Saturday, August 13, 2022

Tembakau: Hidung Tajam Opkooper

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sebutan opkooper sejak awal abad ke-20 hingga kini tetap hidup. Para opkooper bekerja mengandalkan indra penciuman.

Dua pekerja itu membalik sekeranjang tembakau. Keranjang bambu—bagian atas—berdiameter 65 cm sebagai wadah rajangan daun tembakau kering. Tinggi keranjang tak lebih dari 75 cm. Sementara tumpukan tembakau di sebuah keranjang mencapai ketinggian 150 cm. Para pekebun yang mengirim tembakau itu memanfaatkan pelepah kering batang pisang untuk membungkus tembakau di bagian atas keranjang. Setelah pekerja membalik keranjang, dasar tembakau kini menjadi bagian paling atas dan sebaliknya.

Pekerja membalik keranjang tembakau persis di hadapan Jopie Samiadji yang duduk di sebuah kursi. Jopie lantas mengambil segulung tembakau di bagian tengah. Pria 47 tahun itu lantas mendekatkan tembakau itu di hidungnya. Mata terpejam beberapa saat. Ia lantas menarik napas dalam-dalam, membaui rajangan tembakau. Kemudian Jopie memberikan sampel itu kepada seorang petugas yang duduk di sisinya. Setelah sampel-sampel itu terkumpul, Jopie mengirimkannya ke pabrik rokok yang meminta pasokan.

Pagi hingga siang itu, aktivitas para pekerja dan Jopie terus berulang-ulang. Para pekerja membongkar satu per satu keranjang tembakau yang rapi itu. Jopie kembali menguji kelas tembakau, pekerja yang lain merapikan kembali keranjang, dan memasukkan ke dalam gudang. Hari itu, 10 Agustus 2013, ia menguji belasan keranjang. “Ini masih awal panen tembakau. Puncaknya nanti September,” kata Jopie. Petugas yang lain mencatat mutu tembakau itu yang termasuk kelas C. Tembakau kelas C berwarna kuning, isapan sedang karena kadar nikotin relatif rendah, berkisar 3—4%.

Menurut Jopie tembakau asal Temanggung terbagi atas delapan kelas, A—G serta kelas srintil (lihat ilustrasi Makin Tinggi Makin Top). Ketika puncak panen, ia menguji hingga 400—600 keranjang setiap hari. “Istirahat hanya jika makan siang,” kata opkooper atau sebutan grader tembakau di Temanggung itu. Untuk mengetahui mutu tembakau di sebuah keranjang, Jopie yang menjadi opkooper itu memerlukan tak lebih dari 60 detik.

Sebutan opkooper sejatinya muncul sejak awal abad ke-20 pada zaman Belanda. Opkooper mengacu pada orang yang melakukan pembelian tembakau hasil panen para petani. Sebutan opkooper hidup hingga kini di sentra tembakau Temanggung.

Itulah sebabnya ketika panen raya tembakau Jopie tak bisa bepergian ke mana-mana. Ia tekun menguji kualitas tembakau sejak pukul 08.00 hingga 17.00 setiap hari. Panen raya tembakau di sentra terbaik itu berlangsung pada Agustus—Oktober setiap tahun. Para petani mulai membudidayakan tanaman kerabat kentang pada Maret atau April. Petani di Kecamatan Sumbing, Kabupaten Temanggung, Maryono, mengatakan rewosan alias panen perdana ketika tanaman berumur 140 hari. Pekebun di dataran tinggi panen lebih lama dibanding di dataran rendah.

Saat panen perdana, Maryono memetik 2—3 daun terbawah. Interval panen berikutnya setiap 5—7 hari. Sementara protholan alias panen terakhir ketika tanaman berumur 175 hari. Varietas kemloko yang ia budidayakan rata-rata terdiri atas 16—18 daun per tanaman. Oleh karena itu Maryono rata-rata 5 kali memetik daun tembakau dengan sekali petik 2—3 helai. Maryono lalu memfermentasi daun selama 5—9 hari, merajang, hingga menjemur daun (lihat ilustrasi: hal 107).

Ia lantas menata rajangan daun tembakau yang tergulung rapi di dalam keranjang berbobot mencapai 50-an kg. Satu kilogram tembakau kering berasal dari 7 kg daun segar bagian atas atau 12 kg daun segar bagian bawah. Keranjang itulah yang kemudian ia bawa ke opkooper untuk ditentukan kelasnya. Semakin tinggi kelas tembakau, kian mahal harganya. Sebagai gambaran, jika harga tembakau kelas A Rp15.000, maka kelas B, Rp25.000, C (Rp35.000) per kg. Bandingkan dengan tembakau srintil, harganya mencapai Rp500.000 per kg.

Menurut Jopie rokok tertentu menggunakan tembakau kelas tertentu juga. Pada musim panen 2013, pabrik rokok meminta tembakau kelas C dan D. Meski demikian tembakau kelas lain tetap diminta, tetapi dalam jumlah lebih kecil. Jopie mengatakan salah satu “piranti” utama untuk menentukan mutu tembakau memang hidung. Bahkan dengan hidung ia mampu menentukan asal-muasal tembakau seperti Temanggung dataran tinggi, dataran menengah, dan tembakau dari luar Temanggung.

