Produktivitas Padi PM-AAS di Indramayu Capai 10,45 Ton per Hektare

Rekomendasi
- Advertisement -

INDRAMAYU—Penerapan Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, menunjukkan hasil positif. Berdasarkan hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu, produktivitas padi di lokasi tersebut mencapai rata-rata 10,45 ton per hektare.

Pengukuran dilakukan di lima titik ubinan pada lahan dengan varietas padi dan kelompok tani yang berbeda. Hasilnya, produktivitas padi berkisar 8,44–12,35 ton per hektare.

Kelompok Tani Bina Tani 2 yang menanam varietas Inpari 32 menghasilkan 8,44 ton per hektare. Kelompok Tani Makmur dengan varietas Ciherang mencatatkan produktivitas tertinggi, yakni 12,35 ton per hektare.

Sementara itu, Kelompok Tani Bina Tani 3 yang menanam Inpari 32 menghasilkan 9,09 ton dan 11,74 ton per hektare dari dua titik pengukuran. Adapun Kelompok Tani Bina Tani 4 dengan varietas yang sama menghasilkan 10,65 ton per hektare.

“Sehingga kalau dirata-ratakan ini istimewa, yaitu 10,45 ton per hektare,” ujar Kepala BPS Kabupaten Indramayu, Januarto Wibowo, saat kegiatan panen dan penyampaian hasil ubinan, Rabu (26/8/2026).

Menurut Januarto, metode ubinan menjadi salah satu cara untuk mengukur produktivitas tanaman berdasarkan kondisi di lapangan. BPS juga melakukan pemantauan pertanaman melalui Kerangka Sampel Area (KSA), mulai dari fase vegetatif, generatif, hingga pengamatan luas panen.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat, Detia Tri Yunandar, mengatakan produktivitas padi di lahan PM-AAS sebelumnya hanya berkisar 3–6 ton per hektare. Setelah penerapan sistem pertanian modern, produktivitasnya meningkat hingga sekitar 10 ton per hektare.

Penerapan PM-AAS di lokasi tersebut didukung berbagai peralatan dan teknologi pertanian. Sarana yang digunakan meliputi 11 unit pompa, delapan unit irigasi perpompaan, satu unit combine harvester, serta satu unit drone sprayer.

Penanaman padi dimulai pada Mei 2026 dan panen dilakukan secara bertahap sejak 19 Agustus 2026. Modernisasi pertanian tersebut turut meningkatkan biaya produksi dari sekitar Rp15 juta menjadi Rp20 juta per hektare.

Meski demikian, peningkatan produktivitas berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi petani. Dengan harga gabah Rp6.500 per kg, tambahan pendapatan diperkirakan mencapai sekitar Rp24 juta per hektare, sedangkan pada harga Rp8.500 per kg nilainya dapat mencapai Rp32 juta per hektare.

Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan capaian tersebut melampaui target awal produktivitas sebesar 8 ton per hektare. Hasil itu juga meningkat dibandingkan produktivitas sebelumnya yang hanya berada di kisaran 5–6 ton per hektare.

“Dari yang tadinya sekitar 5 sampai 6 menjadi 8 ton. Alhamdulillah berkah. Ternyata pas diukur oleh BPS juga tadi sudah dapat angka 10 ton lebih,” katanya.

Menurut Lucky, capaian tersebut menunjukkan penerapan teknologi dan modernisasi pertanian berpeluang meningkatkan produktivitas padi. Keberhasilan di Desa Plosokerep diharapkan dapat mendorong petani untuk semakin terbuka dalam memanfaatkan teknologi pertanian.

“Ini tentu menjadi semangat dan optimisme bagi kita semua, khususnya para petani, untuk terus meningkatkan produksi dan memanfaatkan teknologi pertanian,” ujarnya.

Capaian produktivitas hingga rata-rata 10,45 ton per hektare tersebut menjadi gambaran potensi peningkatan hasil melalui penerapan sistem pertanian modern. Hasil ubinan BPS juga dapat menjadi bahan pemantauan untuk menghasilkan data produktivitas pertanian yang lebih terukur.

Sumber:https://diskominfo.indramayukab.go.id/berita/detail/hasil-ubinan-bps-produktivitas-padi-pmaas-di-plosokerep-capai-1045-ton-per-hektare

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Kopi Liberika Sumsel Bidik Pasar Rusia, Ekspor Terus Didorong

Trubus.id — Kopi Liberika asal Sumatera Selatan mulai membidik pasar Rusia. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendampingi pelaku usaha mikro,...

More Articles Like This