Kemarau Panjang Picu Ledakan Hama, Pengendalian OPT Harus Lebih Antisipatif

Rekomendasi

Musim kemarau yang semakin panjang dan kering membawa dampak nyata bagi sektor pertanian. Kekurangan air, peningkatan suhu, hingga perubahan pola serangan hama dan penyakit menjadi tantangan yang kian kompleks di lapangan.

Kondisi ini membuat produktivitas tanaman rentan menurun, terutama pada komoditas pangan utama. Selain itu, ketidakpastian musim juga menyulitkan petani dalam menentukan waktu tanam dan strategi budidaya yang tepat.

Saya melansir dari laman IPB University, perubahan iklim menuntut adanya pergeseran pendekatan dalam pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT). Kepala LPA2I IPB University, Dr Handian Purwawangsa, menilai pengendalian OPT perlu beralih dari reaktif menjadi lebih antisipatif dan berbasis data.

Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Dr Giyanto, menambahkan bahwa konsep pengelolaan preemtif perlu terus diperkenalkan kepada petani. Dengan demikian, risiko serangan hama dan penyakit dapat diantisipasi sebelum benar-benar terjadi di lapangan.

Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Prof Hermanu Triwidodo, menjelaskan bahwa musim kemarau yang lebih panas dan kering meningkatkan potensi ledakan hama. Beberapa hama penting seperti penggerek batang padi, wereng batang cokelat, tikus, dan belalang kembara berisiko berkembang lebih cepat.

Peningkatan suhu mempercepat siklus hidup hama, sementara populasi musuh alami justru cenderung menurun. Kondisi ini membuat keseimbangan ekosistem terganggu dan memperbesar peluang terjadinya serangan masif.

Menurut Prof Hermanu, pengelolaan OPT yang efektif harus dimulai jauh sebelum hama muncul. Strategi penangkalan, pengekangan, dan penekanan perlu dirancang berdasarkan pengalaman, data, serta kondisi musim tanam sebelumnya.

Ia juga menegaskan bahwa petani merupakan aktor utama dalam pengelolaan OPT. Oleh karena itu, penerapan persemaian sehat, pemanfaatan agen hayati, konservasi musuh alami, serta rekayasa ekologi menjadi langkah penting pencegahan.

Pada sisi penyakit tanaman, Dr Hagia Sophia Khairani mengungkapkan bahwa perubahan iklim mempercepat adaptasi patogen. Hal ini menyebabkan karakter penyakit tanaman, termasuk blas padi, menjadi berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.

Patogen memiliki kemampuan beradaptasi lebih cepat dibandingkan tanaman, sehingga strategi pengendalian harus terus diperbarui. Pendekatan lama yang digunakan berulang tanpa evaluasi berisiko tidak lagi efektif.

Penggunaan fungisida dengan bahan aktif yang sama secara terus-menerus juga dapat memicu resistensi patogen. Selain itu, munculnya penyakit baru seperti bercak daun akibat Nigrospora spp. perlu diwaspadai karena gejalanya mirip dengan blas.

Untuk itu, pengelolaan penyakit harus dilakukan secara terpadu. Sanitasi lahan, pemilihan varietas yang tepat, pemantauan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pertanian di musim kemarau.

Artikel Terbaru

Potensi Sukun Jadi Pangan Lokal, Bisa Diolah Menjadi Tepung hingga Tapai

Sukun berpotensi menjadi salah satu sumber pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia. Selain kaya karbohidrat, buah ini dapat...

More Articles Like This