Aroma berfungsi sebagai pembeda daerah asal tembakau dan keasliannya. Menurut Jopie tembakau asal Temanggung sangat khas dan lebih unggul. Tembakau kelas F ke atas asal Temanggung, misalnya, beraroma khas seperti buah salak matang. Tembakau asal daerah lain di Indonesia tidak memiliki aroma seperti itu sehingga tidak ada grade F ke atas, hanya sampai E. Selain itu rasa tembakau Temanggung tergolong “berat” karena kadar nikotin lebih tinggi. Pantas Jopie mengibaratkan tembakau asal Temanggung sebagai lauk. Dalam proses pembuatan rokok, tembakau itu menjadi bahan campuran.

Menurut data Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat industri rokok memerlukan 16.530 ton tembakau asal Temanggung per tahun. Namun, baru terpenuhi 50—60%. “Tembakau ibarat nasi dan lauk. Tembakau asal Temanggung itu lauk, hanya butuh sedikit tetapi sudah terasa di lidah,” kata opkooper sejak berusia 26 tahun itu itu. Oleh karena itu harga tembakau asal Temanggung lebih mahal, bisa 2—3 kali lipat harga tembakau dari luar Temanggung. Itu yang menyebabkan beberapa petani atau pengepul kadang-kadang “menyusupkan” tembakau dari luar Temanggung dalam tumpukan tembakau Temanggung. Mereka menempuh cara itu demi motif ekonomi, yakni memperoleh laba lebih besar.

Namun, para opkooper profesional mampu mengendus cara curang itu. Maka mimpi pekebun atau pengepul nakal untuk meraih laba besar pun kandas. Para opkooper biasanya memasukkan mereka dalam daftar hitam. Jika itu terus terulang bukan tak mungkin, opkooper menolak membeli tembakau mereka. Menurut mantan pedagang besar di Temanggung, Soeyatno, para opkooper bukan hanya mengandalkan hidung untuk menentukan mutu daun Nicotiana tabacum itu. Mereka juga memanfaatkan mata untuk mencermati warna tembakau.

Jopie mengatakan bahwa daun kelas A atau B, cenderung berwarna hijau. Tembakau kelas A daun berwarna hijau, kelas B agak kuning, kelas C kuning. Makin tinggi kelas, makin gelap warna daun. Tembakau kelas E daun berwarna merah, sedangkan kelas F dan G daun berwarna hitam. Organ lain yang digunakan Jopie untuk menguji tembakau adalah lidah. Pagi itu ia juga membuat rokok dengan tembakau yang tengah diuji itu—tanpa campuran bahan lain seperti cengkih—untuk mengetahui citarasa tembakau. “Tidak pahit,” kata pria kelahiran 7 Juli 1966 itu.

Curah hujan tinggi selama musim kemarau biasanya menyebabkan citarasa tembakau pahit.  Jopie kini menjadi opkooper untuk produsen rokok merek Djarum. Semula ayah satu anak itu menjadi opkooper untuk ayahnya, Setyo Sugiyarso, yang menjadi pedagang besar tembakau di Temanggung.

Tahun pertama menjadi opkooper, Jopie mengatakan tingkat akurasi mencapai 90%, kekeliruan 10%. Ia belajar menjadi opkooper dari ayahnya. Sejak 1988 ia merintis menjadi opkooper profesional yang bekerja untuk produsen rokok. Menurut Jopie Samiadji menjadi opkooper merupakan penghubung antara petani tembakau dan pabrik rokok. Sebagai perpanjangan pabrik rokok, opkooper menjadi penjaga kualitas terdepan sebelum industri memanfaatkan daun tanaman anggota famili Solanaceae itu.

Di sisi lain ia juga mewakili para petani tembakau, dalam penentuan harga, misalnya. Ketika pabrik rokok menentukan harga beli tak kompetitif, para pekebun biasanya enggan menjual tembakaunya. Jopie pernah mengalami hal itu beberapa kali. Untuk mengatasinya, ia dan delapan grader lain di Temanggung dan Magelang yang bekerja untuk Djarum, sepakat meminta kenaikan harga beli.

Menjadi opkooper tembakau memang tak bekerja sepanjang tahun. Jopie mengatakan bekerja sebagai opkooper hanya saat panen selama tiga bulan. Namun, pendapatannya memadai untuk hidup selama setahun.

Di Indonesia, tembakau menghidupi 10-juta jiwa, 4-juta di antaranya para petani. Sementara dari perniagaan rokok, tembakau “menyumbang” cukai Rp52-triliun. Selain tembakau, komoditas lain yang memerlukan grader adalah kakao Theobroma cacao. Para grader yang menentukan mutu biji kakao juga mengandalakan hidung dan lidah (baca Penentu Mutu Buah Dewa halaman 108—109). Perniagaan tembakau maupun biji kakao tak bisa lepas dari peran grader. Merekalah sang penentu mutu. (Sardi Duryatmo/Peliput: Kartika Restu Susilo)

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img