Katimin pantas puas dengan hasil itu. Cucuran peluhnya saat menanam wijen yang digeluti selama 10 tahun, baru kali ini terbayar lunas. Pada 1996-2005 harga wijen tak beranjak dari Rp6.000 per kg. Bahkan panen setahun sebelumnya lebih rendah, Rp4.800- Rp5.500. Itu sebabnya, 200 pekebun lain di Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur, enggan menanam wijen lagi. ‘Sebab, kalau dihitung-hitung rugi. Lebih baik menanam jagung,’ kata ayah 2 anak itu.
Bagi Katimin wijen termasuk tanaman yang mudah dibudidayakan dan tak membutuhkan air maupun perhatian banyak. Makanya, walau harganya rendah, pada Juli-Desember, ia tetap menanam wijen. Beruntung, saat panen pada Desember pasokan berkurang sehingga harga biji tanaman anggota famili Pedaliaceae itu melambung. Banyak pengepul yang mencari dan membeli dengan harga tinggi. Itu diakui Sulastri, pengepul wijen di Sukomoro, Nganjuk. Jika tahun lalu, selama 3 bulan ia mendapat pasokan 30-40 ton, kini cuma 6 ton. Permintaan 100 ton asal Solo pun gagal ia penuhi.
Pasar mudah
Menurut Sumajo, pekebun di Sukomoro, Nganjuk, selain membutuhkan sedikit air, biaya produksi wijen juga murah. Ia mencangkul tanah dan membajak dengan traktor saat kemarau, lalu membentuk bedengan selebar 1,5 m. Setelah mendiamkan tanah selama sepekan, Sumajo memberikan 20 kg pupuk dasar TSP dan 20 kg Urea di setiap petak berukuran 1.666 m2. Selanjutnya ia menabur 1,5 kg benih untuk setiap petak. Biaya pembelian pupuk dan benih serta penyiraman tak lebih dari Rp1.350.000. Itu memang belum termasuk biaya pengolahan tanah yang biasanya dikerjakan sendiri.
Wijen dipanen setelah berumur 85-87 hari. Setiap hektar menghasilkan 1,5 ton wijen basah atau 1 ton wijen kering. Saat itulah para pengumpul berdatangan untuk membeli wijen. ‘Pengumpul jumlahnya banyak. di satu desa saja ada 3 orang,’ kata Katimin. Hal senada diungkapkan Sumajo. Wijen biasanya sudah dipesan oleh pengepul di Surakarta, Jawa Tengah. Produksi wijen dikumpulkan oleh makelar sebelum dikirim ke pengepul. ‘Saya hanya mendapat komisi sebesar 25% dari pengumpul. Jadi harga sepenuhnya ditetapkan pengumpul,’ kata Harsono, salah satu makelar.
Menurut Harsono, tingginya harga wijen di tingkat pekebun karena produksi menurun. Pada 2002, Harsono bisa memasok 2 ton per musim, pada 2003 (5 ton), 2004 (10 ton), dan 2005 pasokannya mencapai 20 ton dengan harga pekebun Rp6.000. Pada 2006, pasokannya stabil hingga 20 ton meski harganya Rp4.500-4.800/kg. Barulah setelah itu, tak ada yang menanam wijen lantaran harganya rendah, pasokan pun menurun. Menurut Sulastri sebenarnya pasokan tidak melebih permintaan. Namun, ‘Saya tidak tahu penyebab pasti harga turun,’ katanya.
Yang jelas harga itu ketetapan pedagang, sementara pekebun tak bisa menimbun wijen lantaran cepat tengik. Akibatnya, wijen harus tetap dijual walau harganya murah. ‘Sekarang harga tinggi tak cuma disebabkan jumlah pekebun yang sedikit, tapi juga produktivitasnya yang rendah karena cuaca,’ kata Katimin. Produktivitas wijen tidak stabil, kadang baik pada tahun tertentu, dan jelek pada tahun berikutnya. Produksi terbaik, bila musim kemarau lebih panjang.
Faktor lain yang mempengaruhi produktivitas adalah jenis. Pekebun di Dusun Ganggangmalang, Sukomoro, Nganjuk, banyak menanam wijen lokal yang berkolom 8, atau lebih dikenal dengan belimbing 8. Keunggulannya: setelah dipangkas hasilnya jauh lebih tinggi ketimbang pertanaman awal. Katimin pernah mencoba varietas sumberrejo I, produktivitasnya tinggi. Sayang, umurnya terlalu panjang dan rentan air.
Masih impor
Dengan semakin banyaknya pemanfaatan wijen untuk bahan pangan, industri kosmetik, dan farmasi permintaan minyak tanaman asal Ethiopia itu kian melonjak. ‘Banyak pengepul dan produsen minyak wijen bersedia menampung dalam jumlah besar,’ ujar Sulastri.
Sebut saja beberapa pengolahan minyak wijen di Surakarta dan pengolah geti, makanan tradisional di Surabaya, minimal membutuhkan 1.000 ton per bulan. Dawahir, produsen di Badran, Sukoharjo, Jawa Tengah, setiap hari membutuhkan minimal 50 kg wijen hitam untuk memproduksi 20 kg minyak. Satu kilo minyak wijen diperoleh dari 3 kag biji kering. Dawahir memilih wijen hitam dan berumur tua supaya rendemen minyaknya tinggi. Hasilnya ia jual langsung ke toko-toko penyedia kebutuhan sehari-hari Rp8.000 per botol isi 120 ml. Dalam sepekan, Dawahir menjual minimal 24 botol. Setelah dikurangi biaya pengolahan Rp3.000 per botol, ia mengantongi keuntungan Rp120.000.
Kurangnya pasokan biji untuk diproses menjadi minyak wijen, menyebabkan banyak industri makanan memilih impor. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia mengimpor wijen 3.722,472 ton. Pada 2002 impor melonjak, menjadi 4.383,102 ton; pada 2004, menurun menjadi 2.113,702 ton dengan harga Rp6.800 per kg. Sedangkan harga minyak wijen di pasaran dunia Rp11.500/kg. Indonesia mengimpor biji dan minyak wijen dari India, China, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Meski prospek mengebunkan wijen cerah, tetapi bukan berarti tanpa kendala. Phytophthora sp mengintai pekebun wijen. Penyakit itu membuat daun tanaman mengeriting, bercak batang dan buah, serta menimbulkan busuk akar. Gejala awal serangan penyakit: polong berwarna hijau kusam dan akhirnya menghitam. Bagian batang terserang menjadi cokelat, sedangkan biji buah kuning berbercak cokelat. ‘Cara pengendaliannya belum ditemukan, selain mencabut dan membuang tanaman kemudian dibakar agar tidak menulari tanaman lain,’ ujar Katimin.
Itulah yang menimpa Daryanto. Pada Agustus 2005 seluruh pertanamannya terserang Phytophthora sp, sehingga kualitas panennya menurun. Oleh sebab itu, Daryanto hanya bisa menjual wijennya dengan harga Rp2.000; normalnya, Rp5.000 per kg. Selain itu, curah hujan terlalu tinggi, wijen membusuk dan gagal dipanen.
Meski banyak kendala menghadang, itu tak menyurutkan langkah Katimin, Sumajo, dan Daryanto untuk terus memperluas penanaman. Sebab, mereka yakin harga wijen akan terus membaik dilihat dari banyaknya permintaan. Apalagi jika ingin mengurangi volume impor, peluang pasar masih terbentang. (Vina Fitriani/Peliput: Kiki Rizkika & Nesia Artdiyasa).
