Trubus.id-Rahmat Bintang Ramadhan S.Pt. nyaris menghentikan produksi susu kambing karena kesulitan pemasaran. “Menyuplai hingga 1.000 liter susu, tapi pembayaran mandek,” kata Rahmat.
Meski demikian, ia tidak patah arang. Titik terang muncul ketika permintaan dari pihak lain mulai berdatangan.
Kini Rahmat menghasilkan 35—40 liter susu dari kandang sendiri setiap hari. Susu itu ia olah menjadi susu pasteurisasi aneka rasa dan susu murni.

Foto: Dok. Rahmat Bintang Ramadhan
Harga susu pasteurisasi mencapai Rp40.000 per liter, sedangkan susu murni Rp35.000 per liter. Proses pasteurisasi dilakukan dengan mesin pada suhu 72°C selama 15 detik.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Rahmat bermitra dengan tiga peternak lain. Ia menyerap hingga 1.000 liter susu per pekan dan memastikan kualitas pasokan dari cara memerah hingga kebersihan alat.
Produk olahan susu kambingnya juga terserap oleh tiga dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). “Saat ini penjualan susu kambing masih menjadi penopang utama usaha saya,” ujar Rahmat.
Selain kambing perah, ia juga memelihara domba dan kambing pedaging dengan total populasi mencapai 230 ekor. Usaha itu ia kembangkan di peternakan bernama Prabhu Farm yang berdiri di lahan seluas 5.000 m².
Awalnya Rahmat hanya memiliki satu hingga dua ekor kambing peranakan etawa di belakang rumah untuk kontes. “Kebutuhan susu bisa mencapai 20 liter per hari untuk kambing kontes itu,” katanya.
Demi efisiensi, ia mulai memelihara kambing perah. Pada 2024, Rahmat mendatangkan lima kambing saanen dari Australia yang dikenal berproduksi tinggi dan mudah beradaptasi.

keberhasilan dalam betrnak.
Foto: Dok. Rahmat Bintang Ramadhan
15TOPIK
Produksi rata-rata mencapai 3,5 liter susu per ekor per hari. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan jenis lain yang umumnya hanya 2 liter per ekor.
Pada Desember 2025, ia juga mulai memelihara domba lokal Temanggung. Saat musim kurban lalu, Rahmat berhasil menjual 150 ekor domba.
Untuk kebutuhan pakan, ia menanam hijauan seperti indigofera, kaliandra, singkong, dan rumput odot di lahan seluas 1,2 hektare. Prabhu Farm dikenal bersih dan tidak berbau menyengat.
“Jenis kandang panggung, tetapi kami menggali sedalam dua meter untuk menampung kotoran. Jadi pengunjung melihat kandang yang bersih, bukan kotorannya,” tutur Rahmat.
Untuk kambing kontes, ia mendesain kandang dari kayu jati agar tampak estetis. Ia juga meracik sendiri pakan konsentrat agar lebih hemat dan bergizi lengkap.
Harga konsentrat pabrikan sekitar Rp6.000 per kilogram, sedangkan racikan sendiri hanya Rp5.000. Komposisinya terdiri atas DDGS, SGM, kopra, polar, jagung, premiks, dan mineral.
Pakan diberikan empat kali sehari, yaitu konsentrat pada pukul 07.00 dan 14.00 WIB serta hijauan pada pukul 10.00 dan 16.00 WIB. Pola itu menjaga produksi dan kualitas susu tetap optimal.
“Farm saya lebih mengejar kualitas daripada kuantitas susu karena memasok produsen keju yang membutuhkan kandungan protein dan lemak tinggi,” ujar alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada itu.
Pemerahan susu menggunakan mesin parlor dilakukan dua kali sehari pada pukul 07.00 dan 15.00 WIB. Saat ini Rahmat memelihara kambing saanen, sapera, dan alpine.
Selain kambing perah, Rahmat juga mengembangkan domba-kambing (dombing) untuk kontes. Ia memperhatikan keturunan genetik dan 12 kriteria penilaian, mulai dari bentuk kepala hingga kualitas rambut.
Perawatan dilakukan intensif menggunakan sampo, kondisioner, keratin, minyak ikan, dan minyak kelapa. Ia menargetkan pembibitan khusus ternak kontes yang saat ini baru berusia setahun.
“Bibit yang bagus akan sangat menentukan prestasi dombing kontes,” kata Rahmat. Ia berkomitmen menjadikan Prabhu Farm sebagai pusat pembibitan unggul di Sleman.
Meski usahanya berkembang, Rahmat mengakui tantangan utama peternakan adalah pemasaran. “Kami pernah memasok susu kambing hingga 1.000 liter kepada produsen susu bubuk, tapi sejak November sampai Maret pembayaran tersendat, bahkan hampir dinonaktifkan,” tuturnya.
Untungnya, ia menemukan solusi lewat kerja sama dengan beberapa pihak. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar susu kambing makin diterima luas.
Di sisi lain, ia memanfaatkan kotoran kambing untuk pupuk lahan sendiri dan sebagian dijual. Kebersihan kandang dan higienitas susu menjadi perhatian utama untuk menjaga kualitas.
“Ada konsumen yang sensitif dengan aroma susu kambing. Karena itu, kebersihan kandang dan perawatan sangat penting,” kata Rahmat.
Kini Rahmat tak hanya beternak, tetapi juga berbagi pengetahuan kepada masyarakat. Ia membuka edukasi seputar susu kambing, pakan, hingga teknik beternak modern. (Widi Tria Erliana)
