Sunday, August 14, 2022

John Husyen : Samurai itu Indekos di Singapura

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kohaku, shusui, shiro, dan showa, jenis yang diindekoskan, kini sudah mencapai panjang 60 cm dari semula 20-30 cm. Mereka bahkan sudah menyandang prestasi besar. Saat beradu cantik di Singapore Koi Contest, beberapa dari ikan samurai itu didaulat menjadi juara kelas, seperti shiro utsurimono dan shusui. ‘Kalau dihitung-hitung sudah ada 20 piala yang direbut,’ ujar John.

Menginapkan koi di negara seluas Provinsi DKI Jakarta itu bukan untuk menaikkan gengsi. Sepetak kolam semen 5 m x 3 m yang dibangun di teras rumahnya di Makassar pada awal 2003 dianggap sudah tidak dapat menampung koi-koi yang didatangkan dari negeri Sakura itu. ‘Kolam di rumah yang sempit sudah berisi puluhan koi. Kalaupun dipaksakan pasti tumbuhnya tidak akan maksimal,’ kata pengusaha karoke itu.

Indekos menjadi jalan pintas terbaik bagi koi-koi Jepang itu. Singapura pun dipilih bukan tanpa sebab. John sebenarnya tetap ingin menaruh koi di Jepang. Namun, setelah ia menerima saran peternak di Hiroshima dan Niigata tentang hitung-hitungan biaya indekos koi di sana, ia dirujuk menaruh koinya di Singapura. ‘Singapura jaraknya juga dekat dan ongkos perawatan lebih murah,’ tutur kakek 1 cucu itu. Untuk biaya indekos John merogoh kocek Rp3-juta/bulan. Dibandingkan dengan di Jepang biaya itu hanya sekitar 40%.

Bangun kolam

Terpacu keterbatasan tempat itu mendorong John membeli tanah seluas 18 m x 25 m di samping rumahnya pada 2006. Tanah itu disulap menjadi 3 petak kolam berkedalaman 2,1 m dengan beragam ukuran: 6 m x 19 m, 5 m x 3 m, serta 2,5 m x 4 m. Antarkolam diberi batas dari bilah-bilah papan selebar 1 m yang ditaruh horizontal. Di bawah bilah papan itu terdapat sistem filterisasi kolam. John pun melindungi kolam dengan konstruksi atap plastik setinggi 10 m.

Bagi pencinta koi, air berkualitas menjadi harga mati. Itu sebabnya sistem filter yang dipakai John mengadopsi sistem filterisasi modern. Pada setiap kolam dibuat cekungan vortex dengan diameter bervariasi. Contohnya pada kolam 6 m x 19 m dibangun 3 vortex bergaris tengah 2 m. Di sana kotoran akan mengumpul untuk kemudian dipompa melewati pipa PVC berdiameter 6 cm masuk ke kotak filtermat. ‘Penyaring yang dipakai memang hanya filtermat, tapi tebalnya sampai 24 lapis,’ ujarnya.

Kolam itu diisi puluhan koi-koi impor Jepang, suhu air mendapat perhatian lebih. ‘Suhu penting untuk pertumbuhan, seperti di Jepang,’ katanya. Untuk itu suhu air dipatok 25°C. Agar tetap stabil, John memakai chiller berkekuatan 5 PK. Supaya hawa dingin yang diembuskan dari chiller dapat menyebar secara rata hingga ke dasar kolam, blower pun dipasang di salah satu sisi dalam kolam. Dengan blower, suhu 25°C terdistribusi merata.

Ke Jepang

Kesukaan John pada koi muncul saat koleganya memberi hadiah 8 kohaku berukuran 25 cm pada 2001. ‘Liukannya membuat hati saya tenang,’ ujar pemilik CV Artha Makmur Permai itu. Maklum kesibukan sebagai pengusaha membuatnya mudah stres. Niat menambah koleksi terbesit sejak itu. Sayang, di Makassar penjual koi berkualitas tidak banyak sehingga pilihan pun terbatas. Koleksi pertama yang dibeli justru didapat saat berkunjung ke pabrik kemeja di Malang. Di belakang pabrik sang empunya menaruh puluhan koi. ‘Saya beli 7 kohaku dan showa total seharga Rp25-juta,’ kata John.

Pilihan mencari hingga ke negeri leluhur koi, Jepang, muncul setelah kecewa mendapati 8 kohaku dan showa yang dibeli puluhan juta mandek tumbuhnya di ukuran panjang 55 cm. Padahal, ia diiming-iming koi impor itu dapat mencapai ukuran di atas 70 cm. Singapura menjadi tujuan pertama setelah mendapat informasi banyak koi berkualitas di sana. ‘Saya masih belum puas kualitasnya,’ ucapnya. Untuk itu Jepang menjadi sasaran berikutnya.

Tokyo, Hiroshima, hingga Niigata yang dikenal sebagai Blitarnya koi di Jepang dikunjungi. Tak hanya sekali dua kali ia datang. Dalam setahun minimal 3 kali John datang untuk melihat dan membeli ikan-ikan yang menurutnya bagus. ‘Tubuhnya harus proporsional, warna cerah, dan ukuran harus besar, di atas 50 cm,’ tambahnya.

Koi-koi itu tidak langsung dikirim ke Makassar, kecuali ukuran di atas 70 cm. ‘Kurang dari itu dipelihara di Singapura,’ katanya. Di negeri Singa itu menurut John pemberian pakan, pencegahan penyakit, hingga kebersihan kolam dapat lebih terjamin. Artinya pertumbuhan kerabat ikan mas itu bakal lebih cepat. Dari pengalaman, ukuran 40 cm sampai 50 cm dicapai dalam tempo 2 tahun. Pertambahan panjang serupa memakan waktu 2,5-3 tahun di kolamnya.

Juara kontes

Di blantika pencinta koi di Makassar nama John Husyen memang tengah naik daun. Tampak dari kemenangan-kemenangan yang diraih koi-koinya saat beradu cantik di lomba. Terakhir gelar grand champion 3th Makassar Koi Show 2007 diboyong kohaku di atas 70 cm miliknya. ‘Juri bilang koi umur 3 tahun ini mempunyai masa depan bagus,’ tuturnya.

Menyadari mutu koi di kota Angin Mamiri belum beranjak bagus, John belakangan mulai memberikan koi-koi impor ukuran di atas 60 cm sebagai induk pada peternak. ‘Saya berharap koi di sini (Makassar, red) dapat meningkat kualitasnya,’ kata John. Jadi saat itu tiba, John tak perlu mengindekos koinya di Singapura, tapi justru di tanah kelahirannya. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img