Potensi dan Tantangan Industri Rumput Laut di Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Dalam buku Profil Pasar Rumput Laut, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa Kappaphycus alvarezii mendominasi produksi rumput laut Indonesia, dengan total produksi mencapai 7,05 juta ton, atau sekitar 82,7% dari produksi dunia. Sementara itu, produksi Gracilaria sp. di Indonesia mencapai 1,91 juta ton, yang setara dengan 32,1% dari produksi dunia.

Menurut penelitian Nur Hidayat dan rekan dalam Jurnal Bisnis, Ekonomi Syariah, dan Pajak, pertumbuhan industri rumput laut di Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan dalam periode 2019—2024, dengan potensi besar bagi perekonomian nasional. Peningkatan permintaan global serta adopsi teknologi yang lebih canggih dalam budidaya dan pengolahan menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan industri ini.

Selain itu, upaya pemerintah dalam memperkuat regulasi dan dukungan kebijakan juga turut mendorong perkembangan industri rumput laut sebagai komoditas ekspor. Nur Hidayat dan rekan menekankan bahwa untuk mengoptimalkan industri ini, diperlukan peningkatan kualitas produksi dan ekspansi pasar. Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi langkah penting agar kualitas dan kuantitas rumput laut Indonesia semakin meningkat.

Tantangan dalam Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut

Meskipun industri rumput laut memiliki prospek yang menjanjikan, terdapat sejumlah tantangan dalam budidaya dan pengolahannya. Salah satu kendala utama adalah fluktuasi harga.

Akhmad Habibi, seorang pembudidaya rumput laut di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, mengungkapkan bahwa harga rumput laut dapat turun dengan cepat.

Pada panen terakhir Juli 2024, harga rumput laut hanya mencapai Rp4.000 per kg, jauh lebih rendah dibandingkan harga tertinggi yang bisa mencapai Rp7.000 per kg. Meskipun demikian, dengan harga Rp4.000 per kg, ia masih bisa memperoleh laba sekitar Rp2.000 per kg.

Selain harga yang tidak stabil, budidaya rumput laut juga merupakan pekerjaan yang cukup berat. Sudiatmika, seorang nelayan, menjelaskan bahwa saat memanen rumput laut, nelayan harus berhadapan dengan kondisi cuaca yang ekstrem.

“Setengah badan terpapar panas matahari, sedangkan bagian perut ke bawah dingin karena terendam air laut,” ujarnya.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Kopi Arabika Sridadi Brebes: Dari Cherry Rp10.000 ke Green Bean Rp165.000

Harga satu kilogram buah kopi arabika Sridadi Brebes atau coffee cherry di Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Provinsi...

More Articles Like This