5 m atau 2 m x 10 m agar hasilnya kian optimal. Menurut Edi luasan tanam bukan menjadi persoalan.
Kunci keberhasilan penerapan teknologi itu jika petani mengetahui spektrum pencahayaan untuk tanaman yang hendak dibudidayakan. Pasalnya kebutuhan spektrum pencahayaan setiap tanaman berbeda-beda.
Edi menuturkan pemilihan lampu sebagai sumber cahaya bagi tanaman amat berkaitan erat dengan investasi yang dikeluarkan. Artinya jika hendak mengganti komoditas, bisa jadi pekebun mesti mengganti lampu agar budidaya optimal.
“Belum lagi beda kapasitas lampu beda pula daya yang dibutuhkan. Hal itu berkaitan dengan biaya listrik selama masa budidaya atau operasional kebun,” ujar Edi.
Edi mencontohkan, nilai photosynthetic photon flux density (PPFD) atau kerapatan total output cahaya ideal rata-rata bagi letus 175— 300 μmol/m2 /s dengan daily light integral (DLI) 9—17 mol per hari dan lama penyinaran 9—14 jam per hari.
Ia menuturkan kebutuhannya berbeda dengan stroberi yang menghendaki PPFD 450—500 μmol/m2 /s, DLI 8—20 mol per hari, dan lama penyinaran 9—16 jam per hari.
“Penting bagi praktisi indoor vertical farming bisa menghitung kebutuhan cahaya agar hasilnya optimal dan ekonomis,” katanya
Edi menyarankan, memasang lampu jangan terlalu tinggi atau rendah dari tanaman. Imbasnya cahaya terlalu melebar dan intensitasnya rendah jika terlalu posisi lampu terlalu tinggi, sementara terlalu rendah kurang menjangkau tanaman dan menyebabkan suhu sekitar tanaman meningkat.
Ia menuturkan jarak antartingkat 45—60 cm pada bagian atas terdapat lampu ideal bagi pertumbuhan tanaman. “Calon pekebun jangan ragu berkonsultasi terkait lampu dengan penyedia jasa perangkat atau konsultan,” kata Edi.
Untuk investasi tergantung spesifikasi yang dipilih, rentangannya Rp1,6 juta—Rp12 juta per meter persegi. “Biaya itu untuk sistem skala kecil menengah,” katanya. Edi menuturkan, investasi itu layak jika pekebun sudah dapat komoditas tepat. Pasalnya seperangkat sistem itu bisa awet 10—15 tahun.
Kelebihan lainnya biaya produksi bisa lebih ekonomis karena sistem amat efisien memanfaatkan pupuk dan air. Sistem budidaya bertingkat modern itu sangat efisien. Harap mafhum, semua nutrisi akan kembali atau daur ulang pada satu wadah yang terkontrol.
Indikator yang terukur anatara lain electrical conductivity (EC), pH, dan nutrisi. Semua itu diatur oleh mesin. Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) kian memudahkan pekebun mengopersionalkan sistem baru itu.
