Thursday, January 29, 2026

Jambu biji: Si Jumbo dari Formosa

Rekomendasi
- Advertisement -

Inilah jambu “bangkok” asal Taiwan, namanya tiwang.

Eric Wiraga menyambagi salah satu pohon jambu biji di kebunnya di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pohon jambu biji itu tengah berbuah lebat. Seluruh buah dibungkus jaring stirofoam dan plastik bening. Pengusaha tekstil di Bandung, Jawa Barat, itu lalu memetik salah satu buah kemudian membuka bungkusnya. “Silakan cicip, Pak,” kata Eric. Ia menyodorkan buah jambu biji itu kepada ahli buah di Bogor, Jawa Barat, M Reza Tirtawinata, yang turut dalam rombongan tur ke kebun itu.

Reza pun mencicip buah jambu biji seukuran dua kepalan tangan orang dewasa itu. “Dagingnya renyah dan manis. Ini buah premium,” kata Reza. Jambu biji yang Eric sodorkan itu adalah jambu tiwang asal Taiwan. Menurut Eric jambu tiwang lebih dahulu populer di negeri Formosa ketimbang jambu kristal yang saat ini tengah naik daun di tanahair. Ia memperoleh bibit jambu biji tiwang hasil cangkok saat berkunjung ke Taiwan pada 2011. Dari sana ia membawa 300 bibit jambu tiwang, lalu menanamnya berjarak 2,5 m x 2,5 m di lahan 1 ha.

 

Eric Wiraga mengebunkan jambu tiwang di lahan 1 haRenyah

Menurut data Kementerian Pertanian dan Perikanan Taiwan, di Taiwan sebetulnya ada tiga jenis varietas jambu biji yang dikembangkan sejak 1915: jambu biji taiwan, century, dan mutiara.  Jenis yang pertama berukuran paling besar dengan bobot 400—700 g per buah dan bentuknya cenderung bulat. Sementara jambu century berukuran lebih kecil, yakni hanya 200—400 g per buah. Ciri khas century terlihat dari buah yang berbentuk seperti kerucut yakni melebar di bagian dasar buah dan mengerucut di bagian pangkal.

Tanaman anggota famili Myrtaceae itu memiliki lebih banyak percabangan sehingga lebih rimbun. Keunggulan lain jambu itu lebih tahan serangan penyakit. Varietas jambu biji yang paling populer di Taiwan adalah jambu mutiara.  Beberapa pekebun di tanahair juga mengebunkan jenis itu. Sosok jambu mutiara mirip century, berbobot  200—400 g per buah. Di Taiwan kualitas buah jambu mutiara paling optimal pada pembuahan musim gugur dan musim dingin. Rasanya lebih manis dan renyah.

Jika berbuah pada musim panas, buah biasanya lebih cepat matang. Daging buahnya juga lunak sehingga lebih cepat rusak jika disimpan pada suhu ruang 250C. Itulah sebabnya Kementerian Pertanian dan Perikanan Taiwan merekomendasikan jambu taiwan dan century yang kualitas buahnya bagus saat musim panas. Eric menduga jambu tiwang tergolong jenis jambu taiwan. Itu karena jambu tiwang produktif saat musim panas sehingga adaptif di kawasan tropis seperti di kebunnya di Subang yang berketinggian 600 meter di atas permukaan laut (dpl).

“Di kebun saya tumbuh subur dan genjah. Pada umur 1 tahun sudah mulai belajar berbuah,” ujar Eric. Ukuran buahnya juga besar-besar, rata-rata sekilogram terdiri atas dua buah atau 500 g per buah.  Ukuran buah sebesar itu mirip jambu bangkok asal Thailand yang menjadi primadona tanahair pada era 1980-an. Budidayanya pun relatif mudah dan murah. Sebagai sumber nutrisi Eric hanya rutin membenamkan 25 kg pupuk kotoran sapi yang telah terurai sempurna untuk masing-masing tanaman setiap 6 bulan.

Selain itu ia juga memberikan pupuk tambahan berupa NPK berimbang. Pupuk sintetis kimia itu hanya diberikan untuk tanaman yang pertumbuhannya kurang optimal. “Cirinya daun terlihat kurang segar seperti berwarna hijau pucat,” kata Eric. Ia memberikan pupuk tambahan NPK usai panen terakhir untuk memulihkan kondisi tanaman. Dosisnya 10 g NPK per pohon. Menurut ahli pupuk di Jakarta, Yos Sutiyoso, tanaman memerlukan pasokan energi tinggi untuk mendorong pertumbuhan buah. Untuk memulihkan energi yang terkuras saat berbuah perlu segera diberi tambahan nutrisi.

 

Di kebun Eric Wiraga jambu tiwang dikebunkan secara intensifSeleksi buah

Eric melakukan perawatan tanaman lebih intensif. Itu karena kelembapan udara di kebunnya tergolong tinggi sehingga tanaman rentan terserang penyakit. Ketika kelembapan tinggi,  pada daun dan buah muncul cendawan yang membentuk jelaga. Berdasarkan pengalaman Eric kehadiran cendawan itu memang tidak berakibat fatal bagi pertumbuhan tanaman. “Tapi jika dibiarkan dapat menyelimuti seluruh daun sehingga dapat menghambat fotosintesis,” ujar Yos Sutiyoso.

Itulah sebabnya Eric rutin melakukan pemangkasan agar tajuk tidak terlalu rimbun. Setiap cabang yang menjulang melebihi 1 m ia pangkas. Menurut Eric kondisi tajuk yang rimbun membuat kelembapan mikro di sekitar tanaman menjadi lebih tinggi.  Dengan pemangkasan sirkulasi udara juga menjadi lebih lancar. Efek lain, pemangkasan juga merangsang buah. Biasanya tanaman mulai berbunga 4 pekan pascapemangkasan. Buah siap panen 14—16 pekan kemudian.

Agar kualitas buah premium: ukuran buah besar, seragam, dan mulus, Eric menyeleksi buah. Pada setiap dompolan ia hanya mempertahankan 1 buah berukuran paling besar. Eric juga membungkus buah dengan jaring stirofoam saat buah seukuran bola pingpong. Tujuannya agar buah tidak memar saat panen dan pengangkutan. Ia juga membalut buah dengan plastik transparan untuk mencegah serangan  lalat buah Bactrocera dorsalis penyebab buah busuk. Dengan berbagai perawatan itu Eric memanen 15 kg buah setiap panen. Eric biasanya panen dua kali sepekan. Karena jumlah buah masih terbatas, Eric hanya menjual buah jambu tiwang di kedai miliknya  dengan harga Rp15.000 per kg.

Ia juga belum menambah populasi karena belum memperbanyak kerabat cengkih itu. “Saya juga belum berani memperbanyak bibit jambu tiwang karena belum didaftarkan ke Kementerian Pertanian. Saat ini masih dalam pengamatan. Jika sudah siap dijadikan pohon induk, baru bisa didaftarkan,” kata pria yang juga gemar mengoleksi ikan koi itu. (Imam Wiguna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img