Thursday, January 29, 2026

Kaki di Jepang, Junggo di Batu

Rekomendasi
- Advertisement -

‘Ini buah kaki,’ ujar Mayuzumi. Penampilannya mengingatkan Trubus pada kesemek Diospyros kaki. Hanya saja buah yang kerap dijajakan di pinggir jalan di tanahair kusam dengan sapuan warna putih di sekujur kulit, mirip bedak. Yang disuguhkan Mayuzumi bersih dan mengkilap berwarna jingga terang.

Yang di tanahair rasanya sepat dan sedikit pahit. Biasanya rasa itu diatasi dengan memeram buah dengan kapur. Makanya kulit jadi putih. Sementara yang dicicipi Trubus, di negeri Sakura, sangat manis tanpa sepat membekas di ujung lidah meski kulit tak berbedak.

Endemik Jepang

Rasa penasaran terjawab dalam perjalanan pulang menuju kota Tokyo.Berkali-kali terlihat pohon kesemek tumbuh di halaman-halaman rumah warga kota Iseseki. Pohon berbatang pendek dan bengkok-bengkok, serta banyak cabang dan daun berwarna hijau yang mengkilap ciri khasnya. Pohon kesemek juga dijumpai di halaman salah satu rumah berlantai 2 di kawasan Hiratsuka Shinagawa-ku, Tokyo. Pohon kaki tumbuh di halaman sempit yang lebarnya kira-kira 1 m. Tinggi pohon mencapai 2-3 m.

Anggota famili Ebenaceae itu tengah berbuah. Musim gugur adalah masanya kaki memamerkan buah. Buah yang berwarna jingga menyembul di antara hijaunya dedaunan. Perpaduan kedua warna itu membuat pohon terlihat indah menghiasi halaman rumah.

Menurut Yoshihiko Kimura, kolega Trubus di Tokyo, kaki lazim dikebunkan di halaman rumah warga Jepang. Maklum, buah samak-sebutan kesemek di Malaysia-buah endemik negeri yang berpenduduk 128-juta jiwa itu. Japanese persimon kaki-sebutan lainnya-salah satu komoditas ekspor yang melanglang ke berbagai negara seperti Singapura. Di sanalah buah kaki asal Jepang bersaing dengan kesemek asal Malaysia dan Israel. Sayang, saat Trubus berkunjung ke sana, tidak sempat menyaksikan perkebunan kesemek yang dibudidayakan secara intensif.

China juga salah satu produsen kesemek. Saat wartawan Trubus, Vina Fitriani, menyambangi kompleks Shenzen Splendid China di kota Shenzen, Provinsi Guangdong, China, pada awal Desember 2007, shizi-kesemek dalam bahasa China-ramai dijajakan. Harga buah segar 10RMB atau setara Rp12.500 per 3 buah. Kesemek juga dijajakan dalam bentuk manisan. Harganya 10RMB per 5 keping.

Junggo

Menurut Ir Baswarsiati MS, peneliti buah-buahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Indonesia sebetulnya memiliki varietas kesemek seperti yang Trubus saksikan di Jepang. Namanya kesemek junggo. Disebut demikian karena varietas itu hanya tumbuh di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Batu, Malang. Seperti halnya kesemek jepang, buah kesemek junggo matang juga berwarna jingga hingga kemerahan.

Sosok buahnya pun tak kalah bongsor. Diameter buah mencapai 10 cm dan berbobot 200-250 g/buah. Rasanya manis sedikit kelat. Kandungan gula 22,7-33,6%. Daging buah renyah saat dikunyah. Kualitas kesemek junggo lebih unggul dibandingkan dengan varietas lain asal Garut, Magetan, dan Malang. Karena keunggulannya itulah pada Juli 2005, junggo ditetapkan sebagai varietas unggul nasional.

Lalu, mengapa kesemek junggo sulit dijumpai di pasaran? ‘Karena yang berkualitas bagus seluruhnya diekspor,’ ujar Baswarsiati. Kesemek junggo memang telah melanglang ke berbagai negara seperti Singapura, Thailand, dan China sejak 30 tahun silam. Hingga kini aktivitas ekspor terus berjalan. Volume ekspor mencapai 30 ton/musim panen. Dengan harga jual Rp7.000/kg, nilai ekspor kesemek junggo mencapai Rp210-juta/musim panen. Hasil ekspor itu hanya dicicipi setiap April dan Mei. Pada kedua bulan itulah kesemek junggo berbuah lebat.

Sayangnya volume ekspor kesemek junggo relatif stabil dari waktu ke waktu karena pasokan terbatas. Maklum, kesemek junggo hanya tumbuh di Dusun Junggo yang berketinggian 1.300 m dpl. Ia adaptif di daerah beriklim sejuk, lembap, dan bercurah hujan tinggi. Beberapa tahun silam, varietas ini pernah dibudidayakan di lahan milik BPTP di Karangploso, Malang. Namun, keluarga eboni-ebonian itu malah mogok berbuah. ‘Mungkin kesemek bisa tumbuh di daerah Batu atau daerah lain yang karakternya hampir sama dengan daerah Junggo,’ kata Baswarsiati.

Kapur

Populasi kesemek junggo saat ini tersisa 50.000 pohon. Beberapa di antaranya ada yang berumur 100 tahun. Itu pun tidak dibudidayakan secara intensif, melainkan hanya ditanam di halaman rumah atau di pinggir-pinggir kebun apel. Meski dibutuhkan pasar ekspor, para pekebun enggan mengebunkan secara intensif. Musababnya, kesemek yang berasal dari bibit sambung atau tunas akar baru berbuah setelah berumur 7 tahun. Sedangkan apel hanya perlu waktu 3- 4 tahun.

Junggo yang diekspor semulus buah kaki yang Trubus cicipi di Jepang. Tak terlihat ‘bedak’ menyelimuti kulit. Untuk pasar ekspor para pekebun menggunakan larutan kalium hidroksida (KOH) berkadar 1% untuk menghilangkan sepat. Larutan itu diteteskan pada pangkal buah yang baru dipetik. Hasilnya, kadar pahit hanya tinggal 5%. Dengan menggunakan larutan ini penampilan buah tetap menarik. Sayang, segarnya kesemek junggo berkualitas justru populer di negeri seberang. (Imam Wiguna/Peliput: Nesia Artdiyasa dan Vina Fitriani)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img