Trubus.id – Madu dari lebah tanpa sengat atau madu klanceng kini semakin dilirik sebagai pangan fungsional masa depan. Kandungannya tak hanya manis alami, tetapi juga rendah gula, kaya antioksidan, dan mengandung probiotik alami yang bermanfaat bagi pencernaan.
Bagian lain dari sarang juga dapat diolah menjadi propolis yang berpotensi sebagai antibakteri. Dengan nilai tambah ini, madu klanceng menghadirkan manfaat lebih luas dibandingkan madu konvensional.
Menurut Ema Damayanti, periset dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, pada Kanal BRIN, madu klanceng memiliki kadar gula yang lebih rendah dibandingkan madu dari lebah bersengat (Apis). Selain glukosa dan fruktosa, madu ini mengandung trehalosa, yaitu gula fungsional dengan indeks glikemik rendah.
Kandungan senyawa bioaktif dalam madu klanceng juga lebih kaya, serta memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Karakteristik ini menjadikan madu kelanceng unggul dalam aspek kesehatan dan pencernaan.
Sebanyak 30–40 persen mikroba dalam madu klanceng terdiri atas bakteri asam laktat. Bakteri ini tidak hanya mendukung fungsi probiotik, tetapi juga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi.
Kemampuan antioksidan tidak hanya berasal dari madunya, tetapi juga dari bakteri alami yang hidup di dalamnya. Ini menjadikan madu klanceng sebagai sumber antioksidan ganda secara alami.
Untuk memastikan manfaatnya, BRIN melakukan serangkaian pengujian terhadap madu klanceng di laboratorium. Pengujian ini bertujuan mengidentifikasi sifat nutrasetikal seperti antioksidan dan potensi antikanker.
Ema Damayanti menjelaskan bahwa pengujian dimulai dari uji fisikokimia untuk mengukur viskositas, pH, dan warna. Analisis ini dilakukan menggunakan peralatan laboratorium di BRIN.
Selanjutnya, dilakukan uji mikrobiologi untuk mengetahui total bakteri dan total jamur dalam madu. Hal ini penting untuk menilai keamanan dan stabilitas produk.
Pengujian berlanjut ke analisis kandungan antioksidan guna mengukur kemampuan madu menangkal radikal bebas. Ini menjadi indikator penting untuk menilai potensi fungsional madu.
BRIN juga menguji madu klanceng secara in vitro melalui penghambatan enzim alpha-glucosidase.
