Tuesday, December 16, 2025

Cerita Nurida Asmawati Mengangkat Pangan Lokal

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Di Dusun Kali Kacang, Desa Sidorejo, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Nurida Asmawati atau akrab disapa Ida mengembangkan beragam produk olahan sorgum. Melalui usaha bertajuk Sueer Sorgum, Ida memproduksi beras, gula cair, kecap, mi, minuman sereal, serta berbagai camilan seperti bronis lumer, peyek, dan kue kering.

Setiap produk memiliki segmen pasarnya masing-masing. Untuk pasar eksklusif, Ida menjual beras dan tepung sorgum dalam kemasan plastik maupun vakum. Harga beras eceran mencapai Rp25.000, sedangkan beras ketan Rp35.000 per kemasan. Untuk pembelian besar, harga beras berkisar Rp18.000 per kg dalam kemasan 25—50 kg.

Produk unggulan Sueer Sorgum adalah minuman sereal “Energum” yang menyasar pasar menengah ke bawah dengan harga Rp2.500–Rp5.000 per bungkus. Minuman ini terbuat dari campuran sorgum, kacang hijau, dan biji kakao. Bahan baku sorgum diperoleh dari kebun pribadi serta kerja sama dengan 11 petani sorgum di sekitar Desa Sidorejo. Para petani memasok biji sorgum kering dengan harga Rp5.500 per kg, menggunakan varietas Bioguma dan Mandau.

Ida juga menanam sorgum di lahan seluas setengah hektare dengan hasil panen mencapai 1 ton biji sorgum kering. “Salah satu keunggulan sorgum adalah bisa diratun. Cukup dipangkas 10 cm dari permukaan tanah, dan akan tumbuh kembali tanpa perlu tanam ulang,” ujar Ida. Selain itu, sorgum juga mudah dirawat dan cocok ditanam pada musim kemarau ketika padi sulit tumbuh maksimal.

Berkat ketekunannya, pada 2024 Ida berhasil meraih Juara I Tingkat Provinsi Jawa Timur dalam kategori pengembangan serealia. Kini, Sueer Sorgum mampu mengolah hingga 3.000 kemasan sereal per bulan dengan total kebutuhan bahan baku mencapai 700 kg biji sorgum per bulan.

Menembus Pasar Nasional dan Mancanegara

Produk Ida kini dipasarkan ke 15 kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Wonosobo (Jawa Tengah), dan Bali. Tak hanya itu, produknya juga mulai dilirik pasar luar negeri. Melalui pameran di Selandia Baru, Ida mendapatkan peluang ekspor dan sedang dalam tahap business matching untuk menyesuaikan kemasan serta label nutrisi agar memenuhi standar internasional.

Produk Sueer Sorgum juga sempat dikirim ke Malaysia dan Hongkong, terutama untuk memenuhi kebutuhan komunitas diaspora yang mencari produk bebas gluten. Volume ekspor masih kecil, kurang dari 50 kg per pengiriman, dengan produk seperti rengginang dan sus kering berbahan sorgum. Kerupuk sorgum tanpa pengembang bahkan pernah dikirim sebanyak 20 kg ke Hongkong.

Dari seluruh olahan, Ida memperoleh omzet rata-rata Rp9 juta per bulan. Ia juga menjalin kerja sama dengan beberapa rumah makan sehat di dalam negeri, termasuk di Mojokerto, Jawa Timur. “Kami tidak lagi memakai terigu di rumah. Semua pakai tepung sorgum dan mokaf. Gluten free, tanpa MSG,” tutur Ida.

Gaya hidup sehat ini ia jalani sejak 2021 dan kini menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Ida optimistis dalam tiga hingga lima tahun ke depan, penggunaan sorgum akan semakin meluas. Ia berharap mi berbahan sorgum bisa menjadi alternatif mi instan yang lebih sehat dan terjangkau.

Dari Lamongan ke Depok: Jejak Sorgum Sehat

Tak hanya Ida, semangat mengangkat sorgum sebagai pangan lokal juga datang dari Ilma Pagia Fauzia, S.Hut., pelaku usaha Olahan Sehat Hawa di Kecamatan Mekarsari, Kota Depok, Jawa Barat. Ilma mengolah sorgum menjadi beragam pangan sehat seperti kerupuk sorgum, bronis lumer, dan peyek.

Kerupuk sorgum menjadi produk andalannya dengan harga Rp18.000 per 50 gram. Saat momentum tertentu seperti Lebaran, penjualannya bisa menembus 100 kemasan. “Permintaan terus meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat,” ujar Ilma.

Pada 2024, Ilma berkesempatan mengikuti business matching dan mendapat tawaran ekspor dari calon pembeli asal Australia yang meminta satu kontainer berisi berbagai olahan sorgum. Namun, peluang tersebut belum dapat dipenuhi karena kapasitas produksi yang masih terbatas.

Bahan baku sorgum diperoleh dari petani mitra, dengan kebutuhan sekitar 7 kg beras dan 3 kg tepung sorgum untuk satu kali produksi. Meski kapasitasnya masih kecil, Ilma optimistis prospek sorgum ke depan kian cerah. Ia aktif mengikuti pameran dan forum bisnis untuk memperkenalkan produknya.

Salah satu pengalaman berkesan baginya adalah ketika membawa 145 kemasan produk ke sebuah acara dan seluruhnya ludes terjual. “Itu bukti bahwa masyarakat mulai terbuka dengan pangan lokal yang lebih sehat,” ujarnya.

Artikel Terbaru

Cuaca Ekstrem Warnai Libur Nataru, Pakar Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan

Cuaca yang kian tidak menentu mewarnai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode yang lazim dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata....

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img