Monday, June 22, 2026

Tiga Bahan Dapur Ini Terbukti Efektif Usir Kutu Daun pada Terung hingga 80 Persen

Rekomendasi

Trubus.id — Belimbing wuluh, daun sirih, dan kulit jengkol yang selama ini mudah ditemui di dapur ternyata menyimpan potensi besar sebagai pestisida nabati. Kombinasi ketiganya terbukti mampu menekan serangan kutu daun pada tanaman terung hingga lebih dari 80 persen berdasarkan hasil riset terbaru.

Kutu daun (Aphis gossypii) merupakan salah satu hama penting pada tanaman terung. Serangga kecil ini mengisap cairan tanaman dan dapat membentuk koloni padat hingga 100–200 ekor per tanaman. Serangannya menyebabkan daun mengeriting, menggulung, dan memicu pertumbuhan jamur jelaga Capnodium sp. yang membuat permukaan daun menghitam dan mengganggu proses fotosintesis.

Serangan umumnya meningkat pada fase vegetatif aktif, sekitar 35–42 hari setelah tanam (HST). Pada fase ini, petani kerap mengandalkan pestisida kimia untuk mengendalikan hama, meskipun berisiko menimbulkan residu dan biaya produksi yang tinggi.

Efektivitas kombinasi bahan dapur tersebut dibuktikan melalui penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Triton (Juni 2026) oleh Kayla Fatimah Zulfah dan tim dari Universitas Negeri Jakarta. Penelitian dilakukan pada tanaman terung ungu varietas Laguna F1 di Lahan Laboratorium Agens Hayati Cibubur, Jakarta Timur, pada Februari–Mei 2025.

Peneliti menguji beberapa konsentrasi ekstrak, yaitu 10%, 30%, 50%, hingga 70%, serta kontrol tanpa perlakuan. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi, semakin rendah tingkat serangan kutu daun pada tanaman.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi 70% memberikan hasil paling optimal. Pada perlakuan ini, intensitas serangan kutu daun hanya mencapai 6,06% pada puncak serangan (35 HST), jauh lebih rendah dibandingkan kontrol yang mencapai 22,18% pada 42 HST. Dengan demikian, formulasi tersebut mampu menekan serangan lebih dari 80 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.

Konsentrasi 50% juga menunjukkan efektivitas cukup baik dengan penurunan sekitar 35% dibanding kontrol. Sementara konsentrasi 10% dan 30% hanya memberikan pengaruh terbatas ketika populasi hama meningkat.

Ketiga bahan alami tersebut memiliki senyawa aktif yang saling melengkapi dalam mengendalikan hama. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) mengandung tanin, flavonoid, saponin, dan triterpenoid yang dapat mengganggu sistem pencernaan serangga serta menghambat pertumbuhannya.

Daun sirih (Piper betle) mengandung minyak atsiri seperti eugenol, kavikol, dan metil eugenol yang berfungsi sebagai racun kontak sekaligus penolak makan (antifeedant), sehingga hama enggan mendekati tanaman.

Sementara itu, kulit jengkol mengandung tanin, flavonoid, alkaloid, dan asam fenolat yang turut menghambat proses pencernaan serangga kecil seperti kutu daun. Kombinasi ketiganya menghasilkan efek insektisida yang lebih kompleks dan efektif dibanding penggunaan satu bahan tunggal.

Pestisida nabati ini dapat dibuat dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Bahan yang digunakan meliputi 150 gram daun belimbing wuluh segar, 150 gram daun sirih segar, 150 gram kulit jengkol, dan 450 ml air bersih.

Seluruh bahan dicuci bersih, dipotong kecil-kecil, lalu diblender bersama air hingga halus. Campuran kemudian didiamkan selama 24 jam dalam wadah tertutup, disaring, dan diperoleh ekstrak yang siap digunakan. Larutan dapat disimpan dalam lemari pendingin jika belum dipakai.

Ekstrak diencerkan hingga konsentrasi optimal 70% (70 ml ekstrak : 30 ml air) sebelum disemprotkan merata pada seluruh bagian tanaman, termasuk permukaan atas dan bawah daun. Dosis penggunaan sekitar 50 ml per tanaman pada fase vegetatif dan 100 ml pada fase generatif, dengan frekuensi tiga kali seminggu pada pagi hari.

Selain efektif menekan hama, penggunaan pestisida nabati ini juga tidak mengganggu keberadaan musuh alami di lapangan. Peneliti masih menemukan predator seperti kumbang koksi (Coccinella transversalis) dan larva Scymnus sp. yang aktif memangsa kutu daun.

Kombinasi pestisida nabati dan musuh alami ini mendukung konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Berbeda dengan pestisida kimia, bahan alami ini juga lebih cepat terurai sehingga tidak meninggalkan residu berbahaya pada lingkungan maupun hasil panen.

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan bahan dapur sebagai solusi pengendalian hama yang murah, mudah, dan ramah lingkungan. Dengan pemanfaatan sumber daya lokal, petani dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sekaligus menekan biaya produksi tanpa mengurangi efektivitas pengendalian hama.


Artikel Terbaru

Inovasi Coating Nabati Lindungi Kacang Tanah dari Racun Aflatoksin

Kacang tanah adalah komoditas yang hampir tidak pernah absen dari meja makan orang Indonesia — mulai dari bumbu sate,...

More Articles Like This