Thursday, January 29, 2026

Tanaman Ajaib

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Singkong salah satu jawaban atas krisis pangan, bahan bakar, dan keuangan itu. Sebagai bahan bakar nabati atau bioenergi, singkong sudah terbukti. Industri skala rumahan tumbuh mengolah umbi ketela pohon itu menjadi biopremium. Biaya bahan baku bioetanol asal singkong relatif murah, US$26 per ton. Bandingkan dengan biaya bahan baku bioetanol jagung US$104 dan molase US$37 per ton.

Energi baru

Maka bahan bakar asal tanaman digadang-gadang menjadi substitusi minyak bumi yang tak dapat diperbarui. Bahan bakar nabati (BBN) antara lain bersumber dari umbi singkong dapat diperbarui dan tak menimbulkan polutan. Dr Geoffrey Hawtin, dari Centro Internacional de Agricultura Tropical (CIAT), Kolombia, mengutarakan singkong yang tumbuh di berbagai belahan dunia, saat ini berperan strategis.

Itu lantaran kian menguatnya permintaan global terhadap pangan dan energi. Pada 2007 total produksi singkong dunia mencapai 223-juta ton. Umbi itu dipanen dari lahan seluas 18-juta ha. Kira-kira 53% (117-juta ton) hasil panen di Afrika; Amerika, 17%, dan Asia, 30% (67-juta ton). Itu merupakan bahan makanan pokok penduduk lebih dari 105 negara di Asia, Afrika, dan Amerika.

Dr Reinhardt H Howeler, agronomis dari CIAT Bangkok, memaparkan keunggulan komparatif singkong yang banyak tersedia di negara-negara berkembang sebagai bioenergi dibandingkan jagung, padi, dan tebu. Dengan dukungan pemerintah yang kuat, dunia berpeluang menemukan sumber energi baru.

Wajar bila permintaan bahan baku bioetanol seperti singkong pun melonjak. Sebagian kalangan mengkhawatirkan benturan antara kepentingan keamanan pangan dan kepentingan bioenergi. Dampak benturan itu terjadi kompetisi penggunaan lahan pertanian untuk komoditas pangan dan bahan baku bioenergi. Mana yang harus diprioritaskan?

Keduanya-antara pangan dan bahan bakar-bisa sejalan. Salah satu kuncinya adalah intensifikasi dengan mengembangkan varietas unggul. Di sinilah peran penting lembaga riset untuk merakit varietas top: tahan organisme pengganggu tanaman, berumur genjah, berkadar pati tinggi, dan produksi menjulang. Jika rata-rata produksi singkong kita baru 16 ton per ha, misalnya, dengan varietas unggul produksi melejit hingga 100 ton per ha.

Ajaib

Memang sejak lama singkong sohor sebagai tanaman multiguna. Daun sebagai pakan ternak dan bahan pangan. Sedangkan umbi Manihot esculenta merupakan bahan pangan dan bahan baku beragam industri seperti industri makanan dan minuman, serta penyamakan kulit. Yang tak pernah dibayangkan banyak orang adalah ternyata singkong diperlukan pula oleh industri kertas. Dekstrin yang merupakan produk derivatif singkong berfungsi memperkaku lembaran kertas. Faedah lain sebagai pengganti tepung terigu yang kini populer sebagai modified cassava flour (mocaf).

Lantaran keserbagunaan itulah sehingga singkong berjuluk magic plant alias tanaman ajaib. Begitu besar peran singkong agar dunia keluar dari krisis energi dan pangan. Dengan demikian citra singkong sebagai tanaman ‘tak berkelas’ lambat laun terkikis. Dunia tentu berharap banyak pada singkong. Sampai-sampai pemerintah Thailand menyelenggarakan perhelatan akbar Konferensi Singkong Dunia di Bangkok pada 15-16 Januari 2009.

Konferensi itu dilatarbelakangi oleh krisis pangan dan energi, serta prospek singkong sebagai tanaman ajaib. Konferensi itu merupakan kolaborasi antara pemerintah Thailand dengan berbagai lembaga riset dan asosiasi bisnis, antara lain Centro Internacional de Agricultura Tropical (CIAT), Kolombia, the Thai Tapioca Development Institute (TTDI), dan the North Eastern Tapioca Trade Association (NETTA). Peserta datang dari berbagai negara, perwakilan pemerintah, para pelaku bisnis, dan pakar singkong.

