Trubus.id—Puluhan platycerium memenuhi kamar kosong milik Ali Soygeboy, pehobi platycerium yang ada di Jakarta Selatan. Ali meletakkan simbar menjangan di dalam ruangan berukuran 4 m x 4 m. Ia merawat 130 platycerium hasil seleksi menggunakan lampu tumbuh alias grow light.
Memelihara tanaman paku di dalam ruangan menggunakan lampu tumbuh merupakan inovasi baru yang mampu menghasilkan tanaman berkualitas dan memiliki daya tumbuh lebih cepat. Ia sengaja mengoleksi platycerium hasil seleksian. Hampir seluruh tanaman mengalami mutasi dengan penampilan yang apik. Perawatan tanaman di dalam ruangan mampu menghasilkan platycerium dengan karakter terbaiknya.
Lampu tumbuh
“Pertumbuhan platycerium di dalam rungan juga jauh lebih cepat,” ujar Ali. Ia pernah membandingkan dengan perawatan di luar ruangan. Hasilnya perawatan platycerium di dalam ruangan memiliki daya tumbuh dua hingga tiga kali lipat lebih cepat. Ali menyalakan lampu tumbuh 24 jam per hari.
Dampaknya durasi fotosintesis yang terjadi lebih panjang. Bandingkan perawatan di luar ruangan hanya mengandalkan sinar matahari. Asupan sinar matahari yang diperoleh hanya 8 jam per hari. Ali menggunakan 3 sekat berjaring untuk meletakkan platycerium. Setiap sekat berisi 40 tanaman. Sementara sisanya 10 tanaman ia gantungkan mengitari dinding kamar.
Setiap sekat dilengkapi 2 lampu tumbuh model bar. Ada juga 15 lampu tumbuh model sorot yang mengitari sekat. Kedua jenis lampu tumbuh itu memiliki daya 45 watt. Ali mengatur sedemikian rupa posisi lampu dengan tanaman supaya memperoleh asupan cahaya secara merata. Ia mengatur secara detail karena kebutuhan cahaya setiap tanaman berbeda.
Sebagai contoh Platycerium bifurcatum dan Platycerium veitchii memiliki kebutuhan cahaya yang tinggi, yakni 20.000 lux meter. Sementara jenis Platycerium willinckii hanya membutuhkan 10.000 lux meter. Ia juga memasang satu pendingin ruangan dengan daya 1 paard kracht (PK).
Perawatan
Dalam ruangan seluas 16 m2 itu suhu stabil di angka 20—23°C. Kipas angin dinyalakan menghadap ke lantai atau langit-langit. Tujuannya untuk mengatur perputaran udara dingin supaya merata. Ali menghindari penggunaan exhaust. Musababnya dapat menyedot udara dingin dari dalam ruangan ke luar ruangan.
Ali memilih membuka jendela pada malam hari untuk mengatur perputaran udara. Pria kelahiran Sulawesi utara itu juga memberikan pupuk untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Ali memberikan pupuk lambat urai npk 19:10:13.
Dosis yang diberikan 1 sendok teh. Ia juga memberikan fungisida yang mengandung bahan aktif neonicotinoid. Dosis yang diberikan seperempat sendok teh. Ali menggunakan dua kantong kasa untuk meletakkan pupuk dan fungisida itu.
Media tanam
Media tanam yang digunakan berupa 70% serbuk sabut kelapa dan 30% shpagnum moss. Ia meletakkan shpagnum moss pada lapisan luar supaya media tetap lembap. Sekali dalam sepekan Ali juga menambahkan 38 mg pupuk yang mengandung 2,29% nitrogen dan 4 tetes pupuk organik yang mengandung 155,3 mg sodium.
Pupuk itu dilarutkan ke dalam 19 liter air. Aplikasi dengan cara menyemprotkan pada seluruh tanaman. Untuk menjaga kelembapan penyiraman dilakukan 2 kali dalam sepekan. Ali juga rutin menyemprotkan desinfektan sekali sebulan. Dosis yang diberikan 20 ml per 2 liter air.
Penyemprotan desinfektan dilakukan di luar ruangan. Tujuannya supaya tidak menimbulkan bau yang menyengat di dalam ruangan. Upaya yang dilakukan Ali mampu menghasilkan platycerium yang berkualitas. Hampir 100% tanaman milik Ali mengeluarkan performa terbaiknya meskipun di dalam ruangan.
Sebagai contoh Platycerium cianjurngensis miliknya mendapatkan tawaran dengan nilai Rp 45 juta. Ada juga Platycerium willinckii “masayu” pernah ditawar dengan nilai ratusan juta oleh salah satu pehobi dari Taiwan. Namun, Ali belum rela melepas tanaman klangenannya itu.

Platycerium willinckii “masayu” milik Ali Soygeboy pernah ditawar ratusan juta oleh pehobi Taiwan. Dok. Trubus/ Intan Dwi Novitasari.
Menurut Ali pemeliharaan platycerium di dalam ruangan sangat cocok dengan tempat tinggal di kota. Suhu udara di perkotaan cenderung tinggi. Sirkulasi udara juga kurang lancar. Solusinya membuat rekayasa lingkungan yang sesuai dengan habitat tumbuh platycerium.
Pehobi dan penangkar platycerium di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Adi Arab juga menggunakan lampu tumbuh untuk merawat platycerium. “Penggunaan lampu dapat mempertebal daun dan mempertahankan warna hijau pada daun,” ujar Adi. Bandingkan dengan pemeliharaan di luar rungan, daun mudah berubah menjadi kecokelatan.
Trikoma pada daun juga semakin lebat, membuat karakter tanaman semakin terlihat. Sama seperti Ali, Adi juga pernah membandingkan pertumbuhan platycerium. Platycerium veitchii milik Adi yang dipelihara menggunakan lampu tumbuh memiliki pertumbuhan daun steril lebih cepat.
Nun kolektor dan pebisnis tanaman hias di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, I Kadek Agus Undrawan juga memelihara platycerium menggunakan lampu tumbuh. Enji—sapaan akrab I Kadek Agus Indrawan—mengoleksi Platycerium veitchii wild “HH#2”. Enji meletakkan koleksi platycerium eksklusif pada rumah tanam semi terbuka.
Ia menggunakan lampu tumbuh untuk mencapai penampilan tanaman yang sempurna. Menurut ahli agribisnis di Universitas Padjajaran, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., penggunaan tren lampu tumbuh untuk merawat tanaman di dalam ruangan merupakan salah satu inovasi menarik di dunia agribisnis.
Berarti keberadaan tanaman platycerium terutama dari segi bisnis berkembang semakin luas. Pergeseran perawatan tanaman dari ruang terbuka ke dalam kamar khusus. Perawatan tanaman tidak terikat lagi oleh iklim. Hal itu merupakan salah satu upaya menjaga eksistensi tanaman dan mempertahankan keberadaannya di pasar. (Intan Dwi Novitasari)
