Wednesday, January 28, 2026

Rambu-rambu Pijahkan Macrostoma

Rekomendasi
- Advertisement -

 

 

Biang kematian macrostoma karena perubahan kualitas air. Saat itu suhu air akuarium 320C dengan derajat keasaman sekitar 6,5-7. Pada kondisi air seperti itu cupang jenis lain seperti serit, halfmoon, dan plakat masih bisa beradaptasi.

‘Kalau pH terlalu asam efeknya ikan malas bergerak dan warnanya menjadi pudar, tapi tidak sampai mati,’ ujar Hermanus. Itu berbeda dengan macrostoma. ‘Meski coraknya bagus tetapi cupang alam mudah stres karena perubahan air,’ kata Yuyung Halim, kolektor di Jakarta Barat saat dihubungi Trubus.

Mouth brooder

Sebulan setelah kematian 2 pasang induk, Hermanus kembali mendatangkan 50 pasang induk. Dari jumlah itu setengahnya dicoba untuk dikawinkan masing-masing di akuarium berukuran 60 cm x 30 cm dengan tinggi air 30 cm. ‘Suhu dipatok sekitar 24-25oC dan pH 6-7,’ katanya. Nah, dari hasil ujicoba kedua itu, tanda-tanda keberhasilan tampak setelah diperoleh 30 burayak dari mulut macrostoma. Namun 7 ekor di antaranya kemudian mati. ‘Belum jelas penyebab kematian burayak-burayak itu,’ tambahnya.

Dari mulut? Macrostoma memang cupang alam yang reproduksinya berbeda dengan anggota keluarga betta pada umumnya. Selama ini cupang dikenal sebagai ikan hias bubble nester. Artinya ia mengeluarkan telur dalam balutan gelembung udara di permukaan air. Macrostoma bersifat mouth brooder, telur dierami di mulut kemudian keluar sebagai burayak. Hal serupa terjadi pada jenis-jenis siklid seperti frontosa dan anggota keluarga siluk.

Menurut Hermanus selain suhu dan pH terjaga, faktor lain yang penting dalam pemijahan adalah suasana tenang. ‘Ada sedikit gangguan di sekitar akuarium pasti ikan mogok kawin,’ ujar alumnus Universitas Bina Nusantara itu. Untuk menghindari macrostoma dari gangguan, sekeliling akuarium diberi penutup. Yang paling mudah memakai kertas koran atau selotip berwarna gelap.

Jika sudah merasa nyaman, macrostoma yang berpasangan akan kawin 2-3 hari kemudian. Pada hari ke-5 setelah kawin, jantan tampak menggendong telur. Seekor jantan maksimal dapat mengerami 30 telur di mulut. Telur-telur itu dierami selama 21 hari sampai jadi burayak. Selama masa pengeraman betina diangkat ke akuarium lain agar si jantan lebih tenang.

Setelah burayak dipindahkan, betina dapat kembali disatukan bersama jantan. Namun, perlu diberi jeda waktu. ‘Jangan tiba-tiba digabung supaya betina tidak rusak,’ kata Hermanus. Maklum, karena jantan hampir 21 hari tidak bersama betina, sikapnya berubah menjadi galak saat digabungkan lagi. Untuk menyiasatinya akuarium perlu diberi sekat transparan selama 7-10 hari. Saat itu tensi sang jantan sudah kembali normal. ‘Cara itu dapat mencegah kemungkinan jantan dan betina langsung kawin, yang biasanya tidak menghasilkan burayak,’ tambahnya.

Umur setahun

Menurut Hermanus pemijahan dapat berlangsung sempurna bila induk macrostoma berkualitas. Kualitas antara lain ditentukan oleh umur. Induk macrostoma paling bagus sudah berumur minimal setahun dengan panjang tubuh sekitar 6 cm. Pada jantan warna sisik tampak lebih cerah. Sebaliknya betina terdapat garis hitam di tubuh serta ekor dan sirip yang menguncup.

Air PAM dapat digunakan asalkan bebas kaporit. Untuk itu air perlu diendapkan minimal sehari semalam. Penggantian air mutlak dilakukan sambil menyipon kotoran di dasar akuarium. Meski sebetulnya macrostoma tahan air keruh. ‘Jenis ini tidak butuh air yang bening, tapi suhu dan pH harus sesuai,’ ujar Hermanus. Unuk menjaga pH stabil dapat digunakan daun ketapang sebagai water conditioner.

Untuk menambah kenyamanan ikan, 1-2 potongan pipa paralon sepanjang 10 cm atau rooster-bata berlubang-dapat ditaruh di akuarium. Pipa atau bata berlubang berfungsi untuk tempat bersembunyi. Kondisi itu sesuai habitat asli macrostoma yang suka bersembunyi di balik celah-celah batu sungai.

Yang perlu diperhatikan untuk menjaga stamina, macrostoma perlu diberi pakan kaya protein. Protein bersumber dari pelet, cacing tanah, dan bloodworm yang dapat diberikan berselang-seling. Sebagai pakan tambahan, rebon hidup dapat diberikan. Selain salah satu sumber kalsium, betakaroten pada rebon dapat mendongkrak corak warna macrostoma. Nah, bila semua rambu-rambu pemijahan itu dapat dikontrol, niscaya bakal lahir macrostoma-macrostoma berkualitas. (Lastioro Anmi Tambunan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img