Selain umbi-umbian, komoditas herba dari Afrika Timur juga menunjukkan geliat positif di pasar internasional. Mustapha Mallah, produsen herba asal Uganda, memasarkan berbagai tanaman seperti lokio, basil, oregano, thyme, dan spearmint ke Eropa.
Mustapha mengelola kebun seluas sekitar 40 hektare, dengan 15 hektare di antaranya berupa greenhouse. Produk yang dihasilkan telah mengantongi sertifikasi internasional seperti Global GAP, Fairtrade, dan MPS GAP. Dengan standar tersebut, sekitar 80% produksinya berhasil menembus pasar Belanda dan Denmark.
Keberhasilan ekspor herba sangat ditentukan oleh penerapan rantai dingin. Produk disimpan dalam cold room bersuhu 10—15°C, lalu diangkut menggunakan truk pendingin dengan suhu 2—4°C hingga ke bandara. Suhu tersebut tetap dipertahankan selama pengiriman udara untuk menjaga kesegaran.
Menurut Mustapha, tren bisnis herba diperkirakan terus meningkat dalam 10 tahun mendatang. Salah satu pendorongnya yakni pemanfaatan herba sebagai bahan tambahan pakan ternak yang mulai berkembang di berbagai negara.
Dengan kombinasi teknologi budidaya modern dan standar mutu global, herba Uganda memiliki peluang besar untuk memperluas pasar dan meningkatkan volume produksi di masa depan.
