Trubus.id—Pesona tanaman platycerium semakin menarik. Pergerakan pasar secara perlahan meningkat. Bukan hanya pasar domestik, penjualan ke pasar mancanegara juga terbuka. Pande Gede Suksema—sapaan akrab Gede—rutin mengemas 10—20 platycerium untuk pasar ekspor setiap bulan. Ia mengirim beberapa jenis platycerium lokal dengan karakter menarik.
“Platycerium willinckii dengan karakter daun dwarf alias fertil kerdil sangat digemari,” ujar pebisnis di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, itu. Tanaman yang dijual rata-rata sudah berkarakter alias berpenampilan apik. Panjang daun fertil 40—60 cm.
Negara tujuan berganti-ganti mulai dari Jepang, Taiwan, Thailand, Hongkong, dan Swiss. Ia menjual tanaman dengan harga Rp300.000—Rp 2,5 juta per tanaman. Ia mengekspor platycerium sejak 2021. Tanaman yang diekspor pertama yakni Platycerium willinckii bali finger dancer.
Ia mengirim 500 P. willinckii bali finger dancer ke Taiwan. Semenjak itu nama Gede dikenal di kalangan pehobi dan pebisnis platycerium mancanegara. Permintaan P. willinckii dengan karakter daun fertil yang unik selalu ada saban bulan.
Bagaimana cara Gede membuka pasar mancanegara? Langkahnya sederhana. Ia hanya rutin mengunggah gambar di laman media sosial. Pebisnis tanaman hias di Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta, Didin Suparman, juga menikmati manisnya bisnis platycerium.
Pada Februari 2024 ia mendapat kunjungan pelanggan dari Jepang. Salah satu tanaman yang dibeli yakni P. willinckii sawangensis. Sekali transaksi minimal lima tanaman. Biasanya Didin mendapat kunjungan dari pelanggan mancanegara setiap 3—4 bulan sekali.
Pelanggan Didin tersebar di Jepang, Korea, Thailand, dan Taiwan. Didin mulai mengoleksi dan menjual platycerium sejak 2018. Menurut Didin setiap konsumen memiliki selera tanaman berbeda.
Konsumen dari Jepang menyukai jenis platycerium dengan daun fertil yang bermutasi menjadi kerdil. Daun fertil kecil, lebar, dan memiliki pecahan banyak pada ujungnya. Misal P. willinckii masayu, P. willinckii cianjurngensis, dan P. willinckii sawangensis.
Yang disebut terakhir pernah menjadi tren nomor satu di Jepang pada 2019. Meskipun demikian, Didin tidak pernah menjual indukan P. willinckii lokal miliknya. Ia hanya menjual anakan alias pup original.
Ingin tahu, potensi pasar platycerium lebih lanjut? Baca selengkapnya pada Majalah Trubus Edisi 656 Juli 2024/LV yang mengulas Lokal dan Ekspor Peluang Besar Pasar Platycerium. Akses pembelian Majalah Trubus pada google play (klik di sini).
