Kerapu Lumpur Berbobot 1,5 Kg Dibudidayakan Tanpa Pakan Tambahan di Tambak Rob

Rekomendasi

TBS.id – Genangan banjir rob di kawasan pesisir ternyata berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya perikanan. Dosen Universitas Diponegoro (UNDIP) membuktikan hal tersebut melalui budidaya ikan kerapu lumpur (Epinephelus coioides) menggunakan sistem Eco-Alami di kawasan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah.

Melalui sistem tersebut, ikan kerapu lumpur mampu mencapai bobot 1,5 kg dengan panjang 40 cm setelah dipelihara selama 12 bulan. Menariknya, budidaya itu berlangsung tanpa pemberian pakan tambahan sehingga biaya operasional dapat ditekan.

Keberhasilan ini memanfaatkan rantai makanan alami yang terbentuk di lingkungan budidaya. Sistem Eco-Alami mengintegrasikan ekosistem mangrove, ikan mujair, dan ikan kerapu dalam hubungan yang saling mendukung.

Lumut yang tumbuh di sekitar akar dan pohon mangrove menjadi sumber makanan bagi ikan mujair. Selanjutnya, telur dan larva mujair serta organisme alami seperti teritip menjadi sumber pakan bagi ikan kerapu lumpur.

Sementara itu, feses ikan dan serasah daun mangrove yang terdekomposisi menjadi sumber nutrien bagi mangrove. Dengan demikian, setiap komponen dalam ekosistem memiliki peran dalam menjaga ketersediaan nutrisi secara alami.

Pemanfaatan rantai makanan tersebut membuat pembudidaya tidak perlu menyediakan pakan buatan. Selain menghemat biaya, pendekatan ini juga mendukung kegiatan budidaya yang lebih ramah lingkungan karena mengandalkan potensi ekosistem sekitar.

Pengembangan budidaya ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNDIP. Kegiatan tersebut diketuai oleh Dr. Kunarso, S.T., M.Si. bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Manunggal Bahari di Tambakrejo yang diketuai Suratno.

Menurut Kunarso, keberhasilan menghasilkan kerapu lumpur berbobot 1,5 kg dengan panjang 40 cm dalam waktu 12 bulan menunjukkan potensi pengembangan budidaya perikanan di kawasan pesisir terdampak rob.

Inovasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha alternatif bagi masyarakat pesisir. Selain meningkatkan produktivitas, budidaya kerapu dengan sistem Eco-Alami juga berpotensi membantu mengurangi beban ekonomi warga yang selama ini hidup berdampingan dengan genangan rob.

Melalui pendekatan ini, kawasan terdampak rob tidak hanya dipandang sebagai wilayah yang menghadapi persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Pengembangan sistem Eco-Alami sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan kedua tentang ketahanan pangan dan tujuan ke-14 mengenai pelestarian serta pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Sumber: https://undip.ac.id/post/60318/manfaatkan-genangan-rob-dosen-undip-berhasil-budidayakan-kerapu-15-kg-tanpa-pakan-tambahan.html



Artikel Terbaru

Indonesia Agri-Future Forum 2026 Dorong Swasembada Pangan Berkelanjutan

Pemuda Tani Indonesia bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menggelar Indonesia Agri-Future Forum 2026 pada Jumat, 6 November 2026,...

More Articles Like This