Keterlibatan berbagai lembaga itu, meneguhkan posisi dan komitmen Thailand terhadap masa depan singkong. Selain reputasi Thailand, topik-topik lain yang dibahas selama konferensi antara lain mencari keseimbangan antara isu ketahanan pangan dan substitusi energi, situasi dan tren pasar dunia untuk komoditas sereal (biji-bijian), serta membentuk masa depan tapioka melalui inovasi baru.

Thailand merupakan negara penghasil singkong terbesar ketiga di dunia, setelah Nigeria dan Brasil. Namun, selama dekade ini Thailand merupakan negara eksportir tapioka terbesar di dunia. Penghasilan devisa yang diperoleh dari ekspor tapioka mencapai lebih dari US$1,4-miliar setiap tahun. Industri pengolahan tapioka juga melibatkan 500.000 rumahtangga petani.

Sejak 30 tahun lalu Thailand secara terus-menerus meriset dan mengembangkan singkong. Hasilnya beragam varietas unggul dan teknik budidaya dengan produktivitas tinggi. Varietas rayong 60, misalnya, berproduksi hingga 24 ton per ha dan berkadar pati 17%. Varietas unggul lain adalah kasetsart 50 dengan produktivitas 45,9 ton dan rayong 9 yang mencapai 48 ton per ha. Keduanya dipanen pada umur 1,5 tahun.

Awas krisis

Di tingkat Asia, singkong memiliki peran strategis. Thailand dan Indonesia penghasil terbesar masing-masing 26-juta ton dan 19-juta ton. Namun, Vietnam, India, China, dan Kamboja berpeluang menjadi pemain baru di pasar singkong. Sejak pertengahan dasawarsa 1990-an, laju produksi singkong di Asia terus melonjak lantaran terjadi peningkatan permintaan pasar.

Apa hikmah bagi Indonesia? Ketahanan pangan isu penting bagi Indonesia yang berpenduduk 220-juta jiwa, nomor 4 terbesar di dunia. Penambahan penduduk 3,2-juta jiwa per tahun. Meski merupakan negara agraris, swasembada pangan tantangan berat bagi Indonesia. Ada berbagai situasi yang mempengaruhi sektor pangan. Pertama, gejala perubahan iklim dan pemanasan global yang diprediksi menurunkan produksi pangan di kawasan negara-negara tropis.

Para ahli memprediksi produksi pangan Indonesia anjlok 20% dalam 50 tahun ke depan. Kedua, terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan, jalan tol, dan industri. Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,3-1,5% per tahun dan konversi lahan pertanian kian cepat, diperkirakan krisis pangan menghantam Indonesia dalam 10-20 tahun mendatang.. Ketiga, kerentanan dunia terhadap krisis pangan dan energi.

Pertambahan penduduk dunia rata-rata 80-juta jiwa tiap tahun. Meningkatnya pendapatan masyarakat menyebabkan permintaan bahan pangan dengan berbagai variannya terus meningkat. Pada sisi yang lain terjadi tarikan permintaan dari industri bioenergi. Dengan fenomena itu, pangan dan energi alternatif menjadi agenda yang tak bisa ditunda lagi. Para ahli pertanian dunia mengakui, terjadinya krisis pangan menyebabkan singkong menjadi pusat tumpuan harapan global.

Singkong diyakini dapat memproteksi masyarakat miskin terhadap masalah ketahanan pangan dan krisis energi. Indonesia peringkat ke-4 dalam produksi singkong. Hampir semua produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selama 10 tahun terakhir (1998-2008) terjadi peningkatan produksi singkong sebesar 48,3%, yakni dari 14,7- juta ton pada 1998 menjadi 21,8-juta ton (2008).

Sayangnya, produktivitas lahan singkong di Indonesia hanya 16,25 ton per ha. Bandingkan dengan produktivitas singkong di India mencapai 31,40 ton, Thailand 22,92 ton, dan Kamboja 20,83 ton per ha. Belajar dari sukses Thailand, inovasi dan teknologi merupakan kunci dalam membangun produktivitas. Investasi di bidang riset dan pengembangan merupakan faktor penting dalam rangka mendongkrak laba petani singkong. Juga solusi atas megakrisis: pangan, bahan bakar, dan keuangan.***

*) Bambang Ismawan, pemimpin umum Majalah Trubus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img